<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>lover</title>
    <link>https://ceritafiksi.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Wed, 12 Aug 2026 11:08:43 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Ahay</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/ahay?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Ayo minta maaf, Nan, Jih.&#34;&#xA;&#xA;Hainan menatap Jihan lurus, sementara Jihan jelas membuang pandangannya sejauh mungkin. &#xA;&#xA;Keadaan ruangan berukuran 3 x 4 itu cukup panas, padahal cuaca desa seminggu terakhir selalu mendung, bahkan berkabut. Sudah dua jam mereka bersepuluh duduk di ruang tengah, namun tidak kunjung muncul penyelesaian. Tidak ada yang mau kalah dan tidak ada yang mau sudah. !--more--&#xA;&#xA;&#34;Nan, Jih, kita KKN tinggal seminggu lagi. Abis itu udah, kalian mau berantem cakar-cakaran terserah deh. Syukur-syukur kalau kalian baikan beneran. Aku cuma minta itu aja, kok. Jaga kestabilan kelompok kita sampai kita selesai KKN, udah itu aja.&#34; lirih Dito si ketua kelompok diikuti anggukan anggota lainnya.&#xA;&#xA;&#34;Lah, itu Jihannya aja ngga mau dengerin gue? Gue udah minta maaf, To.&#34;&#xA;&#xA;Dito menghela napas panjang. Berani bertaruh itu tarikan napas paling panjang yang dia ambil selama mereka tinggal bersama di pinggir kota Jogjakarta. &#xA;&#xA;&#34;Jih, yuk dengerin dulu penjelasan Inan. Inan juga mau tanggung jawab kok itu. Inan udah bilang dia akan pastiin logbook kamu aman, nilai KKN kamu aman. Udah ya, Jih? Aku sebagai ketua kelompok juga akan usahain nilai sempurna untuk seluruh anggota kelompok. Kita cari solusinya bareng-bareng ya, Jih? Mau kan?&#34;&#xA;&#xA;Jihan beranjak dari sofa, memilih kembali ke kamar. &#34;Yaudah. Demi kelompok.&#39;&#39;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Jiiih, hari ini nggak lupa kan reuni KKN? Dateng yaa jam tujuh, jangan telat.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya ini gue lagi absen pulang, bentar lagi gue ke sana yaa. Daah.&#34;&#xA;&#xA;Sudah dua tahun pasca kelulusan, baru kali ini mereka memutuskan untuk bertemu kembali dengan formasi lengkap. Lebih tepatnya, dipaksa lengkap. Dito mohon-mohon sekali kepada Faris dan Sandra si super sibuk untuk meluangkan waktunya demi acara reuni kali ini. Dito tidak ingin kehilangan momen untuk mengulang kembali hari-hari mereka sebelum ia menikah. &#xA;&#xA;&#34;GILAAA, pecah telor juga KKN Sleman ini. Congrats ya, To.&#34; seru Natya saat Dito mengeluarkan undangan dari tas.&#xA;&#xA;Yang disebut namanya tergelak. &#34;Doain doain, tapi dateng ya lu semua. Awas gak dateng sih.&#34;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Gue kebutin To dari Bekasi, demi lu doang.&#39;&#39; timpal Bayu. &#39;&#39;Eh, si Inan belom dateng?&#34;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Macet katanya. Kantornya di Rasuna Said kan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lah sama kayak lu, Jih?&#39;&#39; sahut Jefrian.&#xA;&#xA;Jihan mengangkat bahu secepat mungkin. Peduli amat. &#xA;&#xA;Nilai Kuliah Kerja Nyata-nya memang keluar sempurna. A bulat, sesuai janji Dito. Hainan juga berusaha membantunya mengisi logbook. Maaf-maafan juga sudah dilakukan di hari terakhir KKN, namun entah mengapa rasa kesal itu masih betah di diri Jihan. &#xA;&#xA;Ia meminimalisir hal-hal yang dapat membuatnya mengetahui kabar Hainan agar ia tak perlu susah payah menahan rasa kesal. Semua media sosial Hainan dibisukan oleh Jihan, ia juga hanya mau datang ke acara nongkrong teman KKN jika Hainan sedang tidak bisa hadir. Namun hari ini, ia mengikhlaskan dirinya untuk melihat Hainan lagi menggunakan mata kepalanya sendiri setelah tiga tahun lamanya. &#xA;&#xA;&#39;&#39;Sorry-sorry, tadi mobil gue ketutupan orang di parkiran kantor, gak bisa keluar. Jadi ngaret kan.&#39;&#39; &#xA;&#xA;Itu dia. &#xA;&#xA;Lelaki dengan kemeja hitamnya itu menyalami satu persatu manusia yang hadir dengan gayanya yang tengil, masih sama seperti 2 tahun lalu. Jihan mati-matian berusaha tidak terlihat canggung. Sayang seribu sayang, Alina menyadari hal itu. Tangannya pelan mengelus lengan Jihan seraya berbisik bahwa semua akan baik-baik saja. &#xA;&#xA;&#39;&#39;Jih, udah lama.&#39;&#39; Tangan itu berada di depan wajah Jihan, menunggu disambut oleh yang punya.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Eh. Iya.&#39;&#39; Jihan menyambut tangannya. Dingin.&#xA;&#xA;Laki-laki itu duduk di serong kanan Jihan. Entah apa yang ada di kepala Jihan, namun ada sesuatu yang membuat dirinya ingin melihat laki-laki itu lagi dan lagi. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#39;&#39;Dateng ya jangan lupa. Dateng. D A T E N G.&#34; seru Dito dari balik jendela mobil. Tangannya menunjuk teman-temannya satu-persatu.&#xA;&#xA;Sisanya tertawa-tawa, menyanggupi permintaan teman yang pernah memimpin segala kegiatan mereka selama 45 hari lamanya. Acara reuni kecil-kecilan itu berakhir di jam 11 malam, mungkin bisa berlanjut hingga tengah malam jika Sarah tidak ditelfon oleh pacarnya yang ekstra posesif. Ah, teman yang satu itu sungguh malang.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Balik... sama siapa?&#34; sebuah suara memecah keheningan saat Jihan berjibaku dengan aplikasi ojek onlinenya.&#xA;&#xA;&#34;G-gocar, sih.&#34; wanita itu menjawab lugas.&#xA;&#xA;&#34;Gue anter aja. Gimana?&#34;&#xA;&#xA;Jihan mengangkat kepalanya, menengok ke kanan kiri. Hanya tersisa Sandra, Bayu, dan tentu saja Hainan di parkiran kafe itu. Ia mati gaya. Jelas ia tidak bisa berbohong untuk pulang bersama Sandra maupun Bayu, dua orang itu mutlak berlawanan arah pulang dengan Jihan.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Gapapa, Nan. Naik gocar aja.&#39;&#39; jawab Jihan lagi.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Udah malem. Lagian searah juga. Ya nggak, Bay, San?&#34; Hainan meminta dukungan Bayu dan Sandra. Yang ditanya tentunya mengangguk mengiyakan.&#xA;&#xA;&#34;Jih, balik sama Inan aja. Udah jam segini juga ngeri kalo lu sendirian naik taksi online.&#39;&#39; bujuk Sandra. &#xA;&#xA;Dalam hati Jihan pun ia setuju dengan perkataan Sandra, toh jika tawaran ini datang dari siapapun-selain Hainan, ia pasti tanpa babibu menyetujuinya. &#xA;&#xA;&#34;Mau kan?&#39;&#39; tanya Hainan lagi. Jihan mengangguk.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Duluan ya, San, Bay. Hati-hati loh.&#39;&#39; &#xA;&#xA;Jihan membuka pintu penumpang dengan penuh keraguan. Apakah ini keputusan yang tepat?&#xA;&#xA;&#39;&#39;Nan, ini gue taro belakang atau gue dudukin aja?&#39;&#39; tanya Jihan sesaat membuka pintu penumpang. Berantakan dengan barang, khas anak laki-laki yang hidupnya diburu waktu.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Eh, bentar gue beresin.&#39;&#39; Hainan meletakkan—lebih tepatnya melempar barang-barang ke jok belakang. &#39;&#39;Dah, boleh duduk sekarang.&#39;&#39;&#xA;&#xA;&#34;Makasih.&#39;&#39;&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;Satu menit.&#xA;&#xA;Dua menit. &#xA;&#xA;Ini bukan tahun 2021 di sebuah rumah di Sleman, ini bukan hari di mana Hainan tidak sengaja menghapus seluruh dokumentasi proker Jihan, bukan juga hari di mana mereka duduk bersebrangan dan saling membuang muka ketika pelepasan tiba, namun entah mengapa masih berat rasanya bagi mereka berdua untuk berbicara lagi. &#xA;&#xA;Hainan akui kesalahan Hainan fatal. Proker gagasan Jihan yang sudah dirancang berminggu-minggu, sudah digagas sedemikian rupa, hilang bukti-buktinya dalam hitungan detik. Hainan panik bukan main saat itu, segala cara sudah ia lakukan, namun hasilnya semakin buruk. Foto tersebut corrupt saat berusaha direcover. &#xA;&#xA;&#34;Masih lucu aja lu, Jih.&#39;&#39;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Hah?&#39;&#39;&#xA;&#xA;Dari sekian banyak kalimat yang bisa Hainan ucapkan, entah mengapa yang keluar dari mulutnya adalah sebuah pujian.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Itu, anu, bercandaan lu masih lucu aja.&#39;&#39;&#xA;&#xA;Haduh, batin Hainan. Salah langkah.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Iya lah. Mana pernah gue garing.&#39;&#39;&#xA;&#xA;Hening lagi.&#xA;&#xA;Tangan Hainan bergegas menekan lagu secara acak di handphonenya. Entah lagu apa yang terpilih, Hainan harap keheningan ini pecah meledak hingga ke dasar-dasarnya.&#xA;&#xA;Yang di kursi penumpang tentu tidak kalah canggungnya, berpura-pura mencari sesuatu yang tidak terlalu ia butuhkan di tasnya. Tidak. Tidak mungkin gincu. Itu membutuhkan cahaya yang cukup terang. Minyak angin? Jihan sedang tidak berada di Puncak Pass. &#xA;&#xA;Ah, gumam Jihan. Sebuah pelembab tangan. Benar-benar gimmick yang cocok untuk suasana senyap di mobil suhunya lebih mirip kulkas swalayan.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Masih belum bisa dimaafin ya gue, Jih?&#34; tanya Hainan tiba-tiba setelah memberhentikan mobilnya di lampu merah.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Hah?&#34;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Diomongin yuk, Jih? Udah dua tahun. Masa iya kita masih diem-dieman gini?&#34;&#xA;&#xA;Jihan menelan ludah. Ia sudah tahu cepat atau lambat pasti percakapan ini akan tiba. Jihan tahu lelaki di sebelahnya pasti setengah mati berusaha mengucapkan kalimat di ujung lidahnya.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Sekarang kan udah bisa diomongin pake kepala dingin, dingin banget malah, boleh dong tolong jelasin seberapa bencinya lu ke gue?&#34; laki-laki itu bersuara kembali.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Ng-ngga gitu, Nan.&#39;&#39;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Terus, gimana? Jelasin aja nggak apa-apa. Gue nggak akan nurunin lu kok, kalo lu masih kesel sama gue.&#39;&#39; &#xA;&#xA;&#39;&#39;Hmmm..&#39;&#39;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Gimana, Jihan?&#39;&#39; &#xA;&#xA;Perempuan itu dapat melihat bagaimana si laki-laki memiringkan kepalanya ke sebelah kanan agar dapat melihat wajah si perempuan lebih jelas. Semburat merah dari pantulan lampu lalu lintas jatuh di wajah si laki-laki dengan amat indah, membuat perempuan itu semakin gelagapan.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Gue nggak pernah benci, Inan. Gue cuma hmm.. apa ya? Malu mungkin karena udah sengambek itu sama lu, udah ngerepotin satu kelompok juga. Padahal mah habis itu lu tetep bantuin ngisi logbook, nilai gue juga tetep A, tapi gue udah kepalang malu.&#39;&#39; jelas Jihan cepat.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Padahal nggak apa-apa, Jih. Itu emang salah gue, kok.&#39;&#39; lelaki itu menekan pedal gas perlahan. &#39;&#39;Toh, kalo semisal kejadian itu terjadi pada gue, gue juga akan punya reaksi yang sama dengan lu. Valid kok perasaan lu.&#39;&#39;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Ya, kan? Pasti lu marah juga, kan, Nan?&#34;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Iya marah, tapi nggak akan sampe dua tahun.&#39;&#39;&#xA;&#xA;&#34;Maaf, Nan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue yang minta maaf.&#34;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Ya gue juga, lah?&#34;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Berarti kalo KKN ngumpul lagi terus ada gue, lu mau ikut, nih?&#39;&#39;&#xA;&#xA;Gelak tawa pertama terlepas sudah di kulkas swalayan berjalan itu. Sudah tidak begitu dingin, sudah pecah sampai dasar-dasarnya. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;~Hainan&#xA;Gue udah sampe&#xA;&#xA;                                                        Salsabila Jihan&#xA;                                                         kok ngabarin&#xA;&#xA;~Hainan&#xA;Fyi aja&#xA;&#xA;                                                        Salsabila Jihan&#xA;                                                         ok, good&#xA;                                                         makasih udah ditebengin sampe &#xA;                                                         rumah&#xA;&#xA;~Hainan&#xA;Yaya&#xA;Unmute gue dong jih&#xA;&#xA;                                                        Salsabila Jihan&#xA;                                                         iya&#xA;                                                         &#xA;~Hainan&#xA;Nomor gue disave jg&#xA;&#xA;                                                        Salsabila Jihan&#xA;                                                         iya nan&#xA;                                                         /send a picture&#xA;                                                         udah&#xA;Hainan Rese&#xA;Kok hainan rese sih&#xA;Hainan satya&#xA;Segitunya lu lupa sama gue&#xA;&#xA;                                                        Salsabila Jihan&#xA;                                                        tidur nan&#xA;                                                         &#xA;Hainan Rese&#xA;Wkwkwk ok&#xA;&#xA;Lampu kamar Jihan sudah benar-benar gelap. Mungkin di hitungan ke dua puluh ia sudah masuk ke alam mimpi. Hari ini cukup melelahkan baginya.&#xA;&#xA;Hainan Rese&#xA;Bsk berangkat bareng mau gak&#xA;Kita satu gedung kantor&#xA;Wkwk&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Asik, ada yang berangkat sama cowo nih.&#34; seru Arfael sembari menaruh tasnya di kubikelnya. Suara besarnya membuat seisi ruangan bertanya-tanya sambil melirik ke kubikel-kubikel lain, memeriksa siapa saja yang sudah datang.&#xA;&#xA;&#34;Siapa, El?&#34; sahut Ruri.&#xA;&#xA;&#34;Coba tanya sama yang lagi pake baju merah.&#34;&#xA;&#xA;Ruri dan enam orang lainnya serentak menengok ke arah Jihan yang sedang mengisi air minum. &#xA;&#xA;haechan jihan satu kelompok kkn terus dua-duanya tuh awalnya deket waktu kkn, tapi suatu hari haechan sama jihan miskom yang menyebabkan proker jihan ancur. sampe selesai kkn mereka marahan, bahkan sampe lulus. cuma mereka ketemu lagi di kerjaan yang mengharuskan mereka akur, terus yaudah ciuman&#xA;&#xA;Jihan / Salsabila Jihan&#xA;Hainan / Hainan Satya R&#xA;Dito / Pandito Prabu Kusuma&#xA;Faris / Febrian Alfarisy&#xA;Sandra / Sandra Rosea&#xA;Bayu / Bayu Aprilio &#xA;Jefrian / Jefrian Hanendra&#xA;Natya / Anatya Amarani&#xA;Alina / Faulina Nadya &#xA;10. Sarah / Sarah Sagitantri]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Ayo minta maaf, Nan, Jih.”</p>

<p>Hainan menatap Jihan lurus, sementara Jihan jelas membuang pandangannya sejauh mungkin.</p>

<p>Keadaan ruangan berukuran 3 x 4 itu cukup panas, padahal cuaca desa seminggu terakhir selalu mendung, bahkan berkabut. Sudah dua jam mereka bersepuluh duduk di ruang tengah, namun tidak kunjung muncul penyelesaian. Tidak ada yang mau kalah dan tidak ada yang mau sudah. </p>

<p>“Nan, Jih, kita KKN tinggal seminggu lagi. Abis itu udah, kalian mau berantem cakar-cakaran terserah deh. Syukur-syukur kalau kalian baikan beneran. Aku cuma minta itu aja, kok. Jaga kestabilan kelompok kita sampai kita selesai KKN, udah itu aja.” lirih Dito si ketua kelompok diikuti anggukan anggota lainnya.</p>

<p>“Lah, itu Jihannya aja ngga mau dengerin gue? Gue udah minta maaf, To.”</p>

<p>Dito menghela napas panjang. Berani bertaruh itu tarikan napas paling panjang yang dia ambil selama mereka tinggal bersama di pinggir kota Jogjakarta.</p>

<p>“Jih, yuk dengerin dulu penjelasan Inan. Inan juga mau tanggung jawab kok itu. Inan udah bilang dia akan pastiin <em>logbook</em> kamu aman, nilai KKN kamu aman. Udah ya, Jih? Aku sebagai ketua kelompok juga akan usahain nilai sempurna untuk seluruh anggota kelompok. Kita cari solusinya bareng-bareng ya, Jih? Mau kan?”</p>

<p>Jihan beranjak dari sofa, memilih kembali ke kamar. “Yaudah. Demi kelompok.&#39;&#39;</p>

<hr/>

<p>“Jiiih, hari ini nggak lupa kan reuni KKN? Dateng yaa jam tujuh, jangan telat.”</p>

<p>“Iya ini gue lagi absen pulang, bentar lagi gue ke sana yaa. Daah.”</p>

<p>Sudah dua tahun pasca kelulusan, baru kali ini mereka memutuskan untuk bertemu kembali dengan formasi lengkap. Lebih tepatnya, dipaksa lengkap. Dito mohon-mohon sekali kepada Faris dan Sandra si super sibuk untuk meluangkan waktunya demi acara reuni kali ini. Dito tidak ingin kehilangan momen untuk mengulang kembali hari-hari mereka sebelum ia menikah.</p>

<p>“GILAAA, pecah telor juga KKN Sleman ini. <em>Congrats</em> ya, To.” seru Natya saat Dito mengeluarkan undangan dari tas.</p>

<p>Yang disebut namanya tergelak. “Doain doain, tapi dateng ya lu semua. Awas gak dateng sih.”</p>

<p>&#39;&#39;Gue kebutin To dari Bekasi, demi lu doang.&#39;&#39; timpal Bayu. &#39;&#39;Eh, si Inan belom dateng?”</p>

<p>&#39;&#39;Macet katanya. Kantornya di Rasuna Said kan.”</p>

<p>“Lah sama kayak lu, Jih?&#39;&#39; sahut Jefrian.</p>

<p>Jihan mengangkat bahu secepat mungkin. Peduli amat.</p>

<p>Nilai Kuliah Kerja Nyata-nya memang keluar sempurna. A bulat, sesuai janji Dito. Hainan juga berusaha membantunya mengisi logbook. Maaf-maafan juga sudah dilakukan di hari terakhir KKN, namun entah mengapa rasa kesal itu masih betah di diri Jihan.</p>

<p>Ia meminimalisir hal-hal yang dapat membuatnya mengetahui kabar Hainan agar ia tak perlu susah payah menahan rasa kesal. Semua media sosial Hainan dibisukan oleh Jihan, ia juga hanya mau datang ke acara nongkrong teman KKN jika Hainan sedang tidak bisa hadir. Namun hari ini, ia mengikhlaskan dirinya untuk melihat Hainan lagi menggunakan mata kepalanya sendiri setelah tiga tahun lamanya.</p>

<p>&#39;&#39;<em>Sorry-sorry</em>, tadi mobil gue ketutupan orang di parkiran kantor, gak bisa keluar. Jadi ngaret kan.&#39;&#39;</p>

<p>Itu dia.</p>

<p>Lelaki dengan kemeja hitamnya itu menyalami satu persatu manusia yang hadir dengan gayanya yang tengil, masih sama seperti 2 tahun lalu. Jihan mati-matian berusaha tidak terlihat canggung. Sayang seribu sayang, Alina menyadari hal itu. Tangannya pelan mengelus lengan Jihan seraya berbisik bahwa semua akan baik-baik saja.</p>

<p>&#39;&#39;Jih, udah lama.&#39;&#39; Tangan itu berada di depan wajah Jihan, menunggu disambut oleh yang punya.</p>

<p>&#39;&#39;Eh. Iya.&#39;&#39; Jihan menyambut tangannya. Dingin.</p>

<p>Laki-laki itu duduk di serong kanan Jihan. Entah apa yang ada di kepala Jihan, namun ada sesuatu yang membuat dirinya ingin melihat laki-laki itu lagi dan lagi.</p>

<hr/>

<p>&#39;&#39;Dateng ya jangan lupa. Dateng. D A T E N G.” seru Dito dari balik jendela mobil. Tangannya menunjuk teman-temannya satu-persatu.</p>

<p>Sisanya tertawa-tawa, menyanggupi permintaan teman yang pernah memimpin segala kegiatan mereka selama 45 hari lamanya. Acara reuni kecil-kecilan itu berakhir di jam 11 malam, mungkin bisa berlanjut hingga tengah malam jika Sarah tidak ditelfon oleh pacarnya yang ekstra posesif. Ah, teman yang satu itu sungguh malang.</p>

<p>&#39;&#39;Balik... sama siapa?” sebuah suara memecah keheningan saat Jihan berjibaku dengan aplikasi ojek <em>online</em>nya.</p>

<p>“G-<em>gocar</em>, sih.” wanita itu menjawab lugas.</p>

<p>“Gue anter aja. Gimana?”</p>

<p>Jihan mengangkat kepalanya, menengok ke kanan kiri. Hanya tersisa Sandra, Bayu, dan tentu saja Hainan di parkiran kafe itu. Ia mati gaya. Jelas ia tidak bisa berbohong untuk pulang bersama Sandra maupun Bayu, dua orang itu mutlak berlawanan arah pulang dengan Jihan.</p>

<p>&#39;&#39;Gapapa, Nan. Naik <em>gocar</em> aja.&#39;&#39; jawab Jihan lagi.</p>

<p>&#39;&#39;Udah malem. Lagian searah juga. Ya nggak, Bay, San?” Hainan meminta dukungan Bayu dan Sandra. Yang ditanya tentunya mengangguk mengiyakan.</p>

<p>“Jih, balik sama Inan aja. Udah jam segini juga ngeri kalo lu sendirian naik taksi <em>online</em>.&#39;&#39; bujuk Sandra.</p>

<p>Dalam hati Jihan pun ia setuju dengan perkataan Sandra, toh jika tawaran ini datang dari siapapun-selain Hainan, ia pasti tanpa babibu menyetujuinya.</p>

<p>“Mau kan?&#39;&#39; tanya Hainan lagi. Jihan mengangguk.</p>

<p>&#39;&#39;Duluan ya, San, Bay. Hati-hati loh.&#39;&#39;</p>

<p>Jihan membuka pintu penumpang dengan penuh keraguan. Apakah ini keputusan yang tepat?</p>

<p>&#39;&#39;Nan, ini gue taro belakang atau gue dudukin aja?&#39;&#39; tanya Jihan sesaat membuka pintu penumpang. Berantakan dengan barang, khas anak laki-laki yang hidupnya diburu waktu.</p>

<p>&#39;&#39;Eh, bentar gue beresin.&#39;&#39; Hainan meletakkan—lebih tepatnya melempar barang-barang ke jok belakang. &#39;&#39;Dah, boleh duduk sekarang.&#39;&#39;</p>

<p>“Makasih.&#39;&#39;</p>

<p>Hening.</p>

<p>Satu menit.</p>

<p>Dua menit.</p>

<p>Ini bukan tahun 2021 di sebuah rumah di Sleman, ini bukan hari di mana Hainan tidak sengaja menghapus seluruh dokumentasi proker Jihan, bukan juga hari di mana mereka duduk bersebrangan dan saling membuang muka ketika pelepasan tiba, namun entah mengapa masih berat rasanya bagi mereka berdua untuk berbicara lagi.</p>

<p>Hainan akui kesalahan Hainan fatal. Proker gagasan Jihan yang sudah dirancang berminggu-minggu, sudah digagas sedemikian rupa, hilang bukti-buktinya dalam hitungan detik. Hainan panik bukan main saat itu, segala cara sudah ia lakukan, namun hasilnya semakin buruk. Foto tersebut <em>corrupt</em> saat berusaha di<em>recover</em>.</p>

<p>“Masih lucu aja lu, Jih.&#39;&#39;</p>

<p>&#39;&#39;Hah?&#39;&#39;</p>

<p>Dari sekian banyak kalimat yang bisa Hainan ucapkan, entah mengapa yang keluar dari mulutnya adalah sebuah pujian.</p>

<p>&#39;&#39;Itu, anu, bercandaan lu masih lucu aja.&#39;&#39;</p>

<p><em>Haduh</em>, batin Hainan. Salah langkah.</p>

<p>&#39;&#39;Iya lah. Mana pernah gue garing.&#39;&#39;</p>

<p>Hening lagi.</p>

<p>Tangan Hainan bergegas menekan lagu secara acak di <em>handphone</em>nya. Entah lagu apa yang terpilih, Hainan harap keheningan ini pecah meledak hingga ke dasar-dasarnya.</p>

<p>Yang di kursi penumpang tentu tidak kalah canggungnya, berpura-pura mencari sesuatu yang tidak terlalu ia butuhkan di tasnya. Tidak. Tidak mungkin gincu. Itu membutuhkan cahaya yang cukup terang. Minyak angin? Jihan sedang tidak berada di Puncak Pass.</p>

<p><em>Ah</em>, gumam Jihan. Sebuah pelembab tangan. Benar-benar <em>gimmick</em> yang cocok untuk suasana senyap di mobil suhunya lebih mirip kulkas swalayan.</p>

<p>&#39;&#39;Masih belum bisa dimaafin ya gue, Jih?” tanya Hainan tiba-tiba setelah memberhentikan mobilnya di lampu merah.</p>

<p>&#39;&#39;Hah?”</p>

<p>&#39;&#39;Diomongin yuk, Jih? Udah dua tahun. Masa iya kita masih diem-dieman gini?”</p>

<p>Jihan menelan ludah. Ia sudah tahu cepat atau lambat pasti percakapan ini akan tiba. Jihan tahu lelaki di sebelahnya pasti setengah mati berusaha mengucapkan kalimat di ujung lidahnya.</p>

<p>&#39;&#39;Sekarang kan udah bisa diomongin pake kepala dingin, dingin banget malah, boleh dong tolong jelasin seberapa bencinya lu ke gue?” laki-laki itu bersuara kembali.</p>

<p>&#39;&#39;Ng-ngga gitu, Nan.&#39;&#39;</p>

<p>&#39;&#39;Terus, gimana? Jelasin aja nggak apa-apa. Gue nggak akan nurunin lu kok, kalo lu masih kesel sama gue.&#39;&#39;</p>

<p>&#39;&#39;Hmmm..&#39;&#39;</p>

<p>&#39;&#39;Gimana, Jihan?&#39;&#39;</p>

<p>Perempuan itu dapat melihat bagaimana si laki-laki memiringkan kepalanya ke sebelah kanan agar dapat melihat wajah si perempuan lebih jelas. Semburat merah dari pantulan lampu lalu lintas jatuh di wajah si laki-laki dengan amat indah, membuat perempuan itu semakin gelagapan.</p>

<p>&#39;&#39;Gue nggak pernah benci, Inan. Gue cuma hmm.. apa ya? Malu mungkin karena udah sengambek itu sama lu, udah ngerepotin satu kelompok juga. Padahal mah habis itu lu tetep bantuin ngisi <em>logbook</em>, nilai gue juga tetep A, tapi gue udah kepalang malu.&#39;&#39; jelas Jihan cepat.</p>

<p>&#39;&#39;Padahal nggak apa-apa, Jih. Itu emang salah gue, kok.&#39;&#39; lelaki itu menekan pedal gas perlahan. &#39;&#39;Toh, kalo semisal kejadian itu terjadi pada gue, gue juga akan punya reaksi yang sama dengan lu. Valid kok perasaan lu.&#39;&#39;</p>

<p>&#39;&#39;Ya, kan? Pasti lu marah juga, kan, Nan?”</p>

<p>&#39;&#39;Iya marah, tapi nggak akan sampe dua tahun.&#39;&#39;</p>

<p>“Maaf, Nan.”</p>

<p>“Gue yang minta maaf.”</p>

<p>&#39;&#39;Ya gue juga, lah?”</p>

<p>&#39;&#39;Berarti kalo KKN ngumpul lagi terus ada gue, lu mau ikut, nih?&#39;&#39;</p>

<p>Gelak tawa pertama terlepas sudah di kulkas swalayan berjalan itu. Sudah tidak begitu dingin, sudah pecah sampai dasar-dasarnya.</p>

<hr/>

<p><strong>~Hainan</strong>
Gue udah sampe</p>

<p>                                                        <strong>Salsabila Jihan</strong>
                                                         kok ngabarin</p>

<p><strong>~Hainan</strong>
Fyi aja</p>

<p>                                                        <strong>Salsabila Jihan</strong>
                                                         ok, good
                                                         makasih udah ditebengin sampe
                                                         rumah</p>

<p><strong>~Hainan</strong>
Yaya
Unmute gue dong jih</p>

<p>                                                        <strong>Salsabila Jihan</strong>
                                                         iya</p>

<p><strong>~Hainan</strong>
Nomor gue di<em>save</em> jg</p>

<p>                                                        <strong>Salsabila Jihan</strong>
                                                         iya nan
                                                         /<em>send a picture</em>
                                                         udah
<strong>Hainan Rese</strong>
Kok hainan rese sih
Hainan satya
Segitunya lu lupa sama gue</p>

<p>                                                        <strong>Salsabila Jihan</strong>
                                                        tidur nan</p>

<p><strong>Hainan Rese</strong>
Wkwkwk ok</p>

<p>Lampu kamar Jihan sudah benar-benar gelap. Mungkin di hitungan ke dua puluh ia sudah masuk ke alam mimpi. Hari ini cukup melelahkan baginya.</p>

<p><strong>Hainan Rese</strong>
Bsk berangkat bareng mau gak
Kita satu gedung kantor
Wkwk</p>

<hr/>

<p>“Asik, ada yang berangkat sama cowo nih.” seru Arfael sembari menaruh tasnya di kubikelnya. Suara besarnya membuat seisi ruangan bertanya-tanya sambil melirik ke kubikel-kubikel lain, memeriksa siapa saja yang sudah datang.</p>

<p>“Siapa, El?” sahut Ruri.</p>

<p>“Coba tanya sama yang lagi pake baju merah.”</p>

<p>Ruri dan enam orang lainnya serentak menengok ke arah Jihan yang sedang mengisi air minum.</p>

<p>haechan jihan satu kelompok kkn terus dua-duanya tuh awalnya deket waktu kkn, tapi suatu hari haechan sama jihan miskom yang menyebabkan proker jihan ancur. sampe selesai kkn mereka marahan, bahkan sampe lulus. cuma mereka ketemu lagi di kerjaan yang mengharuskan mereka akur, terus yaudah ciuman</p>
<ol><li>Jihan / Salsabila Jihan</li>
<li>Hainan / Hainan Satya R</li>
<li>Dito / Pandito Prabu Kusuma</li>
<li>Faris / Febrian Alfarisy</li>
<li>Sandra / Sandra Rosea</li>
<li>Bayu / Bayu Aprilio</li>
<li>Jefrian / Jefrian Hanendra</li>
<li>Natya / Anatya Amarani</li>
<li>Alina / Faulina Nadya</li>
<li>Sarah / Sarah Sagitantri</li></ol>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/ahay</guid>
      <pubDate>Mon, 17 Jul 2023 18:14:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Anak SMA</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/anak-sma?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Ngga bisa gitu, El. Agenda marah-marah di ospek kita tuh bukan agenda utama. Jujur gue sendiri kurang suka sama adanya sesi marah-marah di ospek, yang tanpa sebab ya. Kesannya jadi kayak bales dendam doang karena kita dulu juga digituin sama kakak kelas kita.&#34; &#xA;&#xA;Suara Abas menggema di rapat besar OSIS diikuti dengan beberapa anggukan anggota OSIS. Matanya tajam menatap ke arah Arfael yang tampaknya mulai emosi. Perdebatan antara ketua OSIS dan ketua pelaksana ospek ini bukanlah kali pertama, namun bukan juga yang paling fantastis. Beberapa anggota meyakini bahwa Abas dan Arfael masih bisa berdebat lebih fantastis lagi di kemudian hari.&#xA;!--more--&#xA;&#34;Adek kelas kita bisa aja jadi ngga sopan Bas kalo ngga dikerasin.&#34; sahut Arfael. &#34;Lo liat lah sekolah sebelah, tahun kemaren ospeknya ngga diomelin, eh utasnya malah nyolot.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apa bedanya sama senioritas kalo kayak gitu?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Jelas beda lah. Senioritas kan emang pengen nindas aja, kalo ospek kan emang agendanya membentuk karakter murid-murid baru. Lagian abis ospek juga biasanya kita maaf-maafan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Membentuk karakter ngga harus dengan marah-marah, El.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ya apa terus? Lo mau ngisi acara lo cuma pake sambutan-sambutan dari guru? Materi-materi? Basi, Bas. Acara lo bakal jadi acara ospek paling basi!&#34;&#xA;&#xA;Arfael kini berada di puncak emosi, sementara Abas masih bersikap datar dengan kepala dinginnya. Ia benar-benar pandai mengatur emosinya, tidak melulu meledak-ledak namun mampu mempermainkan emosi lawannya.&#xA;&#xA;&#34;Voting aja, El. Tanya anggota lain maunya kayak gimana.&#34; kata Abas. &#34;Gue yakin sih yang lain udah baca proposal, ngga kayak lo, sampe bisa bilang acara ospek gue basi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Deal.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Kamu hari ini jadi konsul matematika?&#34; &#xA;&#xA;Abas menggeleng. &#34;Ngga ah, pusing. Besok aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yaudah langsung pulang aja kalo gitu ya.&#34; &#xA;&#xA;Lagi-lagi Abas menggeleng, kali ini dibarengi dengan tangannya yang mengamit tangan gadisnya agar berada di sisi kirinya. &#34;Makan es campur, yuk? Mau ngga?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo pusing mah pulang, Bas..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jadi ngga mau nih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh, mau.&#34; ujar si gadis pelan.&#xA;&#xA;&#34;Nah gitu dong.&#34; &#xA;&#xA;Si lelaki anak-baru-gede memberhentikan angkot dengan tangan kanannya, lalu mempersilakan gadisnya untuk naik terlebih dahulu, tidak lupa menyuruh gadisnya agar tidak duduk terlalu dekat dengan pintu. &#xA;&#xA;Ah, iya. Dua sejoli ini memang masih naik angkutan umum kemana-mana. Si lelaki belum genap tujuh belas tahun, belum punya surat izin mengemudi. Yaaa, walau kadang Abas kabita, membayangkan rasanya menyusuri jalanan kota sambil berboncengan, ia harus tetap sabar. Lagipula, ia masih belum memiliki kendaraan. Ia hanya pernah beberapa kali menggunakan motor Hafidz jika Maya meminta bantuan untuk membelikan sesuatu di warung dekat komplek. &#xA;&#xA;Walau kesannya terasa cupu karena sudah kelas dua belas dan tidak membawa kendaraan, Abas tetap bangga (bahkan sedikit jumawa), sebab:&#xA;Dirinya mengikuti aturan bahwa seseorang hanya boleh mengemudikan kendaraan apabila sudah memiliki Surat Izin Mengemudi yang sesuai dengan jenis kendaraannya.&#xA;Hanya dirinya yang dapat membawa gadisnya (yang sangat cantik) makan es campur sepulang sekolah.&#xA;&#xA;Abas bukan sekali-dua kali membawa gadisnya ke kedai es campur langganannya, bahkan bisa dibilang hal ini rutin ia lakukan tiap minggunya. Si gadis juga tak pernah protes atau menolak jika mereka berakhir menyantap es campur dengan berbagai gorengan, atau lebih tepatnya, si gadis akan selalu bahagia kemanapun perginya selama masih bersama Abas. &#xA;&#xA;&#34;Jalannya ke es campur mulu, ngga punya duit ye lu?&#34;&#xA;&#xA;Pernah suatu kali ia mendengar celetukan itu dari temannya. Abas hanya tertawa, ia anggap itu bercanda walaupun memang benar adanya, Abas tidak punya uang. Lah bener, aku kan belom kerja jadi ngga punya uang. Ini mah uang kakak-kakak aku, begitu kata Abas ketika gadisnya bertanya mengapa respon Abas hanya tertawa.&#xA;&#xA;Kedai es campur itu punya cerita, punya andil besar dalam kisah cinta Abas. &#xA;&#xA;Hmm, tebakan kalian salah jika kalian menebak Abas dan gadisnya pertama kali bertemu di kedai es campur. Pasalnya, hari itu adalah entah pertemuan keberapa dengan gadisnya. Toh, pada kala itu mereka sehari-hari selalu bertemu di rapat kepanitiaan atau sekadar berpapasan di koridor sekolah. Namun, pertemuan hari itu benar-benar membuat Abas penasaran setengah mati dengan gadis yang ia lihat sedang mengeluh mengenai betapa ruwetnya kepanitiaan yang ia jalani kepada bude penjual es campur. Abas yang saat itu masih berdiri di ambang pintu kedai memilih untuk duduk dan mendengarkan racauan gadisnya dari kejauhan. Samar-samar ia dengar gadisnya menyebut nama divisinya, lalu nama si koordinator, kadang ia juga menyebutkan nama-nama anggota divisinya. Tidak ada yang sangka bahwa keinginan Maya malam itu untuk menyantap es campur membawa Abas kepada rasa penasaran yang tak berujung. Abas diam-diam menaruh hati pada teman satu kepanitiaannya, gadisnya, Luna. &#xA;&#xA;&#34;Aku pesenin ya. Kamu mau es campur atau es oyen?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Es oyen aja&#34; jawab Luna. Selagi Abas memesan, ia beralih ke meja gorengan, mengambil dua potong mendoan dan satu potong lapis legit kesukaan Abas. &#xA;&#xA;&#34;Segitu aja gorengan kamu, Lun?&#34; tanya Abas. &#34;Dikit banget.&#34;&#xA;&#xA;Luna mengangguk seraya menggigit mendoannya. &#34;Masih kenyang, lagian takut bunda masak juga di rumah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmmm, Kak Maya masak ngga ya?&#34; Abas bergumam.&#xA;&#xA;&#34;Eh-&#34;&#xA;&#xA;Ekspresi Luna seketika berubah. Ia takut perkataannya menyinggung hati Abas, padahal ia sama sekali tidak bermaksud. Luna tahu betul cerita hidup Abas, maka itu sebisa mungkin Luna menghindari percakapan tentang keluarga, walau sebenarnya Abas tidak pernah merasa tersinggung maupun terpojok dengan bahasan seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;Aku gapapa, Lun.&#34; kata Abas tiba-tiba. Luna yakin pasti Abas membaca gerak-geriknya, maka itu Abas segera menangkupkan tangannya di atas tangan Luna. &#xA;&#xA;Kata &#39;jahil&#39; memang lekat dengan image Abas, namun dirinya juga tumbuh menjadi lelaki yang amat peka dengan sekelilingnya. Ia pandai membaca situasi dan ekspresi sehingga kebanyakan orang merasa baik-baik saja di dekat Abas. &#xA;&#xA;Seperti yang pernah ditulis pada bagian sebelumnya, Abas memang cetakan anak Kontrakan Cerdas. Ia seakan mewarisi satu-persatu watak warga kontrakan tersebut. Kalau dijabarkan, maka kemungkinan ia dapat sifat pekanya dari Rega dan Jidan, walaupun rasa peka keduanya juga berbeda. Rega yang peka dan langsung bergerak menyelesaikan apa yang tidak semestinya, sementara Jidan yang peka nan menenangkan. Lalu, Abas peka yang seperti apa? Jawabannya, keduanya. &#xA;&#xA;&#34;Kamu kalo mau ngomongin bunda, ayah atau mba tuh ngga apa-apa banget, Lun. Aku seneng malah dengernya.&#34; lanjut Abas. &#xA;&#xA;&#34;Aku tuh masih takut kamu sedih, Bas. Tau sendiri kamu kalo sedih ngga pernah bilang-bilang.&#34;&#xA;&#xA;Yang dituduh terkekeh. &#34;Lah kalo sedih bilang-bilang tuh terus gimana? Aku harus bikin pengumuman kalo aku lagi sedih kah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iiiih, ngga gitu. Ya cerita aja sama aku, kan aku bisa bikin kamu ngga sedih lagi.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gimana tuh caranya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya.... Aku hibur?&#34; Luna tampak kebingungan dengan kalimatnya sendiri.&#xA;&#xA;Lagi-lagi Abas tertawa. Gadisnya ini memang lucu dengan sendirinya. &#34;Aku selalu seneng tau, Lun. Keluarga aku gedeeeee banget, banyak banget orangnya, semua juga sayang aku, jadi ngga mungkin aku sedih. Aku bersyukur banget punya mereka, mereka mau ngurusin aku dari mereka masih jadi mahasiswa sampe sekarang mereka udah punya anak sendiri-sendiri aja tuh udah lebih dari cukup untuk bikin aku bahagia, Lun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Glad to know that you&#39;re always happy, Bas. You really deserved it.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kamu. Kamu juga lebih dari cukup, Lun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maksudnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udaaah, ayo cepet diabisin, nanti keburu ujan. Aku anter kamu pulang dulu, kamu bawa payung kan?&#34; &#xA;&#xA;Terima kasih langit mendung, Abas jadi tidak perlu mengulang kalimat romantis yang ia sebutkan. Ah, ini benar-benar cuaca yang tepat untuk mengantar pujaan hati pulang ke rumahnya.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Ngga bisa gitu, El. Agenda marah-marah di ospek kita tuh bukan agenda utama. Jujur gue sendiri kurang suka sama adanya sesi marah-marah di ospek, yang tanpa sebab ya. Kesannya jadi kayak bales dendam doang karena kita dulu juga digituin sama kakak kelas kita.”</p>

<p>Suara Abas menggema di rapat besar OSIS diikuti dengan beberapa anggukan anggota OSIS. Matanya tajam menatap ke arah Arfael yang tampaknya mulai emosi. Perdebatan antara ketua OSIS dan ketua pelaksana ospek ini bukanlah kali pertama, namun bukan juga yang paling fantastis. Beberapa anggota meyakini bahwa Abas dan Arfael masih bisa berdebat lebih fantastis lagi di kemudian hari.

“Adek kelas kita bisa aja jadi ngga sopan Bas kalo ngga dikerasin.” sahut Arfael. “Lo liat lah sekolah sebelah, tahun kemaren ospeknya ngga diomelin, eh utasnya malah nyolot.”</p>

<p>“Apa bedanya sama senioritas kalo kayak gitu?”</p>

<p>“Jelas beda lah. Senioritas kan emang pengen nindas aja, kalo ospek kan emang agendanya membentuk karakter murid-murid baru. Lagian abis ospek juga biasanya kita maaf-maafan.”</p>

<p>“Membentuk karakter ngga harus dengan marah-marah, El.”</p>

<p>“Ya apa terus? Lo mau ngisi acara lo cuma pake sambutan-sambutan dari guru? Materi-materi? Basi, Bas. Acara lo bakal jadi acara ospek paling basi!”</p>

<p>Arfael kini berada di puncak emosi, sementara Abas masih bersikap datar dengan kepala dinginnya. Ia benar-benar pandai mengatur emosinya, tidak melulu meledak-ledak namun mampu mempermainkan emosi lawannya.</p>

<p>“<em>Voting</em> aja, El. Tanya anggota lain maunya kayak gimana.” kata Abas. “Gue yakin sih yang lain udah baca proposal, ngga kayak lo, sampe bisa bilang acara ospek gue basi.”</p>

<p>“<em>Deal</em>.”</p>

<hr/>

<p>“Kamu hari ini jadi konsul matematika?”</p>

<p>Abas menggeleng. “Ngga ah, pusing. Besok aja.”</p>

<p>“Yaudah langsung pulang aja kalo gitu ya.”</p>

<p>Lagi-lagi Abas menggeleng, kali ini dibarengi dengan tangannya yang mengamit tangan gadisnya agar berada di sisi kirinya. “Makan es campur, yuk? Mau ngga?”</p>

<p>“Kalo pusing mah pulang, Bas..”</p>

<p>“Jadi ngga mau nih?”</p>

<p>“Eh, mau.” ujar si gadis pelan.</p>

<p>“Nah gitu dong.”</p>

<p>Si lelaki <em>anak-baru-gede</em> memberhentikan angkot dengan tangan kanannya, lalu mempersilakan gadisnya untuk naik terlebih dahulu, tidak lupa menyuruh gadisnya agar tidak duduk terlalu dekat dengan pintu.</p>

<p>Ah, iya. Dua sejoli ini memang masih naik angkutan umum kemana-mana. Si lelaki belum genap tujuh belas tahun, belum punya surat izin mengemudi. Yaaa, walau kadang Abas <em>kabita</em>, membayangkan rasanya menyusuri jalanan kota sambil berboncengan, ia harus tetap sabar. Lagipula, ia masih belum memiliki kendaraan. Ia hanya pernah beberapa kali menggunakan motor Hafidz jika Maya meminta bantuan untuk membelikan sesuatu di warung dekat komplek.</p>

<p>Walau kesannya terasa cupu karena sudah kelas dua belas dan tidak membawa kendaraan, Abas tetap bangga (bahkan sedikit jumawa), sebab:
1. Dirinya mengikuti aturan bahwa seseorang hanya boleh mengemudikan kendaraan apabila sudah memiliki Surat Izin Mengemudi yang sesuai dengan jenis kendaraannya.
2. Hanya dirinya yang dapat membawa gadisnya (yang sangat cantik) makan es campur sepulang sekolah.</p>

<p>Abas bukan sekali-dua kali membawa gadisnya ke kedai es campur langganannya, bahkan bisa dibilang hal ini rutin ia lakukan tiap minggunya. Si gadis juga tak pernah protes atau menolak jika mereka berakhir menyantap es campur dengan berbagai gorengan, atau lebih tepatnya, si gadis akan selalu bahagia kemanapun perginya selama masih bersama Abas.</p>

<p><em>“Jalannya ke es campur mulu, ngga punya duit ye lu?”</em></p>

<p>Pernah suatu kali ia mendengar celetukan itu dari temannya. Abas hanya tertawa, ia anggap itu bercanda walaupun memang benar adanya, Abas tidak punya uang. <em>Lah bener, aku kan belom kerja jadi ngga punya uang. Ini mah uang kakak-kakak aku</em>, begitu kata Abas ketika gadisnya bertanya mengapa respon Abas hanya tertawa.</p>

<p>Kedai es campur itu punya cerita, punya andil besar dalam kisah cinta Abas.</p>

<p>Hmm, tebakan kalian salah jika kalian menebak Abas dan gadisnya pertama kali bertemu di kedai es campur. Pasalnya, hari itu adalah entah pertemuan keberapa dengan gadisnya. Toh, pada kala itu mereka sehari-hari selalu bertemu di rapat kepanitiaan atau sekadar berpapasan di koridor sekolah. Namun, pertemuan hari itu benar-benar membuat Abas penasaran setengah mati dengan gadis yang ia lihat sedang mengeluh mengenai betapa ruwetnya kepanitiaan yang ia jalani kepada bude penjual es campur. Abas yang saat itu masih berdiri di ambang pintu kedai memilih untuk duduk dan mendengarkan racauan gadisnya dari kejauhan. Samar-samar ia dengar gadisnya menyebut nama divisinya, lalu nama si koordinator, kadang ia juga menyebutkan nama-nama anggota divisinya. Tidak ada yang sangka bahwa keinginan Maya malam itu untuk menyantap es campur membawa Abas kepada rasa penasaran yang tak berujung. Abas diam-diam menaruh hati pada teman satu kepanitiaannya, gadisnya, Luna.</p>

<p>“Aku pesenin ya. Kamu mau es campur atau es oyen?”</p>

<p>“Es oyen aja” jawab Luna. Selagi Abas memesan, ia beralih ke meja gorengan, mengambil dua potong mendoan dan satu potong lapis legit kesukaan Abas.</p>

<p>“Segitu aja gorengan kamu, Lun?” tanya Abas. “Dikit banget.”</p>

<p>Luna mengangguk seraya menggigit mendoannya. “Masih kenyang, lagian takut bunda masak juga di rumah.”</p>

<p>“Hmmm, Kak Maya masak ngga ya?” Abas bergumam.</p>

<p>“Eh-”</p>

<p>Ekspresi Luna seketika berubah. Ia takut perkataannya menyinggung hati Abas, padahal ia sama sekali tidak bermaksud. Luna tahu betul cerita hidup Abas, maka itu sebisa mungkin Luna menghindari percakapan tentang keluarga, walau sebenarnya Abas tidak pernah merasa tersinggung maupun terpojok dengan bahasan seperti itu.</p>

<p>“Aku gapapa, Lun.” kata Abas tiba-tiba. Luna yakin pasti Abas membaca gerak-geriknya, maka itu Abas segera menangkupkan tangannya di atas tangan Luna.</p>

<p>Kata &#39;jahil&#39; memang lekat dengan <em>image</em> Abas, namun dirinya juga tumbuh menjadi lelaki yang amat peka dengan sekelilingnya. Ia pandai membaca situasi dan ekspresi sehingga kebanyakan orang merasa baik-baik saja di dekat Abas.</p>

<p>Seperti yang pernah ditulis pada bagian sebelumnya, Abas memang cetakan anak Kontrakan Cerdas. Ia seakan mewarisi satu-persatu watak warga kontrakan tersebut. Kalau dijabarkan, maka kemungkinan ia dapat sifat pekanya dari Rega dan Jidan, walaupun rasa peka keduanya juga berbeda. Rega yang peka dan langsung bergerak menyelesaikan apa yang tidak semestinya, sementara Jidan yang peka nan menenangkan. Lalu, Abas peka yang seperti apa? Jawabannya, keduanya.</p>

<p>“Kamu kalo mau ngomongin bunda, ayah atau mba tuh ngga apa-apa banget, Lun. Aku seneng malah dengernya.” lanjut Abas.</p>

<p>“Aku tuh masih takut kamu sedih, Bas. Tau sendiri kamu kalo sedih ngga pernah bilang-bilang.”</p>

<p>Yang dituduh terkekeh. “Lah kalo sedih bilang-bilang tuh terus gimana? Aku harus bikin pengumuman kalo aku lagi sedih kah?”</p>

<p>“Iiiih, ngga gitu. Ya cerita aja sama aku, kan aku bisa bikin kamu ngga sedih lagi.”</p>

<p>“Gimana tuh caranya?”</p>

<p>“Ya.... Aku hibur?” Luna tampak kebingungan dengan kalimatnya sendiri.</p>

<p>Lagi-lagi Abas tertawa. Gadisnya ini memang lucu dengan sendirinya. “Aku selalu seneng tau, Lun. Keluarga aku gedeeeee banget, banyak banget orangnya, semua juga sayang aku, jadi ngga mungkin aku sedih. Aku bersyukur banget punya mereka, mereka mau ngurusin aku dari mereka masih jadi mahasiswa sampe sekarang mereka udah punya anak sendiri-sendiri aja tuh udah lebih dari cukup untuk bikin aku bahagia, Lun.”</p>

<p>“<em>Glad to know that you&#39;re always happy</em>, Bas. <em>You really deserved it</em>.”</p>

<p>“Kamu. Kamu juga lebih dari cukup, Lun.”</p>

<p>“Maksudnya?”</p>

<p>“Udaaah, ayo cepet diabisin, nanti keburu ujan. Aku anter kamu pulang dulu, kamu bawa payung kan?”</p>

<p>Terima kasih langit mendung, Abas jadi tidak perlu mengulang kalimat romantis yang ia sebutkan. Ah, ini benar-benar cuaca yang tepat untuk mengantar pujaan hati pulang ke rumahnya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/anak-sma</guid>
      <pubDate>Fri, 10 Jun 2022 09:03:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sudirman dan Hal yang Tidak Kusukai Darinya</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/sudirman-dan-hal-yang-tidak-kusukai-darinya?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Aku tadi bagus ngga?&#34; tanya Sunghoon tiba-tiba. Ia memalingkan wajahnya dari setir mobil, menunggu jawaban dariku.&#xA;&#xA;&#34;Kamu selalu bagus. Dari dulu kan aku selalu bilang—ralat, semua orang selalu bilang penampilan kamu paling bagus.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon menekan pedal gas perlahan, namun wajahnya tak lepas menatapku. &#34;Are you okay?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ada masalah apa emangnya?&#34; tanyaku balik. Aku memilih untuk melihat ke jalan raya dibanding harus balik menatapnya. &#xA;&#xA;&#34;Maaf maaf, aku ngelantur.&#34;&#xA;&#xA;Aku menghela nafas panjang selagi Sunghoon menatap jalanan di depan. Entah mengapa aku selalu benci ketika ia mengkhawatirkan hal itu, walau hanya sekadar bertanya apakah diriku baik-baik saja, aku tetap tidak suka. Mungkin juga itu satu-satunya hal yang tidak kusuka dari dirinya. &#xA;&#xA;Sepuluh tahun—mungkin, bisa kurang atau lebih—tidak lantas membuatku lupa begitu saja, aku masih ingat jelas bagaimana kaki perempuan itu menyandung kakiku saat latihan hingga cedera berat. Mulai hari itu, aku resmi pensiun menjadi ice skater, bahkan ketika aku belum memulai seutuhnya. &#xA;&#xA;Aku murung luar biasa. Bagaimana tidak? Berlenggang di arena, menari-nari di atas hamparan es dengan baju cantik dan sepatu menawan benar-benar impianku saat itu. Aku turut menghempaskan cita-cita terbesarku, menjadi satu dari puluhan pemain pertunjukan ice skating kartun populer, Disney on Ice. &#xA;&#xA;Sejak hari itu, Sunghoon selalu bilang bahwa ia akan jadi yang terbaik di arena. Namaku juga selalu ia sebut saat pidato kemenangan, bahkan tak jarang Sunghoon menginapkan tropi dan medalinya di rumahku untuk beberapa hari. &#xA;&#xA;&#34;Besok jadi nonton aku perform kan? Aku jemput jam dua, ya.&#34; katanya lagi. &#xA;&#xA;&#34;Cepet banget. Bukannya kamu tampil jam tujuh?&#34;&#xA;&#xA;Sunghoon tertawa kecil, &#34;Kamu dijemput duluan ngga apa-apa kan? Nanti aku drop kamu dulu. Abis itu aku jemput Mawar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aah, Mawar.&#34; Aku mengangguk paham lantas menggigit bibir bawahku. Katanya itu mampu menahan air matamu agar tidak jatuh.&#xA;&#xA;&#34;Ngga apa-apa kan?&#34;&#xA;&#xA;Aku enggan menjawab, bibirku punya tugas yang lebih penting dibanding menjawab pertanyaan yang tak pernah aku sukai. &#xA;&#xA;&#34;Lah? Kok nangis]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Aku tadi bagus ngga?” tanya Sunghoon tiba-tiba. Ia memalingkan wajahnya dari setir mobil, menunggu jawaban dariku.</p>

<p>“Kamu selalu bagus. Dari dulu kan aku selalu bilang—ralat, semua orang selalu bilang penampilan kamu paling bagus.”</p>

<p>Sunghoon menekan pedal gas perlahan, namun wajahnya tak lepas menatapku. “<em>Are you okay</em>?”</p>

<p>“Ada masalah apa emangnya?” tanyaku balik. Aku memilih untuk melihat ke jalan raya dibanding harus balik menatapnya.</p>

<p>“Maaf maaf, aku ngelantur.”</p>

<p>Aku menghela nafas panjang selagi Sunghoon menatap jalanan di depan. Entah mengapa aku selalu benci ketika ia mengkhawatirkan hal itu, walau hanya sekadar bertanya apakah diriku baik-baik saja, aku tetap tidak suka. Mungkin juga itu satu-satunya hal yang tidak kusuka dari dirinya.</p>

<p>Sepuluh tahun—mungkin, bisa kurang atau lebih—tidak lantas membuatku lupa begitu saja, aku masih ingat jelas bagaimana kaki perempuan itu menyandung kakiku saat latihan hingga cedera berat. Mulai hari itu, aku resmi pensiun menjadi <em>ice skater</em>, bahkan ketika aku belum memulai seutuhnya.</p>

<p>Aku murung luar biasa. Bagaimana tidak? Berlenggang di arena, menari-nari di atas hamparan es dengan baju cantik dan sepatu menawan benar-benar impianku saat itu. Aku turut menghempaskan cita-cita terbesarku, menjadi satu dari puluhan pemain pertunjukan <em>ice skating</em> kartun populer, <em>Disney on Ice</em>.</p>

<p>Sejak hari itu, Sunghoon selalu bilang bahwa ia akan jadi yang terbaik di arena. Namaku juga selalu ia sebut saat pidato kemenangan, bahkan tak jarang Sunghoon menginapkan tropi dan medalinya di rumahku untuk beberapa hari.</p>

<p>“Besok jadi nonton aku <em>perform</em> kan? Aku jemput jam dua, ya.” katanya lagi.</p>

<p>“Cepet banget. Bukannya kamu tampil jam tujuh?”</p>

<p>Sunghoon tertawa kecil, “Kamu dijemput duluan ngga apa-apa kan? Nanti aku <em>drop</em> kamu dulu. Abis itu aku jemput Mawar.”</p>

<p>“Aah, Mawar.” Aku mengangguk paham lantas menggigit bibir bawahku. Katanya itu mampu menahan air matamu agar tidak jatuh.</p>

<p>“Ngga apa-apa kan?”</p>

<p>Aku enggan menjawab, bibirku punya tugas yang lebih penting dibanding menjawab pertanyaan yang tak pernah aku sukai.</p>

<p>“Lah? Kok nangis</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/sudirman-dan-hal-yang-tidak-kusukai-darinya</guid>
      <pubDate>Fri, 24 Sep 2021 15:50:37 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Pertama</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/pertama?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Sini.&#34; tutur Hafidz pelan sembari menepuk bagian kasur di sampingnya. &#xA;&#xA;Maya menggeleng.&#xA;&#xA;&#34;Yaudah, nanti ada setan di situ. Di pojok, di belakang lo persis.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apis jangan gitu ih.&#34; protes Maya.&#xA;&#xA;&#34;Makanya sini, sayaaang.&#34; &#xA;&#xA;Mengalah, Maya beringsut dari sofa di pojok ruangan ke sebelah Hafidz. Hafidz mengubah posisinya, mempersilakan Maya untuk meletakkan kepala di pangkuannya.&#xA;&#xA;&#34;Kita harus ngapain ya?&#34; tanya Maya bingung. &#34;Lo udah nanya Mahes?&#34;&#xA;&#xA;Hafidz menggeleng. &#xA;&#xA;&#34;Ngitung amplop aja yuk. Gabut.&#34; &#xA;&#xA;&#34;May, udahan yuk &#39;lo-gue&#39;nya?&#34; Hafidz bertanya selagi membelai rambut Almaya pelan. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa gitu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngga papa sih, cuma kan kita udah nikah. Kalo pake &#39;lo-gue&#39; terus-terusan takutnya ntar orang ngiranya kita kumpul kebo.&#34;&#xA;&#xA;Maya terkekeh. &#34;Asal banget dah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bercanda sih hehe, tapi mau kan?&#34; ajak Hafidz.&#xA;&#xA;&#34;Yaaaa mau-mau aja sih, tapi udah kebiasa gitu, Pis. Kayak udah keseringan pake &#39;lo-gue&#39; terus tiba-tiba pake aku-kamu, aneh ngga sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngga papa, gue—eh aku juga belom kebiasa. Kita belajar sama-sama aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke, deal.&#34;&#xA;&#xA;Berapa belas detik kemudian, kamar itu hening kembali. Keduanya ini benar-benar tidak tahu harus apa kecuali Hafidz yang sedari tadi tidak berhenti mengelus rambut Maya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu ngga nanya Tasya emang?&#34; Hafidz membuka pembicaraan.&#xA;&#xA;&#34;Nanya apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Waktu kelar nikahan sama Mas Bulan ngapain aja.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku ngga se-kepo itu juga sih..&#34; kilah Maya. &#xA;&#xA;&#34;Tasya juga ngga ngasih wejangan apa-apa gitu?&#34;&#xA;&#xA;Maya menggeleng lagi. &#34;Ngga, dia bilang istirahat aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yaudah, mau tidur?&#34; tukas Hafidz.&#xA;&#xA;&#34;Belom ngantuk sih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku matiin lampunya aja ya? Biar kamu tidur. Capek kan bangun dari jam tiga subuh?&#34;&#xA;&#xA;Glek, Maya menelan ludah cemas. &#34;Ngga usah dimatiin ngga papa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lah? Kamu kan ngga bisa tidur kalo lampunya nyala?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya-yaudah matiin aja deh. Aku nyoba tidur.&#34; kilah Maya pasrah.&#xA;&#xA;Hafidz bergegas menuju saklar dekat kamar mandi, lalu mematikan lampu utama. &#34;Eh, gelap banget ya ternyata. Hehe.&#34;&#xA;&#xA;Entah mengapa tiba-tiba Maya berkeringat dingin, bahkan detak jantungnya semakin cepat seraya Hafidz naik ke atas kasur, berbaring di sebelahnya. Ditambah lampu yang sama sekali tidak temaram, ia memilih untuk menutup matanya.&#xA;&#xA;&#34;AAAAAH!&#34;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#34;APIS JANGAN NINDIHIN RAMBUT GUEEEE, SAKITTTTTT. MINGGIRRRRR!!!!!&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Sini.” tutur Hafidz pelan sembari menepuk bagian kasur di sampingnya.</p>

<p>Maya menggeleng.</p>

<p>“Yaudah, nanti ada setan di situ. Di pojok, di belakang lo persis.”</p>

<p>“Apis jangan gitu ih.” protes Maya.</p>

<p>“Makanya sini, sayaaang.”</p>

<p>Mengalah, Maya beringsut dari sofa di pojok ruangan ke sebelah Hafidz. Hafidz mengubah posisinya, mempersilakan Maya untuk meletakkan kepala di pangkuannya.</p>

<p>“Kita harus ngapain ya?” tanya Maya bingung. “Lo udah nanya Mahes?”</p>

<p>Hafidz menggeleng.</p>

<p>“Ngitung amplop aja yuk. Gabut.”</p>

<p>“May, udahan yuk &#39;lo-gue&#39;nya?” Hafidz bertanya selagi membelai rambut Almaya pelan.</p>

<p>“Kenapa gitu?”</p>

<p>“Ngga papa sih, cuma kan kita udah nikah. Kalo pake &#39;lo-gue&#39; terus-terusan takutnya ntar orang ngiranya kita kumpul kebo.”</p>

<p>Maya terkekeh. “Asal banget dah.”</p>

<p>“Bercanda sih hehe, tapi mau kan?” ajak Hafidz.</p>

<p>“Yaaaa mau-mau aja sih, tapi udah kebiasa gitu, Pis. Kayak udah keseringan pake &#39;lo-gue&#39; terus tiba-tiba pake aku-kamu, aneh ngga sih?”</p>

<p>“Ngga papa, gue—eh aku juga belom kebiasa. Kita belajar sama-sama aja.”</p>

<p>“Oke, deal.”</p>

<p>Berapa belas detik kemudian, kamar itu hening kembali. Keduanya ini benar-benar tidak tahu harus apa kecuali Hafidz yang sedari tadi tidak berhenti mengelus rambut Maya.</p>

<p>“Kamu ngga nanya Tasya emang?” Hafidz membuka pembicaraan.</p>

<p>“Nanya apa?”</p>

<p>“Waktu kelar nikahan sama Mas Bulan ngapain aja.”</p>

<p>“Aku ngga se-kepo itu juga sih..” kilah Maya.</p>

<p>“Tasya juga ngga ngasih wejangan apa-apa gitu?”</p>

<p>Maya menggeleng lagi. “Ngga, dia bilang istirahat aja.”</p>

<p>“Yaudah, mau tidur?” tukas Hafidz.</p>

<p>“Belom ngantuk sih.”</p>

<p>“Aku matiin lampunya aja ya? Biar kamu tidur. Capek kan bangun dari jam tiga subuh?”</p>

<p><em>Glek</em>, Maya menelan ludah cemas. “Ngga usah dimatiin ngga papa.”</p>

<p>“Lah? Kamu kan ngga bisa tidur kalo lampunya nyala?”</p>

<p>“Ya-yaudah matiin aja deh. Aku nyoba tidur.” kilah Maya pasrah.</p>

<p>Hafidz bergegas menuju saklar dekat kamar mandi, lalu mematikan lampu utama. “Eh, gelap banget ya ternyata. Hehe.”</p>

<p>Entah mengapa tiba-tiba Maya berkeringat dingin, bahkan detak jantungnya semakin cepat seraya Hafidz naik ke atas kasur, berbaring di sebelahnya. Ditambah lampu yang sama sekali tidak temaram, ia memilih untuk menutup matanya.</p>

<p>“AAAAAH!”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“APIS JANGAN NINDIHIN RAMBUT GUEEEE, SAKITTTTTT. MINGGIRRRRR!!!!!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/pertama</guid>
      <pubDate>Tue, 31 Aug 2021 11:53:15 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Dari Mata Seorang Ibu</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/dari-mata-seorang-ibu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sarah tidak lekas mandi setelah diantar Rega menuju kamarnya. Wajah sembabnya pun tak kunjung ia basuh. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana ia dapat menghubungi mantan suaminya segera. &#xA;&#xA;&#34;Gimana? Dapet nomernya?&#34; sambut Sarah.&#xA;&#xA;&#34;Dapet, bu. Katanya ini nomor paling barunya, semoga aja bisa dihubungi ya, bu.&#34; seru seseorang di ujung telepon.&#xA;&#xA;&#34;Tolong kirimin ke saya ya, sekarang juga. Makasih, kamu boleh istirahat.&#34;&#xA;!--more--&#xA;Sarah menutup telepon dari asistennya, lalu memandang pantulan dirinya di cermin hotel. Wajahnya yang berkerut di beberapa bagian, ditambah maskara yang setengah luntur setelah menangis tadi, Sarah sadar ia tak lagi muda. Sarah sudah melalui banyak hal dengan banyak rasa.&#xA;&#xA;Dua puluh lima tahun yang lalu cukup berat bagi Sarah. Belum sempurna kering jahitan pasca melahirkan, ia harus kembali berjuang seorang diri mengurus buah hatinya. Suaminya pergi tanpa pamit, meninggalkan dua perempuan yang saat itu kebingungan harus berbuat apa. Kala itu, dirinya berjanji akan menjadi Sarah yang seribu kali lebih baik dari hari itu demi berliannya, Almaya. &#xA;&#xA;Terkadang, Ayah dan Ibu Sarah datang ke rumah untuk membantu menjaga Almaya. Namun, ada masanya orang tua Sarah tak lagi mampu bepergian karena usia. Sejak itu, Sarah memutuskan untuk menggunakan jasa Asisten Rumah Tangga untuk menjaga Almaya selagi dirinya bekerja. Hari-hari ia lalui dengan atau tanpa bertemu anak semata wayangnya. Karier benar-benar mendominasi hidup Sarah sejak hari itu, hingga tanpa ia sadari Almaya bukan lagi anak berumur tiga tahun yang masih menangis jika boneka kesayangannya tidak ada di tempat tidurnya. &#xA;&#xA;Tersadar dari lamunannya, Sarah segera menyeka air mata di kedua pipinya. Lagi-lagi tangannya kini sibuk menekan layar gawainya hingga terdengar nada tunggu. Sarah menelfon seseorang.&#xA;&#xA;&#34;Halo, ini siapa ya?&#34;&#xA;&#xA;Suara itu.&#xA;&#xA;&#34;Haris, ini saya, Sarah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sarah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, Sarah Ratnadia. Atau kamu lupa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya ngga mungkin lupa, Sarah.&#34; ujarnya diikuti gelak tawa kecil. &#34;Sudah lama kamu ngga hubungin saya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya ngga punya waktu untuk bahas itu, Haris.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, iya. Sarah Ratnadia, wanita karier super mega sibuk yang masuk jajaran 10 orang berpengaruh di bid—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Besok Almaya nikah.&#34; potong Sarah.&#xA;&#xA;&#34;Almaya?&#34; &#xA;&#xA;Sarah berdecak, ia sama sekali tak heran. &#34;Anak kamu, kalau kamu lupa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Menikah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Besok pagi. Jam 7 di Hotel Mulia. Almaya minta kamu jadi wali nikah.&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada jawaban.&#xA;&#xA;&#34;Saya harap kamu bisa datang, Haris. Ini terakhir kali saya akan minta tolong, berharap dan memohon ke kamu. Tolong, demi Almaya.&#34;&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;&#34;Saya pikir cukup kejadian itu menyakiti Almaya sepanjang hidupnya. Ini permintaan dia, saya mohon bantu saya penuhi permintaan Almaya.&#34; rintih Sarah. &#34;Anak itu masih dan akan selalu ingat ayahnya bahkan ketika ia menikah. Bahkan ketika ayahnya lupa siapa namanya.&#34;&#xA;&#xA;Haris benar-benar tidak menjawab.&#xA;&#xA;&#34;Saya tunggu kamu, Haris. Terima kasih.&#34;&#xA;&#xA;Sarah menutup sambungannya segera, lalu beralih menuliskan pesan pada seseorang yang lain.&#xA;&#xA;  Tasya, mayanya sudah tidur kah?&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Makasih ya Tasya udah nemenin Maya. Tasya boleh istirahat kok, gantian tante yang nemenin Maya.&#34; ujar Sarah.&#xA;&#xA;Tasya mengangguk. &#34;Sama-sama tante, ini tanggung jawab Tasya juga buat jagain Maya. Tante juga jangan lupa istirahat ya. Duluan, tante.&#34;&#xA;&#xA;Dari sudut matanya, Sarah melihat Maya sudah meringkuk di ranjang. Sarah tertawa kecil, Maya benar-benar persis saat seperti masih bayi. Dibelainya rambut semata wayangnya itu, lekat-lekat ia pandangi wajahnya.&#xA;&#xA;&#34;Ya.. Geulis.. Kamu cepet banget gedenya, nak. Mama inget dulu Maya suka main sama boneka-boneka Maya karena Maya sendirian di rumah, Maya juga suka nyanyi-nyanyi di ayunan, kadang juga iseng manggilin tukang roti keliling, terus kamu beli bola-bola cokelatnya.  Kayaknya baru kemarin mama ngelahirin kamu, eh, sekarang kamunya udah mau nikah, May. Cepet banget. Kalo bisa, mama teh mau balik lagi ngurusin Maya kecil.&#34; gumam Sarah. Setengah menangis setengah tertawa.&#xA;&#xA;&#34;Nak, maafin mama ya. Maaf mama terlalu sibuk, sampe kadang ngga bisa nemenin Maya. Padahal harusnya Maya paling butuh ditemenin, ya kan? Maaf, nak.. Mama pingiiiiiin banget ngulang waktu, ngurusin Maya lagi, nemenin Maya, ngajarin Maya, liat tumbuh kembang Maya dengan detail. Mama tuh kayak ngga sadar, May, tiba-tiba kamu udah segede ini. Kamu udah jadi wanita cantik, pintar, berpendidikan, baik hati, kuat pula. &#xA;&#xA;Maaf mama egois, nak. Mama sadar mama salah, mama melewatkan waktu-waktu terbaik mama, mama melewatkan waktu-waktu bertumbuh bersama anak mama satu-satunya, berlian mama, cinta hati mama, hidup mama. Mama kehilangan itu semua, nak. Hal yang ngga akan pernah dan mampu tergantikan oleh apa pun. Mama rela bayar berapapun jumlahnya kalau itu bisa mengulang waktu kita berdua, nak..&#xA;&#xA;Jujur nak, berat sekali melepas kamu menikah. Tapi mama percaya, Hafidz lelaki baik yang bisa bikin anak mama bahagia, mama percaya Hafidz bisa jaga Maya lebih baik dari yang mama lakukan. Mama yakin Hafidz ngga akan bikin kamu merasakan apa yang mama rasakan dulu. &#xA;&#xA;Maya, selamanya kamu akan jadi gadis kecil mama. Selamanya kamu akan jadi hidup mama, nak. Terima kasih sudah jadi anak mama, terima kasih kamu tidak pernah membenci mama, terima kasih sudah tumbuh jadi anak baik, terima kasih sudah memberi kesempatan untuk mama membesarkan seorang putri, mama beruntung sekali punya Maya di hidup mama. Terima kasih ya, sayang. Kelak kamu akan jadi ibu yang baik, ibu yang hebat, ibu yang pintar, ibu yang dicintai anak-anaknya, ya nak.&#34;&#xA;&#xA;Sarah menyeka pilu yang berjatuhan dengan lega, seperti tak ada lagi yang mengganjal di sudut hatinya. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan di sunyinya malam, hanya berdua dengan gadis kecilnya. &#xA;&#xA;Sarah boleh gagal, namun tidak bagi permatanya.&#xA;&#xA;Sarah boleh tak punya apa-apa, namun dunia dan seisinya bagi gadis kecilnya.&#xA;&#xA;Sarah boleh menangis, namun tak lagi bagi buah hatinya.&#xA;&#xA;Cukup. Almaya harus bahagia sebagaimana mestinya.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Sarah tidak lekas mandi setelah diantar Rega menuju kamarnya. Wajah sembabnya pun tak kunjung ia basuh. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana ia dapat menghubungi mantan suaminya segera.</p>

<p>“Gimana? Dapet nomernya?” sambut Sarah.</p>

<p>“<em>Dapet, bu. Katanya ini nomor paling barunya, semoga aja bisa dihubungi ya, bu</em>.” seru seseorang di ujung telepon.</p>

<p>“Tolong kirimin ke saya ya, sekarang juga. Makasih, kamu boleh istirahat.”

Sarah menutup telepon dari asistennya, lalu memandang pantulan dirinya di cermin hotel. Wajahnya yang berkerut di beberapa bagian, ditambah maskara yang setengah luntur setelah menangis tadi, Sarah sadar ia tak lagi muda. Sarah sudah melalui banyak hal dengan banyak rasa.</p>

<p>Dua puluh lima tahun yang lalu cukup berat bagi Sarah. Belum sempurna kering jahitan pasca melahirkan, ia harus kembali berjuang seorang diri mengurus buah hatinya. Suaminya pergi tanpa pamit, meninggalkan dua perempuan yang saat itu kebingungan harus berbuat apa. Kala itu, dirinya berjanji akan menjadi Sarah yang seribu kali lebih baik dari hari itu demi berliannya, Almaya.</p>

<p>Terkadang, Ayah dan Ibu Sarah datang ke rumah untuk membantu menjaga Almaya. Namun, ada masanya orang tua Sarah tak lagi mampu bepergian karena usia. Sejak itu, Sarah memutuskan untuk menggunakan jasa Asisten Rumah Tangga untuk menjaga Almaya selagi dirinya bekerja. Hari-hari ia lalui dengan atau tanpa bertemu anak semata wayangnya. Karier benar-benar mendominasi hidup Sarah sejak hari itu, hingga tanpa ia sadari Almaya bukan lagi anak berumur tiga tahun yang masih menangis jika boneka kesayangannya tidak ada di tempat tidurnya.</p>

<p>Tersadar dari lamunannya, Sarah segera menyeka air mata di kedua pipinya. Lagi-lagi tangannya kini sibuk menekan layar gawainya hingga terdengar nada tunggu. Sarah menelfon seseorang.</p>

<p>“<em>Halo, ini siapa ya?</em>“</p>

<p>Suara itu.</p>

<p>“Haris, ini saya, Sarah.”</p>

<p>“<em>Sarah?</em>“</p>

<p>“Iya, Sarah Ratnadia. Atau kamu lupa?”</p>

<p>“<em>Saya ngga mungkin lupa, Sarah.</em>” ujarnya diikuti gelak tawa kecil. “<em>Sudah lama kamu ngga hubungin saya.</em>“</p>

<p>“Saya ngga punya waktu untuk bahas itu, Haris.”</p>

<p>“<em>Ah, iya. Sarah Ratnadia, wanita karier super mega sibuk yang masuk jajaran 10 orang berpengaruh di bid—</em>“</p>

<p>“Besok Almaya nikah.” potong Sarah.</p>

<p>“<em>Almaya?</em>“</p>

<p>Sarah berdecak, ia sama sekali tak heran. “Anak kamu, kalau kamu lupa.”</p>

<p>“<em>Menikah?</em>“</p>

<p>“Besok pagi. Jam 7 di Hotel Mulia. Almaya minta kamu jadi wali nikah.”</p>

<p>Tidak ada jawaban.</p>

<p>“Saya harap kamu bisa datang, Haris. Ini terakhir kali saya akan minta tolong, berharap dan memohon ke kamu. Tolong, demi Almaya.”</p>

<p>Hening.</p>

<p>“Saya pikir cukup kejadian itu menyakiti Almaya sepanjang hidupnya. Ini permintaan dia, saya mohon bantu saya penuhi permintaan Almaya.” rintih Sarah. “Anak itu masih dan akan selalu ingat ayahnya bahkan ketika ia menikah. Bahkan ketika ayahnya lupa siapa namanya.”</p>

<p>Haris benar-benar tidak menjawab.</p>

<p>“Saya tunggu kamu, Haris. Terima kasih.”</p>

<p>Sarah menutup sambungannya segera, lalu beralih menuliskan pesan pada seseorang yang lain.</p>

<blockquote><p>Tasya, mayanya sudah tidur kah?</p></blockquote>

<hr/>

<p>“Makasih ya Tasya udah nemenin Maya. Tasya boleh istirahat kok, gantian tante yang nemenin Maya.” ujar Sarah.</p>

<p>Tasya mengangguk. “Sama-sama tante, ini tanggung jawab Tasya juga buat jagain Maya. Tante juga jangan lupa istirahat ya. Duluan, tante.”</p>

<p>Dari sudut matanya, Sarah melihat Maya sudah meringkuk di ranjang. Sarah tertawa kecil, Maya benar-benar persis saat seperti masih bayi. Dibelainya rambut semata wayangnya itu, lekat-lekat ia pandangi wajahnya.</p>

<p>“Ya.. Geulis.. Kamu cepet banget gedenya, nak. Mama inget dulu Maya suka main sama boneka-boneka Maya karena Maya sendirian di rumah, Maya juga suka nyanyi-nyanyi di ayunan, kadang juga iseng manggilin tukang roti keliling, terus kamu beli bola-bola cokelatnya.  Kayaknya baru kemarin mama ngelahirin kamu, eh, sekarang kamunya udah mau nikah, May. Cepet banget. Kalo bisa, mama <em>teh</em> mau balik lagi ngurusin Maya kecil.” gumam Sarah. Setengah menangis setengah tertawa.</p>

<p>“Nak, maafin mama ya. Maaf mama terlalu sibuk, sampe kadang ngga bisa nemenin Maya. Padahal harusnya Maya paling butuh ditemenin, ya kan? Maaf, nak.. Mama pingiiiiiin banget ngulang waktu, ngurusin Maya lagi, nemenin Maya, ngajarin Maya, liat tumbuh kembang Maya dengan detail. Mama tuh kayak ngga sadar, May, tiba-tiba kamu udah segede ini. Kamu udah jadi wanita cantik, pintar, berpendidikan, baik hati, kuat pula.</p>

<p>Maaf mama egois, nak. Mama sadar mama salah, mama melewatkan waktu-waktu terbaik mama, mama melewatkan waktu-waktu bertumbuh bersama anak mama satu-satunya, berlian mama, cinta hati mama, hidup mama. Mama kehilangan itu semua, nak. Hal yang ngga akan pernah dan mampu tergantikan oleh apa pun. Mama rela bayar berapapun jumlahnya kalau itu bisa mengulang waktu kita berdua, nak..</p>

<p>Jujur nak, berat sekali melepas kamu menikah. Tapi mama percaya, Hafidz lelaki baik yang bisa bikin anak mama bahagia, mama percaya Hafidz bisa jaga Maya lebih baik dari yang mama lakukan. Mama yakin Hafidz ngga akan bikin kamu merasakan apa yang mama rasakan dulu.</p>

<p>Maya, selamanya kamu akan jadi gadis kecil mama. Selamanya kamu akan jadi hidup mama, nak. Terima kasih sudah jadi anak mama, terima kasih kamu tidak pernah membenci mama, terima kasih sudah tumbuh jadi anak baik, terima kasih sudah memberi kesempatan untuk mama membesarkan seorang putri, mama beruntung sekali punya Maya di hidup mama. Terima kasih ya, sayang. Kelak kamu akan jadi ibu yang baik, ibu yang hebat, ibu yang pintar, ibu yang dicintai anak-anaknya, ya nak.”</p>

<p>Sarah menyeka pilu yang berjatuhan dengan lega, seperti tak ada lagi yang mengganjal di sudut hatinya. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan di sunyinya malam, hanya berdua dengan gadis kecilnya.</p>

<p>Sarah boleh gagal, namun tidak bagi permatanya.</p>

<p>Sarah boleh tak punya apa-apa, namun dunia dan seisinya bagi gadis kecilnya.</p>

<p>Sarah boleh menangis, namun tak lagi bagi buah hatinya.</p>

<p>Cukup. Almaya harus bahagia sebagaimana mestinya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/dari-mata-seorang-ibu</guid>
      <pubDate>Sun, 29 Aug 2021 10:14:40 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Aku Mau Satu</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/aku-mau-satu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Maya terduduk di pinggir ranjang. Ritme napasnya tidak beraturan, tubuhnya jelas menunjukkan bahwa ia gelisah. Sudah sebulan lebih ia berusaha mencari informasi tentang keberadaan ayahnya. Sayang, hasilnya nihil, bahkan hingga malam sebelum ijab kabul dilaksanakan.&#xA;&#xA;“May, makan dulu plis.” pinta Inas yang sedari tadi menyodorkan kotak makan.&#xA;&#xA;“Iya ih, makan dulu. Lo boleh sedih, tapi harus tetep makan lah.” imbuh Tasya. Wajahnya tampak cemas.&#xA;!--more--&#xA;Kedua teman sebaya Maya itu berdiri di depannya dengan khawatir, sementara Dila, istri Mahesa, membelai punggung Maya pelan.&#xA;&#xA;“Gue ngga mau makan sebelum papa bales chat gue.”&#xA;&#xA;Dila menghela napas panjang. “Ngga ada salahnya makan dulu, May. Kamu butuh energi.”&#xA;&#xA;“Aku cukup energinya dari emosi kok.” bantah Maya.&#xA;&#xA;Kali ini bukan hanya Dila yang menghela napas panjang, melainkan Tasya dan Inas juga menghela napas super panjang. Tabiat buruk Maya—keras kepala—ini cukup membahayakan di situasi genting. Acara akad nikah benar-benar dilaksanakan besok pagi, namun belum ada satupun makanan yang masuk ke perutnya sejak tadi pagi.&#xA;&#xA;“Kak, gimana? Ini anaknya bisa pingsan kalo gini terus.” bisik Inas ke Dila.&#xA;&#xA;“Iya, kak. Apalagi mamanya belom dateng, yakin deh abis mamanya dateng ini anak pasti nangis-nangis. Kalo dia ngga makan bahaya banget.” Tasya ikut menambahkan.&#xA;&#xA;“Aku bingung, jujur.” kata Dila. “Aku gatel banget pengen ngasih tau Apis. Tapi kata Maya ngga boleh.”&#xA;&#xA;“Kasih tau aja deh, kak. Kayaknya kalo Apis yang bujuk mempan deh.”&#xA;&#xA;“Apis kalo tau panik banget tapi, Nas. Gue sih cukup ya ngurusin satu orang panik, kalo ditambah Apis yang panik gue ogah.” jelas Tasya. “Coba tunggu Kak Adit sama Rega deh, siapa tau rada mempan sama mereka. Gue ngga tega banget ngomelin Maya soalnya.”&#xA;&#xA;“Makan.” titah Adit. Ia dan Rega sudah tiba sepuluh menit yang lalu, tentu saja bersama makanan-makanan yang inisiatif mereka beli supaya Maya mau makan.&#xA;&#xA;“Ngga laper.”&#xA;&#xA;“Ngga ada bantah.”&#xA;&#xA;“Jangan maksa, Kak.” rintih Maya.&#xA;&#xA;“Lo juga jangan maksa. Makan. Ngga ada yang mau liat lo sakit, Maya.” perintah Adit tegas.&#xA;&#xA;Maya mengacak rambutnya, lelah. Ia enggan menyerah, namun ia benar-benar kelelahan. Ia lelah memandang gawainya seharian, menunggu balasan dari orang yang mungkin tak lagi peduli dengan apa yang ia lakukan saat ini. Ia merunduk, bahunya bergerak naik turun cepat.&#xA;&#xA;“Papa ha-harus bales chat gue dulu, kak.” isak Maya, menangis lagi.&#xA;&#xA;“Lo harus makan dulu.”&#xA;&#xA;“Gue pengen papa ada besok, kak. Sekali aja. Gue ngga minta banyak kok, gue pengen papa jadi wali nikah gue. Itu normal, kan?”&#xA;&#xA;“Gue sama yang lain pengen lo makan, Maya. Sekali aja. Gue ngga minta banyak kok, gue pengen lo makan aja. Itu normal, kan?” Adit mengulang setiap kata yang keluar dari mulut Maya. Air mukanya benar-benar tegas, tidak goyah sama sekali dengan kerasnya Maya.&#xA;&#xA;“T-tapi—”&#xA;&#xA;“Jangan siksa diri lo sendiri, Maya. Plis.” pinta Adit. Suaranya melemah. Rega yang berdiri di sebelah Adit mengangguk setuju.&#xA;&#xA;Tanpa mereka tahu, wanita paruh baya yang baru kembali dari dinasnya memperhatikan mereka dari dekat pintu. Ia sama sakitnya dengan gadisnya yang kini terisak, ia sama menyesalnya, bahkan tak jarang ia merutuki dirinya sendiri.&#xA;&#xA;“Mama..” lirih Maya.&#xA;&#xA;Wanita itu tersenyum simpul. Ada luka yang ia selipkan di lengkung bibirnya. Ia segera mendekat, mendekap satu-satunya cinta yang masih hidup di dalam dirinya. “Nak, maaf..”&#xA;&#xA;Yang lainnya segera menyingkir, memberi ruang untuk ibu dan anak saling berkesah.&#xA;&#xA;“Ma-ma, aku cuma mau satu ma. Aku mau ada papa, papa yang nikahin aku sama Hafidz, ma. Aku cuma mau itu.”&#xA;&#xA;“Maaf, nak. Maaf..”&#xA;&#xA;“Kenapa aku ngga bisa kayak yang lain, ma? Kenapa aku harus selalu sendirian? Kenapa aku... Kenapa?”&#xA;&#xA;Di ujung ruangan, Tasya mencengkram kemeja Adit kasar, berusaha menahan agar tangisnya tidak mengalir. Rega menunduk,  ia sedikit banyak paham tentang keluarga kecil ini.&#xA;&#xA;“Maaf mama ngga bisa kasih Maya kehidupan yang sempurna, maafin mama bikin Maya tersiksa bahkan sampai hari ini, yang harusnya kamu seneng-seneng.” bisik Mama Maya. Tangannya erat memeluk gadisnya. “Maaf juga mama baru datang sekarang, seharusnya mama ada sejak kemarin, nak..”&#xA;&#xA;“Ma.. Maya pingin ada papa, sekali aja, ma..”&#xA;&#xA;Sarah—mama Maya—menelan ludah. Ia tak ingin mengecewakan gadis kecilnya lagi setelah beribu kali ia rasa ia kecewakan buah hatinya. Tanpa Maya ketahui, Sarah sudah mencari mantan suaminya dengan cara apapun hanya untuk menjadi wali nikah Maya, namun laki-laki itu benar tak ada jejaknya.&#xA;&#xA;“Mama usahain ya, cantik?” tanya Sarah.&#xA;&#xA;Maya mengangguk kecil, sorot matanya sama sekali tak bercahaya.&#xA;&#xA;“Mama akan cari papamu sampai ketemu, tapi sayang makan, ya? Mama lebih ngga ingin liat anak mama sakit. Mama janji akan bawa papa, mama janji ngga akan ngecewain Maya. Mama janji.”&#xA;&#xA;Maya mengangkat kepalanya, menatap Tasya, Rega dan Adit yang tersisa di ruangan. Ketiganya balik menatap sendu, tanpa suara. Mungkin, malam lajang terakhirnya akan ia habiskan dengan air mata.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Maya terduduk di pinggir ranjang. Ritme napasnya tidak beraturan, tubuhnya jelas menunjukkan bahwa ia gelisah. Sudah sebulan lebih ia berusaha mencari informasi tentang keberadaan ayahnya. Sayang, hasilnya nihil, bahkan hingga malam sebelum ijab kabul dilaksanakan.</p>

<p>“May, makan dulu plis.” pinta Inas yang sedari tadi menyodorkan kotak makan.</p>

<p>“Iya ih, makan dulu. Lo boleh sedih, tapi harus tetep makan lah.” imbuh Tasya. Wajahnya tampak cemas.

Kedua teman sebaya Maya itu berdiri di depannya dengan khawatir, sementara Dila, istri Mahesa, membelai punggung Maya pelan.</p>

<p>“Gue ngga mau makan sebelum papa bales chat gue.”</p>

<p>Dila menghela napas panjang. “Ngga ada salahnya makan dulu, May. Kamu butuh energi.”</p>

<p>“Aku cukup energinya dari emosi kok.” bantah Maya.</p>

<p>Kali ini bukan hanya Dila yang menghela napas panjang, melainkan Tasya dan Inas juga menghela napas super panjang. Tabiat buruk Maya—keras kepala—ini cukup membahayakan di situasi genting. Acara akad nikah benar-benar dilaksanakan besok pagi, namun belum ada satupun makanan yang masuk ke perutnya sejak tadi pagi.</p>

<p>“Kak, gimana? Ini anaknya bisa pingsan kalo gini terus.” bisik Inas ke Dila.</p>

<p>“Iya, kak. Apalagi mamanya belom dateng, yakin deh abis mamanya dateng ini anak pasti nangis-nangis. Kalo dia ngga makan bahaya banget.” Tasya ikut menambahkan.</p>

<p>“Aku bingung, jujur.” kata Dila. “Aku gatel banget pengen ngasih tau Apis. Tapi kata Maya ngga boleh.”</p>

<p>“Kasih tau aja deh, kak. Kayaknya kalo Apis yang bujuk mempan deh.”</p>

<p>“Apis kalo tau panik banget tapi, Nas. Gue sih cukup ya ngurusin satu orang panik, kalo ditambah Apis yang panik gue ogah.” jelas Tasya. “Coba tunggu Kak Adit sama Rega deh, siapa tau rada mempan sama mereka. Gue ngga tega banget ngomelin Maya soalnya.”</p>

<p>“Makan.” titah Adit. Ia dan Rega sudah tiba sepuluh menit yang lalu, tentu saja bersama makanan-makanan yang inisiatif mereka beli supaya Maya mau makan.</p>

<p>“Ngga laper.”</p>

<p>“Ngga ada bantah.”</p>

<p>“Jangan maksa, Kak.” rintih Maya.</p>

<p>“Lo juga jangan maksa. Makan. Ngga ada yang mau liat lo sakit, Maya.” perintah Adit tegas.</p>

<p>Maya mengacak rambutnya, lelah. Ia enggan menyerah, namun ia benar-benar kelelahan. Ia lelah memandang gawainya seharian, menunggu balasan dari orang yang mungkin tak lagi peduli dengan apa yang ia lakukan saat ini. Ia merunduk, bahunya bergerak naik turun cepat.</p>

<p>“Papa ha-harus bales chat gue dulu, kak.” isak Maya, menangis lagi.</p>

<p>“Lo harus makan dulu.”</p>

<p>“Gue pengen papa ada besok, kak. Sekali aja. Gue ngga minta banyak kok, gue pengen papa jadi wali nikah gue. Itu normal, kan?”</p>

<p>“Gue sama yang lain pengen lo makan, Maya. Sekali aja. Gue ngga minta banyak kok, gue pengen lo makan aja. Itu normal, kan?” Adit mengulang setiap kata yang keluar dari mulut Maya. Air mukanya benar-benar tegas, tidak goyah sama sekali dengan kerasnya Maya.</p>

<p>“T-tapi—”</p>

<p>“Jangan siksa diri lo sendiri, Maya. Plis.” pinta Adit. Suaranya melemah. Rega yang berdiri di sebelah Adit mengangguk setuju.</p>

<p>Tanpa mereka tahu, wanita paruh baya yang baru kembali dari dinasnya memperhatikan mereka dari dekat pintu. Ia sama sakitnya dengan gadisnya yang kini terisak, ia sama menyesalnya, bahkan tak jarang ia merutuki dirinya sendiri.</p>

<p>“Mama..” lirih Maya.</p>

<p>Wanita itu tersenyum simpul. Ada luka yang ia selipkan di lengkung bibirnya. Ia segera mendekat, mendekap satu-satunya cinta yang masih hidup di dalam dirinya. “Nak, maaf..”</p>

<p>Yang lainnya segera menyingkir, memberi ruang untuk ibu dan anak saling berkesah.</p>

<p>“Ma-ma, aku cuma mau satu ma. Aku mau ada papa, papa yang nikahin aku sama Hafidz, ma. Aku cuma mau itu.”</p>

<p>“Maaf, nak. Maaf..”</p>

<p>“Kenapa aku ngga bisa kayak yang lain, ma? Kenapa aku harus selalu sendirian? Kenapa aku... Kenapa?”</p>

<p>Di ujung ruangan, Tasya mencengkram kemeja Adit kasar, berusaha menahan agar tangisnya tidak mengalir. Rega menunduk,  ia sedikit banyak paham tentang keluarga kecil ini.</p>

<p>“Maaf mama ngga bisa kasih Maya kehidupan yang sempurna, maafin mama bikin Maya tersiksa bahkan sampai hari ini, yang harusnya kamu seneng-seneng.” bisik Mama Maya. Tangannya erat memeluk gadisnya. “Maaf juga mama baru datang sekarang, seharusnya mama ada sejak kemarin, nak..”</p>

<p>“Ma.. Maya pingin ada papa, sekali aja, ma..”</p>

<p>Sarah—mama Maya—menelan ludah. Ia tak ingin mengecewakan gadis kecilnya lagi setelah beribu kali ia rasa ia kecewakan buah hatinya. Tanpa Maya ketahui, Sarah sudah mencari mantan suaminya dengan cara apapun hanya untuk menjadi wali nikah Maya, namun laki-laki itu benar tak ada jejaknya.</p>

<p>“Mama usahain ya, cantik?” tanya Sarah.</p>

<p>Maya mengangguk kecil, sorot matanya sama sekali tak bercahaya.</p>

<p>“Mama akan cari papamu sampai ketemu, tapi sayang makan, ya? Mama lebih ngga ingin liat anak mama sakit. Mama janji akan bawa papa, mama janji ngga akan ngecewain Maya. Mama janji.”</p>

<p>Maya mengangkat kepalanya, menatap Tasya, Rega dan Adit yang tersisa di ruangan. Ketiganya balik menatap sendu, tanpa suara. Mungkin, malam lajang terakhirnya akan ia habiskan dengan air mata.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/aku-mau-satu</guid>
      <pubDate>Sat, 28 Aug 2021 17:25:01 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Teka-teki dan Jawabannya</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/teka-teki-dan-jawabannya-3td5?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Langit di pekarangan kantor radio mulai redup diikuti angin yang berhembus seenaknya. Cuaca seperti ini memang nyaman untuk berdiam diri dan mencari perlindungan hangat sebelum hujan badai menerpa. &#xA;&#xA;  37.544500, 127.044444&#xA;20240606 17.00&#xA;!--more--&#xA;Pesan yang masuk ke handphone Maya beberapa hari lalu inilah yang jadi alasan utama Maya untuk pulang cepat dari kantor. Padahal biasanya ia akan dengan senang hati pulang larut malam sehingga ia tidak punya celah untuk memikirkan sesuatu yang membuatnya kalut. Biasanya ia tidak mengindahkan pesan-pesan tidak jelas yang terkirim kepadanya, namun entah mengapa pesan itu seperti menarik dan memaksa dirinya untuk mencari apa maksudnya. Pesan yang cukup singkat dengan sebuah titik koordinat, tanggal serta jam itu bisa dimengerti oleh Maya bahwa ia harus pergi ke tempat itu pada waktu yang tertera. Maya merasa tertantang, bahkan rasa takut pun ia buang jauh-jauh seakan ia siap mati apabila harus.&#xA;&#xA;Sialnya, Rega tidak bisa ikut karena tiba-tiba ada panggilan kerja ke luar kota. Padahal seharusnya ia bisa duduk manis saja di bangku penumpang, sementara Rega yang menyetir. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Lah, ini mah ke arah kampus?&#34; batin Maya.&#xA;&#xA;Genap dua tahun sudah ia tidak pernah kembali ke kampus, namun ingatannya masih baik walaupun banyak yang berubah. Keadaan jalan sore itu cukup ramai dihiasi mahasiswa-mahasiswa yang baru saja menuntaskan kelas sorenya dan hendak kembali ke kos masing-masing. Dengan tangan yang termangu di setir mobil, ia tanpa sadar tersenyum menatap gerombolan mahasiswa yang hilir mudik. Ia jelas merindukan hari-hari itu.&#xA;&#xA;&#34;Kok ngelewatin kampus ya? Ini kemana sih sebenernya?&#34;&#xA;&#xA;GPS di mobilnya menunjukkan arah ke sebuah perumahan yang tidak asing baginya. Ia masih mengingat jelas toko kelontong di tikungan yang sering ia jumpai dulu sebelum mampir ke suatu tempat.&#xA;&#xA;Kontrakan cerdas.&#xA;&#xA;Rumah itu masih terlihat sama setelah ditinggal penghuninya. Pagarnya masih kokoh berdiri melindungi segala kenangan yang pernah terjadi di dalamnya, teras dan taman depannya masih menyimpan bunyi peluit yang sering penghuninya tiup ketika mereka bertarung sembari menunggu penjual lontong sayur lewat, pun, pintu depannya masih mengingat jelas bagaimana waktu itu seorang bayi datang dan mengagetkan seisi rumah.&#xA;&#xA;Gemuruh yang bersahut-sahutan semakin kencang menyadarkan Maya dari lamunannya. Maya terlihat ragu-ragu untuk membuka pintu depan, karena sekali ia membukanya, maka ia seperti merelakan dirinya dibawa menuju masa lalu. &#xA;&#xA;&#34;Bismillah.&#34; ujar Maya memantapkan hatinya. Tidak dikunci?&#xA;&#xA;Pemandangan yang tertangkap mata pertama kali setelah Maya membuka pintu adalah sofa ruang tengah. Biasanya, ia akan duduk disitu sambil menonton televisi atau sekadar mengobrol dengan Jidan tentang hari-harinya. &#xA;&#xA;Ia bersandar pada dinding, menatap seisi ruang tengah yang masih ia ingat jelas setiap peristiwa yang pernah terjadi. Terkadang indah, terkadang riuh, terkadang tangis muncul di antaranya. Maya bisa merasakan bagaimana saat itu mereka bercengkrama bersama di ruang tengah, bahkan ia seperti dapat mendengar suara-suara penghuninya. Ia rindu. &#xA;&#xA;Maya sadar matanya mulai panas hingga ia memutuskan untuk menjauh dari ruang tengah. Ia membuka satu persatu kamar yang pernah disinggahi penghuninya. Masing-masing kamar punya ceritanya sendiri, punya warnanya sendiri. Kamar-kamar itu kosong melompong, namun lagi-lagi Maya seperti bisa membawa potongan gambar yang nyata ke dalam matanya. Ia masih ingat bagaimana Nadir meletakkan speaker bentuk kotak posnya di atas meja, bagaimana Ale menempel poster radio kampusnya, bagaimana Jidan selalu menggantung tulisan don&#39;t disturb ketika sudah masuk masa pengumpulan tugas, bagaimana Rega menyimpan boneka kudanil putihnya di dekat kasur, bagaimana kamar Bagas menyiratkan cerita ia dan Hafidz, dan bagaimana Hafidz selalu menyimpan minyak angin di laci meja belajarnya. &#xA;&#xA;Ah, masa-masa kuliah memang menyenangkan.&#xA;&#xA;&#34;Terus gue di sini disuruh ngapain? Ngga ada petunjuk apa-apa.&#34; gumam Maya. Ia kembali duduk di ruang tengah setelah melihat kamar-kamar yang sudah kosong.&#xA;&#xA;Biiiip-bipppp&#xA;&#xA;  Selamat kamu sudah tiba di tujuan. &#xA;Nyalakan televisi untuk petunjuk selanjutnya.&#xA;&#xA;Nomor rahasia itu kembali mengirim pesan. Maya menengok ke kanan dan kirinya, merinding. Ia segera menekan tombol merah di remote yang ada di hadapannya.&#xA;&#xA;Layar televisi berukuran 28 inci yang kerap dibuat menonton bola oleh penghuni kontrakan itu kini menampilkan huruf-huruf yang berantakan. Ada yang kecil, ada yang warna merah, ada yang tebal. Maya benar-benar tidak tahu ia harus apa.&#xA;&#xA;  Susun huruf yang berwarna kuning.&#xA;&#xA;Maya segera mengambil secarik kertas dan pulpen yang berada di depannya. Secara perlahan ia menuliskan huruf-huruf berwarna kuning yang terus bergerak di layar. &#xA;&#xA;B, A, N, T, N, L, M, E, A, K, A, A, G.&#xA;&#xA;Tiga belas huruf yang ia temukan masih berantakan. Artinya, Maya harus kembali memutar otak untuk menyusun huruf-huruf tersebut menjadi suatu kata yang berkesinambungan.&#xA;&#xA;&#34;Bantal?&#34; tanyanya. &#34;Ngga mungkin deh, emangnya gue lagi di IKEA.&#34;&#xA;&#xA;Maya benar-benar mengerahkan sisa tenaganya di hari ini untuk menyusun kata tersebut. Ia menggunakan segala cara dan upaya agar tersusun suatu kata yang masuk akal di otaknya. &#xA;&#xA;&#34;Taman belakang?&#34;  Benarkah?&#xA;&#xA;Ia bergegas bangun dari tempat duduknya walaupun langkahnya pelan sekali mendekati pintu menuju taman belakang. Rasa takut dan penasaran seakan berebut untuk menyelimuti dirinya saat ini. Satu langkah ia bergerak, maka satu doa ia panjatkan. Isi kepalanya kini ramai saling menebak apakah lima detik kemudian ia tetap hidup atau berakhir naas.&#xA;&#xA;Dengan keyakinannya yang matang, Maya perlahan menggeser pintu kayu tersebut. Ia benar-benar siap dengan apa yang menunggu di depannya.&#xA;&#xA;&#34;LAH?! LO NGAPAIN?!&#34; teriak Maya sesaat ia membuka pintu menuju taman belakang. Yang diteriaki hanya tersenyum tipis.&#xA;&#xA;&#34;Hehe, maaf.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dah deh, lo ngga jelas pake game-game begini gue kayak ikut persami. Ini sebenernya apa sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Merem deh.&#34; pinta orang di depannya.&#xA;&#xA;&#34;INI GUE MAU DICULIK YA?!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sembarangan mulut lo. Udah, merem aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo sampe gue diculik, lo bayarin makan gue ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iye elah. Merem gece.&#34;&#xA;&#xA;Maya memejamkan matanya khidmat, entah mengapa ia menuruti perintah orang di depannya. Ia merasakan tangannya digenggam dengan hangat. Aneh memang rasanya karena ia tak terbiasa. &#xA;&#xA;&#34;Apa yang lo rasain sekarang?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;&#34;Aneh.&#34; jawab Maya. &#34;Pegang-pegangan emangnya kita mau nyebrang?&#34;&#xA;&#xA;Lelaki di depannya terkekeh. &#34;Iye, ke pelaminan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dih masa pelaminan pake nyebrang-nyebrangan? Emang kita kawin di tengah jalan raya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Serius nape sekali-sekali.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah? Suara lo kecil banget.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Serius, elah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iye, sekarang ngga usah teriak juga kali.&#34;&#xA;&#xA;Maya merasakan genggaman itu semakin kuat. Tangan yang menggenggamnya terasa amat hangat dan nyaman, seperti sanggup memberi rasa aman pada Maya dan hidupnya. &#xA;&#xA;&#34;Umur kita sekarang udah 24 tahun, May.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, terus kenapa? Ini gue masih harus merem?&#34; Maya terlihat pegal.&#xA;&#xA;&#34;Katanya lo mau nikah umur 25, kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iye-iye, ini ampe kapan gue meremnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yaudah ayo nikah.&#34; &#xA;&#xA;Glek. Maya menelan ludahnya. Ada sesuatu yang salah.&#xA;&#xA;&#34;GILA YA—Hafidz?!&#34; teriak Maya sekali lagi. Matanya membulat sempurna melihat orang di depannya.&#xA;&#xA;Hafidz tersenyum simpul, tangannya yang satu membelai kepala Maya lembut. Maya masih tidak percaya, apalagi ketika melihat si empunya suara sebelumnya kini duduk di bangku yang agak jauh darinya. &#xA;&#xA;&#34;Ini apa......&#34; ujar Maya pelan.&#xA;&#xA;&#34;Apa ya, lamaran kecil-kecilan?&#34; jawab Hafidz.&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34;&#xA;&#xA;Tasya, Rega, serta Ale, Bagas, Nadir dan Jidan di ujung sana mati-matian menahan tawa melihat wajah linglung Maya. Keenam penghuni itu benar-benar ada di sana. Sayup-sayup yang Maya dengar ketika ia masuk ke dalam rumah bukan sekadar imajinasi Maya, melainkan nyata adanya. Hafidz, Rega, Nadir, Bagas, Ale, Jidan bahkan Tasya memang ada di sana.&#xA;&#xA;&#34;Mau ngga?&#34; tanya Hafidz lagi. &#xA;&#xA;&#34;Ngga ngerti ini konsep kejutannya apa sih?&#34; Maya bingung.&#xA;&#xA;&#34;Jawab aja dulu itu, kasian temen gue jauh-jauh dari Surabaya buat ngelamar cewenya.&#34; seru Tasya. Senyumnya lebar sekali melihat sahabatnya.&#xA;&#xA;Hafidz menaikkan alisnya, ia bertanya &#39;bagaimana&#39; tanpa suara. Maya masih mencerna apa yang terjadi, ia takut ini hanya mimpi.&#xA;&#xA;&#34;May, gue sengaja ngga ngasih tau lo kalo gue mau pulang karena gue di mutasi ke rumah sakit cabang di sini. Rega juga sebenernya ke luar kota bukan ada kerjaan, tapi nyiapin ginian. Yang lain juga sama, habis pulang kerja nyempetin ke sini.&#34; jelas Hafidz.&#xA;&#xA;&#34;Tapi—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngga, niat untuk ngelamar lo nya ngga dadakan sama sekali. Idenya aja yang dadakan, kata Nadir bagus kalo ngelamarnya sambil bikin teka-teki, kata Jidan kalo ngelamar di kontrakan cerdas jadi berkesan karena lo bisa inget-inget dulu kita di sini pernah nangis bareng, ketawa bareng juga. Jadinya yaaaa, kayak gini.&#34; potongnya. Hafidz seakan mengerti pertanyaan Maya akan ke mana.&#xA;&#xA;&#34;Bentar-bentar gue jadi mau nangis.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh, kenapa?&#34; Hafidz panik.&#xA;&#xA;&#34;Ngga, ini tuh apa ya..... ngga tau ah. Gue seneng banget tapi terharu at the same time.&#34; tutur Maya. &#34;I miss you all, like crazy. Gue pernah mimpi kita bareng-bareng lagi di sini, tapi gue rasa mustahil banget karena waktu itu kita lagi sibuk semua, apalagi Apis lost contact, makin sedih lah gue. Bahkan waktu tadi gue sampe sini aja gue masih denial, kayak kok bisa gitu lokasinya nunjukkin ke sini. Waktu denger suara lo semua, gue kira gue halu. Tapi yaudahlah, karena dari awal gue masuk rumah ini gue bertekad nerima semua apa yang terjadi di dalem rumah ini, karena gue tau pasti gue bakal keinget dulu waktu kita masih main di sini. Ternyata gue malah dilamar di sini. Hehe, ngga nyangka.&#34;&#xA;&#xA;Maya yang dirangkul Tasya melanjutkan kalimatnya dengan berderai air mata. Rasa lelah di tubuhnya setelah bekerja seharian tiba-tiba lenyap, pergi entah kemana. Ia merasa pulih dikelilingi oleh manusia-manusia yang dahulu mengisi hari-harinya.&#xA;&#xA;&#34;Almaya, ayo menua..&#xA;&#xA; berdua.&#34; &#xA;&#xA;Kalimat itu.&#xA;&#xA;Bagai daratan di tengah luasnya samudera, ia akhirnya dapat tegap berdiri di tengah hangatnya pasir yang menyapa jemari kaki setelah lama terombang-ambing tanpa arah. Kalimat ajakan itu tentunya disambut oleh senyuman, lalu diikuti anggukan kecil yang nampak malu-malu. Si gadis mengangguk malu, tanda setuju untuk menua bersama.&#xA;&#xA;Laki-laki itu segera merengkuh gadisnya kuat-kuat. Ia tidak menyisakan celah untuk kehilangan yang kedua kalinya. Sekitarnya bersorak gembira layaknya hari ini pergantian tahun walaupun tanpa terompet dan cahaya kembang api. Bagaimana tidak? Mereka—Rega, Nadir, Bagas, Tasya, Jidan dan Ale—melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kisah kasih si gadis dan laki-laki. Dari manisnya janji yang terucap, hangatnya saat bersama, gelapnya perpisahan bahkan ketika si gadis dan laki-laki sama-sama ingin membubuhi titik di kisahnya, mereka tetap ada di sekelilingnya walau jauh raganya. &#xA;&#xA;Petang itu, dua insan manusia menutup lembar penantiannya. Mereka  tiba di masa depan yang mereka nantikan, janji Hafidz pun dipenuhi pada waktu yang tepat. Bagi Hafidz dan Maya, cinta mereka tumbuh seiring keduanya menjadi masing-masing pribadi yang lebih baik. &#xA;&#xA;Mark my words, the right person will definitely come at the right time.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Saya terima nikah dan kawinnya Almaya Sarafina binti Haris Airlangga dengan mas kawin yang disebutkan dibayar tunai.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bagaimana saksi? Sah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sah..&#34;&#xA;&#xA;&#34;SAAAHHH!!!!&#34;&#xA;&#xA;Almaya.&#xA;Waktu yang panjang telah berakhir—setengah dirinya telah kembali. &#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Langit di pekarangan kantor radio mulai redup diikuti angin yang berhembus seenaknya. Cuaca seperti ini memang nyaman untuk berdiam diri dan mencari perlindungan hangat sebelum hujan badai menerpa.</p>

<blockquote><p>37.544500, 127.044444
20240606 17.00

Pesan yang masuk ke <em>handphone</em> Maya beberapa hari lalu inilah yang jadi alasan utama Maya untuk pulang cepat dari kantor. Padahal biasanya ia akan dengan senang hati pulang larut malam sehingga ia tidak punya celah untuk memikirkan sesuatu yang membuatnya kalut. Biasanya ia tidak mengindahkan pesan-pesan tidak jelas yang terkirim kepadanya, namun entah mengapa pesan itu seperti menarik dan memaksa dirinya untuk mencari apa maksudnya. Pesan yang cukup singkat dengan sebuah titik koordinat, tanggal serta jam itu bisa dimengerti oleh Maya bahwa ia harus pergi ke tempat itu pada waktu yang tertera. Maya merasa tertantang, bahkan rasa takut pun ia buang jauh-jauh seakan ia siap mati apabila harus.</p></blockquote>

<p>Sialnya, Rega tidak bisa ikut karena tiba-tiba ada panggilan kerja ke luar kota. Padahal seharusnya ia bisa duduk manis saja di bangku penumpang, sementara Rega yang menyetir.</p>

<hr/>

<p>“Lah, ini mah ke arah kampus?” batin Maya.</p>

<p>Genap dua tahun sudah ia tidak pernah kembali ke kampus, namun ingatannya masih baik walaupun banyak yang berubah. Keadaan jalan sore itu cukup ramai dihiasi mahasiswa-mahasiswa yang baru saja menuntaskan kelas sorenya dan hendak kembali ke kos masing-masing. Dengan tangan yang termangu di setir mobil, ia tanpa sadar tersenyum menatap gerombolan mahasiswa yang hilir mudik. Ia jelas merindukan hari-hari itu.</p>

<p>“Kok ngelewatin kampus ya? Ini kemana sih sebenernya?”</p>

<p>GPS di mobilnya menunjukkan arah ke sebuah perumahan yang tidak asing baginya. Ia masih mengingat jelas toko kelontong di tikungan yang sering ia jumpai dulu sebelum mampir ke suatu tempat.</p>

<p>Kontrakan cerdas.</p>

<p>Rumah itu masih terlihat sama setelah ditinggal penghuninya. Pagarnya masih kokoh berdiri melindungi segala kenangan yang pernah terjadi di dalamnya, teras dan taman depannya masih menyimpan bunyi peluit yang sering penghuninya tiup ketika mereka bertarung sembari menunggu penjual lontong sayur lewat, pun, pintu depannya masih mengingat jelas bagaimana waktu itu seorang bayi datang dan mengagetkan seisi rumah.</p>

<p>Gemuruh yang bersahut-sahutan semakin kencang menyadarkan Maya dari lamunannya. Maya terlihat ragu-ragu untuk membuka pintu depan, karena sekali ia membukanya, maka ia seperti merelakan dirinya dibawa menuju masa lalu.</p>

<p>“Bismillah.” ujar Maya memantapkan hatinya. <em>Tidak dikunci?</em></p>

<p>Pemandangan yang tertangkap mata pertama kali setelah Maya membuka pintu adalah sofa ruang tengah. Biasanya, ia akan duduk disitu sambil menonton televisi atau sekadar mengobrol dengan Jidan tentang hari-harinya.</p>

<p>Ia bersandar pada dinding, menatap seisi ruang tengah yang masih ia ingat jelas setiap peristiwa yang pernah terjadi. Terkadang indah, terkadang riuh, terkadang tangis muncul di antaranya. Maya bisa merasakan bagaimana saat itu mereka bercengkrama bersama di ruang tengah, bahkan ia seperti dapat mendengar suara-suara penghuninya. Ia rindu.</p>

<p>Maya sadar matanya mulai panas hingga ia memutuskan untuk menjauh dari ruang tengah. Ia membuka satu persatu kamar yang pernah disinggahi penghuninya. Masing-masing kamar punya ceritanya sendiri, punya warnanya sendiri. Kamar-kamar itu kosong melompong, namun lagi-lagi Maya seperti bisa membawa potongan gambar yang nyata ke dalam matanya. Ia masih ingat bagaimana Nadir meletakkan <em>speaker</em> bentuk kotak posnya di atas meja, bagaimana Ale menempel poster radio kampusnya, bagaimana Jidan selalu menggantung tulisan <em>don&#39;t disturb</em> ketika sudah masuk masa pengumpulan tugas, bagaimana Rega menyimpan boneka kudanil putihnya di dekat kasur, bagaimana kamar Bagas menyiratkan cerita ia dan Hafidz, dan bagaimana Hafidz selalu menyimpan minyak angin di laci meja belajarnya.</p>

<p><em>Ah, masa-masa kuliah memang menyenangkan.</em></p>

<p>“Terus gue di sini disuruh ngapain? Ngga ada petunjuk apa-apa.” gumam Maya. Ia kembali duduk di ruang tengah setelah melihat kamar-kamar yang sudah kosong.</p>

<p><em>Biiiip-bipppp</em></p>

<blockquote><p>Selamat kamu sudah tiba di tujuan.
Nyalakan televisi untuk petunjuk selanjutnya.</p></blockquote>

<p>Nomor rahasia itu kembali mengirim pesan. Maya menengok ke kanan dan kirinya, merinding. Ia segera menekan tombol merah di <em>remote</em> yang ada di hadapannya.</p>

<p>Layar televisi berukuran 28 inci yang kerap dibuat menonton bola oleh penghuni kontrakan itu kini menampilkan huruf-huruf yang berantakan. Ada yang kecil, ada yang warna merah, ada yang tebal. Maya benar-benar tidak tahu ia harus apa.</p>

<blockquote><p>Susun huruf yang berwarna kuning.</p></blockquote>

<p>Maya segera mengambil secarik kertas dan pulpen yang berada di depannya. Secara perlahan ia menuliskan huruf-huruf berwarna kuning yang terus bergerak di layar.</p>

<p>B, A, N, T, N, L, M, E, A, K, A, A, G.</p>

<p>Tiga belas huruf yang ia temukan masih berantakan. Artinya, Maya harus kembali memutar otak untuk menyusun huruf-huruf tersebut menjadi suatu kata yang berkesinambungan.</p>

<p>“Bantal?” tanyanya. “Ngga mungkin deh, emangnya gue lagi di IKEA.”</p>

<p>Maya benar-benar mengerahkan sisa tenaganya di hari ini untuk menyusun kata tersebut. Ia menggunakan segala cara dan upaya agar tersusun suatu kata yang masuk akal di otaknya.</p>

<p>“Taman belakang?”  <em>Benarkah?</em></p>

<p>Ia bergegas bangun dari tempat duduknya walaupun langkahnya pelan sekali mendekati pintu menuju taman belakang. Rasa takut dan penasaran seakan berebut untuk menyelimuti dirinya saat ini. Satu langkah ia bergerak, maka satu doa ia panjatkan. Isi kepalanya kini ramai saling menebak apakah lima detik kemudian ia tetap hidup atau berakhir naas.</p>

<p>Dengan keyakinannya yang matang, Maya perlahan menggeser pintu kayu tersebut. Ia benar-benar siap dengan apa yang menunggu di depannya.</p>

<p>“LAH?! LO NGAPAIN?!” teriak Maya sesaat ia membuka pintu menuju taman belakang. Yang diteriaki hanya tersenyum tipis.</p>

<p>“Hehe, maaf.”</p>

<p>“Dah deh, lo ngga jelas pake <em>game-game</em> begini gue kayak ikut persami. Ini sebenernya apa sih?”</p>

<p>“Merem deh.” pinta orang di depannya.</p>

<p>“INI GUE MAU DICULIK YA?!”</p>

<p>“Sembarangan mulut lo. Udah, merem aja.”</p>

<p>“Kalo sampe gue diculik, lo bayarin makan gue ya?”</p>

<p>“Iye elah. Merem gece.”</p>

<p>Maya memejamkan matanya khidmat, entah mengapa ia menuruti perintah orang di depannya. Ia merasakan tangannya digenggam dengan hangat. Aneh memang rasanya karena ia tak terbiasa.</p>

<p>“Apa yang lo rasain sekarang?” tanyanya.</p>

<p>“Aneh.” jawab Maya. “Pegang-pegangan emangnya kita mau nyebrang?”</p>

<p>Lelaki di depannya terkekeh. “Iye, ke pelaminan.”</p>

<p>“Dih masa pelaminan pake nyebrang-nyebrangan? Emang kita kawin di tengah jalan raya?”</p>

<p>“Serius nape sekali-sekali.”</p>

<p>“Hah? Suara lo kecil banget.”</p>

<p>“Serius, elah.”</p>

<p>“Iye, sekarang ngga usah teriak juga kali.”</p>

<p>Maya merasakan genggaman itu semakin kuat. Tangan yang menggenggamnya terasa amat hangat dan nyaman, seperti sanggup memberi rasa aman pada Maya dan hidupnya.</p>

<p>“Umur kita sekarang udah 24 tahun, May.”</p>

<p>“Iya, terus kenapa? Ini gue masih harus merem?” Maya terlihat pegal.</p>

<p>“Katanya lo mau nikah umur 25, kan?”</p>

<p>“Iye-iye, ini ampe kapan gue meremnya?”</p>

<p>“Yaudah ayo nikah.”</p>

<p><em>Glek</em>. Maya menelan ludahnya. Ada sesuatu yang salah.</p>

<p>“GILA YA—Hafidz?!” teriak Maya sekali lagi. Matanya membulat sempurna melihat orang di depannya.</p>

<p>Hafidz tersenyum simpul, tangannya yang satu membelai kepala Maya lembut. Maya masih tidak percaya, apalagi ketika melihat si empunya suara sebelumnya kini duduk di bangku yang agak jauh darinya.</p>

<p>“Ini apa......” ujar Maya pelan.</p>

<p>“Apa ya, lamaran kecil-kecilan?” jawab Hafidz.</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>Tasya, Rega, serta Ale, Bagas, Nadir dan Jidan di ujung sana mati-matian menahan tawa melihat wajah linglung Maya. Keenam penghuni itu benar-benar ada di sana. Sayup-sayup yang Maya dengar ketika ia masuk ke dalam rumah bukan sekadar imajinasi Maya, melainkan nyata adanya. Hafidz, Rega, Nadir, Bagas, Ale, Jidan bahkan Tasya memang ada di sana.</p>

<p>“Mau ngga?” tanya Hafidz lagi.</p>

<p>“Ngga ngerti ini konsep kejutannya apa sih?” Maya bingung.</p>

<p>“Jawab aja dulu itu, kasian temen gue jauh-jauh dari Surabaya buat ngelamar cewenya.” seru Tasya. Senyumnya lebar sekali melihat sahabatnya.</p>

<p>Hafidz menaikkan alisnya, ia bertanya &#39;bagaimana&#39; tanpa suara. Maya masih mencerna apa yang terjadi, ia takut ini hanya mimpi.</p>

<p>“May, gue sengaja ngga ngasih tau lo kalo gue mau pulang karena gue di mutasi ke rumah sakit cabang di sini. Rega juga sebenernya ke luar kota bukan ada kerjaan, tapi nyiapin ginian. Yang lain juga sama, habis pulang kerja nyempetin ke sini.” jelas Hafidz.</p>

<p>“Tapi—”</p>

<p>“Ngga, niat untuk ngelamar lo nya ngga dadakan sama sekali. Idenya aja yang dadakan, kata Nadir bagus kalo ngelamarnya sambil bikin teka-teki, kata Jidan kalo ngelamar di kontrakan cerdas jadi berkesan karena lo bisa inget-inget dulu kita di sini pernah nangis bareng, ketawa bareng juga. Jadinya yaaaa, kayak gini.” potongnya. Hafidz seakan mengerti pertanyaan Maya akan ke mana.</p>

<p>“Bentar-bentar gue jadi mau nangis.”</p>

<p>“Eh, kenapa?” Hafidz panik.</p>

<p>“Ngga, ini tuh apa ya..... ngga tau ah. Gue seneng banget tapi terharu <em>at the same time</em>.” tutur Maya. “<em>I miss you all, like crazy</em>. Gue pernah mimpi kita bareng-bareng lagi di sini, tapi gue rasa mustahil banget karena waktu itu kita lagi sibuk semua, apalagi Apis <em>lost contact</em>, makin sedih lah gue. Bahkan waktu tadi gue sampe sini aja gue masih <em>denial</em>, kayak kok bisa gitu lokasinya nunjukkin ke sini. Waktu denger suara lo semua, gue kira gue halu. Tapi yaudahlah, karena dari awal gue masuk rumah ini gue bertekad nerima semua apa yang terjadi di dalem rumah ini, karena gue tau pasti gue bakal keinget dulu waktu kita masih main di sini. Ternyata gue malah dilamar di sini. Hehe, ngga nyangka.”</p>

<p>Maya yang dirangkul Tasya melanjutkan kalimatnya dengan berderai air mata. Rasa lelah di tubuhnya setelah bekerja seharian tiba-tiba lenyap, pergi entah kemana. Ia merasa pulih dikelilingi oleh manusia-manusia yang dahulu mengisi hari-harinya.</p>

<p>“Almaya, ayo menua..</p>

<p> berdua.”</p>

<p>Kalimat itu.</p>

<p>Bagai daratan di tengah luasnya samudera, ia akhirnya dapat tegap berdiri di tengah hangatnya pasir yang menyapa jemari kaki setelah lama terombang-ambing tanpa arah. Kalimat ajakan itu tentunya disambut oleh senyuman, lalu diikuti anggukan kecil yang nampak malu-malu. Si gadis mengangguk malu, tanda setuju untuk menua bersama.</p>

<p>Laki-laki itu segera merengkuh gadisnya kuat-kuat. Ia tidak menyisakan celah untuk kehilangan yang kedua kalinya. Sekitarnya bersorak gembira layaknya hari ini pergantian tahun walaupun tanpa terompet dan cahaya kembang api. Bagaimana tidak? Mereka—Rega, Nadir, Bagas, Tasya, Jidan dan Ale—melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kisah kasih si gadis dan laki-laki. Dari manisnya janji yang terucap, hangatnya saat bersama, gelapnya perpisahan bahkan ketika si gadis dan laki-laki sama-sama ingin membubuhi titik di kisahnya, mereka tetap ada di sekelilingnya walau jauh raganya.</p>

<p>Petang itu, dua insan manusia menutup lembar penantiannya. Mereka  tiba di masa depan yang mereka nantikan, janji Hafidz pun dipenuhi pada waktu yang tepat. Bagi Hafidz dan Maya, cinta mereka tumbuh seiring keduanya menjadi masing-masing pribadi yang lebih baik.</p>

<p><em>Mark my words, the right person will definitely come at the right time</em>.</p>

<hr/>

<p><em>“Saya terima nikah dan kawinnya Almaya Sarafina binti Haris Airlangga dengan mas kawin yang disebutkan dibayar tunai.”</em></p>

<p><em>“Bagaimana saksi? Sah?”</em></p>

<p><em>“Sah..”</em></p>

<p><em>“SAAAHHH!!!!”</em></p>

<p>Almaya.
Waktu yang panjang telah berakhir—setengah dirinya telah kembali.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/teka-teki-dan-jawabannya-3td5</guid>
      <pubDate>Mon, 14 Jun 2021 15:46:56 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Surabaya, 2023</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/rumah-sakit-di-surabaya?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  &#34;Maaf bu, Apis belom bisa pulang kayaknya.&#34;&#xA;&#xA;  &#34;Ulang tahunmu loh le, mosok dua kali ulang tahun ngga dirumah. Dua kali ulang tahun, hampir dua kali lebaran juga.&#34;&#xA;&#xA;  &#34;Bu, Apis juga maunya mah pulang, tapi kerjaannya padet banget, bu. Apis juga kangen sama Ibu-Bapak, Apis juga mau liat Kak Dila sama Abang, Apis juga pengen meluk Abas lagi.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;  &#34;Ya nak. Ibu bisa apa kalo gini, kerjaanmu lebih penting.&#34;&#xA;&#xA;  &#34;Maaf ya, Bu. Apis janji tahun depan Apis pasti balik. Ibu sehat-sehat ya sama Bapak, titip salam buat Abas, tolong bilangin Apis kangen sama Abas, jangan sampe Abas nanti lupa sama Apis.&#34;&#xA;&#xA;  &#34;Ya.. Abas ngga terlalu kangen kamu karena Maya sering kesini main sama Abas. Dia sering ceritain kamu ke Abas, jadi Abas ngga bakal lupa kamu.&#34;&#xA;&#xA;  &#34;Maya, bu?&#34;&#xA;&#xA;  &#34;Iya, pacarmu itu rajin loh kesini.&#34;&#xA;&#xA;Glek, Hafidz menelan ludah.&#xA;&#xA;  &#34;Hehe, bukan pacar bu. Hafidz mau cari makan dulu ya bu, laper.&#34;&#xA;&#xA;  &#34;Kalo bukan pacar, dipacarin dong. Hehe, yaudah sana makan ya. Makan yang enak, yang sehat.&#34;&#xA;&#xA;  &#34;Wassalamualaikum, bu.&#34;&#xA;&#xA;  &#34;Ya, waalaikumsalam.&#34;&#xA;&#xA;Hafidz membiarkan tubuhnya berguling ke sisi kanan kasur. Dirinya bimbang, sudah setahun lebih tidak kembali ke rumah tetapi pekerjaannya benar-benar tidak membiarkan dirinya untuk pulang ke kampung halaman. Hampir setahun juga ia membiarkan laman pesan dirinya dan gadisnya berdebu, tidak disapu bahkan jarang ia tengok.&#xA;&#xA;Tanggungan pekerjaan untuk Hafidz sendiri memang sebenernya tidak sebanyak itu, namun dunia kerja tetaplah dunia kerja. Ada saja orang licik yang bertindak semaunya, memangkas A, menambah B, bahkan menitipkan tanggung jawabnya pada orang lain. Orang lain itu Hafidz. Senior di bagiannya yang sok berkuasa melimpahkan hampir seluruh pekerjaannya kepada Hafidz. Dengan mantra &#39;lo kan bro gue&#39;, tumpukan pekerjaan yang ia miliki secara cepat pindah ke tangan Hafidz.&#xA;&#xA;&#34;Emang kerja tuh harusnya ngga pinter akademik doang, tapi pinter liat muslihat orang juga biar ngga kayak gue.&#34; batin Hafidz.&#xA;&#xA;Sebaiknya malam ini ia tidur saja, perutnya sudah tiba-tiba kenyang dengan penyesalan yang banyak jenisnya,&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Satu gelas kopi dengan merek berwarna hijau teronggok di atas meja kerja Hafidz. Kopi berwarna keruh tersebut masih dingin dengan efek embun-embun di sekitar gelasnya. &#xA;&#xA;Have a nice day, Apis! :)&#xA;Begitu tulisan di gelasnya.&#xA;&#xA;Hafidz segera melongok ke bilik sebrangnya, bertemu pandang dengan gadis rambut sebahu berkacamata yang sedang tersenyum ke arahnya.&#xA;&#xA;&#34;Lo?&#34; tanya Hafidz tanpa suara. Wanita itu mengangguk dan tersenyum. Hafidz lekas berterima kasih tanpa suara juga.&#xA;&#xA;Elia namanya. Ia diterima di rumah sakit bersamaan dengan Hafidz, mungkin itu yang membuat mereka dekat. Namun, siapapun pasti akan bilang bahwa perasaan Elia ke Hafidz lebih dari sekadar teman dilihat dari mata Elia yang selalu berbinar-binar ketika menatap Hafidz. Hafidz dan Elia sering pergi untuk sekadar cari makan atau bahkan nonton film bersama. Tetapi bagi Hafidz, Elia sama saja posisinya dengan Tasya, teman. Berbeda dengan Maya yang sampai sekarang masih mengisi hati dan pikirannya.&#xA;&#xA;Menurut Hafidz, apa yang ia lakukan kepada Elia masih dalam batas wajar. Ia bahkan selalu berusaha untuk tidak menaruh harapan bagi Elia. Namun hati siapa yang bisa atur, jikalau Elia memang memilih jatuh hati pada Hafidz walau tanpa harapan yang diberikan sekalipun.&#xA;&#xA;&#34;Pis, kerjain lagi ya. Abang mau sebat dulu sebentar.&#34; sosor si licik tiba-tiba. Ia menyerahkan beberapa tumpuk berkas ke atas meja Hafidz tanpa kata tolong. Sungguh tidak mencerminkan seorang senior, bukan?&#xA;&#xA;&#34;Sebat-sebat, noh paru-paru lo lembek kayak jeli.&#34; sungut Hafidz dalam diam. &#xA;&#xA;Sebuah tangan mungil meraih satu tumpuk berkas di hadapannya secara tiba-tiba. Itu tangan Elia. &#34;Eh, jangan El.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggapapa, kerjaan aku dikit lagi beres soalnya. Aku bantuin aja ya, kasian kamu kalo lembur terus-terusan.&#34; bujuk Elia lembut.&#xA;&#xA;&#34;El, aku ngga mau ngerepotin orang. Nanti jatohnya malah jadi kayak utang. Ngga usah ngga papa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Alah, kayak sama siapa aja sih, Pis.&#34;&#xA;&#xA;Elia melenggang kembali ke biliknya dengan setumpuk berkas yang ia ambil paksa dari rekan, ekhm rekan cintanya. Jika pepatah bilang cinta itu buta, maka bagi Elia, cinta itu mati rasa. Ia jelas berbohong kepada Hafidz mengenai pekerjaannya yang sebentar lagi selesai, padahal jelas-jelas ia belum memulai satupun pekerjaannya sedari tadi hanya karena sibuk memesan kopi untuk Hafidz.&#xA;&#xA;Walaupun yang dia lakukan sama dengan menambah pekerjaannya, ia akan tetap mengerjakannya dengan senang hati dan senyum tiga jari. Apabila itu untuk seseorang yang ia cinta, apapun ia lakukan. Tabiat Elia ini sudah banyak diketahui orang, banyak juga yang sering menasehatinya, tetapi Elia tetaplah Elia. &#xA;&#xA;Mendekati jam makan siang, Elia kembali menghampiri meja Hafidz untuk mengajak makan bersama. Untungnya dewi fortuna berpihak kepada Hafidz, Elia tiba-tiba diajak makan oleh saudara sepupunya sehingga tidak mungkin untuknya memboyong Hafidz.&#xA;&#xA;&#34;Gue liat-liat Elia udah cinta mati ama lo nih, Pis.&#34; ledek Guntur, teman kerja Hafidz yang rajin bawa bekal.&#xA;&#xA;&#34;Buat lu aja, Gun. Rela gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lah, gue kira lo naksir juga ama Eli?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Mana ada.&#34; pungkas Hafidz diikuti tawa Guntur yang menggelegar sesuai namanya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Jam menunjukkan pukul delapan malam. Ruangan kerja itu berangsur-angsur sepi. Hanya tersisa sekitar lima orang yang masih berkutat dengan komputernya masing-masing. Hafidz merasakan tulang punggungnya semakin kaku terhitung dua belas jam sudah ia duduk di depan komputer menyelesaikan pekerjaannya. Ia merasa hari ini sudah cukup ketika ia mengingat kembali pepatah Rega;&#xA;&#xA;&#39;Kerja jangan kaya orang kesetanan, yang wajar-wajar aja. Kalo lo mati mah perusahaan bisa cari karyawan baru, tapi keluarga lo ngga bisa nyari anggota baru.&#39;&#xA;&#xA;Ia bergegas merapikan barang-barangnya dan mematikan komputernya lalu pamit dengan orang yang tersisa di ruangan. Sedikit aneh ketika ia tidak melihat Elia di kursinya, padahal biasanya Elia akan pulang jika ia juga pulang.&#xA;&#xA;&#34;Bagus lah, bisa istirahat—ANJING!&#34; umpat Hafidz saat melewati lobi rumah sakit. Untung saja malam itu lobi rumah sakit tidak seramai biasanya, jadi rasa malu Hafidz masih bisa ia tolerir. &#xA;&#xA;Hafidz mengumpat bukan tanpa alasan. Kau pernah merasakan menghindar dari seseorang dan senang ketika kau berhasil lari darinya namun tiba-tiba orang itu muncul di depanmu? Jika pernah, selamat kau bisa tahu apa yang dirasakan Hafidz malam ini. Elia tidak ada di meja kerjanya sebab Elia pulang terlebih dahulu untuk kembali dengan gaya yang berbeda. Elia dengan terusan selututnya yang berwarna kuning dengan aksen bunga-bunga seakan jadi pemanis di tengah lobi rumah sakit yang dingin ini.&#xA;&#xA;&#34;Hai.&#34; sapa Elia.&#xA;&#xA;&#34;El-Elia? Kamu ngapain di sini? Tadi bukannya udah pulang?&#34; jawab Hafidz gelagapan.&#xA;&#xA;Elia tidak menjawab, melainkan mengamit tangannya dan menuntun dirinya menuju taman tengah rumah sakit. Jujur, setahun lebih bekerja di sini, Hafidz belum pernah menginjakkan kakinya di taman tengah rumah sakit. Ia lebih suka pergi ke taman depan sambil melihat mobil yang lalu-lalang. Ternyata, tamah tengah lebih-lebih indahnya. Lampu yang temaram, diiringi alunan melodi samar-samar yang entah dari mana sumbernya, dan air mancur yang menambah indah suasana.&#xA;&#xA;&#34;Ada apa, El?&#34; tanya Hafidz to the point sesaat mereka duduk di dekat air mancur. &#34;Kamu kenapa balik lagi ke sini? Udah bagus pulang tadi kan bisa istirahat.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku kepikiran kamu.&#34;&#xA;&#xA;Alis Hafidz terangkat. Heran. &#34;Maksudnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku udah nyoba istirahat, tapi aku terus-terusan kepikiran kamu.&#34; tutur Elia pelan.&#xA;&#xA;&#34;Kok bisa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku kayak punya utang sama kamu.&#34;&#xA;&#xA;Hafidz terkekeh. &#34;Ada juga aku kali yang ngerasa punya utang sama kamu, tadi kan kamu bantuin aku ngerjain berkas, terus kamu beliin aku kopi juga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku rasa aku harus nanya sesuatu ke kamu. Pertanyaan ini ada di otak aku udah lama banget, tapi aku ngga pernah tau jawabannya. Tiap malam aku ngga bisa tidur mikirin ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mau nanya apa, El?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo aku ngajak kamu pacaran, kamu mau kah?&#34; lontar Elia lugas. Tanpa keraguan bahkan tidak sedikitpun bibirnya bergetar.&#xA;&#xA;Hafidz menarik napasnya. Ia tahu cepat atau lambat, malam ini akan tiba. Ia diam sejenak, lagi-lagi otaknya sedang menyusun kalimat yang paling sedikit risikonya.&#xA;&#xA;&#34;El, maaf.&#34; &#xA;&#xA;Tolong beri Hafidz gelar tambahan, si hobi minta maaf.&#xA;&#xA;&#34;Ah, oke..&#34; lirih Elia.&#xA;&#xA;&#34;Maaf banget, El. Aku cinta sama orang lain.&#34;&#xA;&#xA;&#34;It&#39;s okay. Makasih, Hafidz udah mau ngasih jawaban yang jelas. Kalo kayak gini, aku kan bisa mundur.&#34; ujar Elia. &#34;Aku tipe orang yang baru mundur ketika memang udah ada red sign, Pis. Maaf ya kalo selama ini kamu merasa terganggu. Yakin deh, besok-besok aku ngga begitu lagi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukannya itu justru nyakitin kamu ya, El?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya memang. Tapi aku puas aja aku pernah berjuang buat orang, walaupun ya ngga ada timbal baliknya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;El—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku lagi mikir, orang yang kamu taksir tuh pasti beruntung banget ya bisa dapet kasih sayang dari kamu? Pasti dia bahagia banget sekarang.&#34; Elia berkicau bebas.&#xA;&#xA;Hafidz terdiam sembari mendengarkan monolog Elia. Matanya kabur menatap air mancur yang terus menyemburkan airnya. Elia terus-terusan membicarakan betapa indah hidup &#39;gadis kecintaan&#39; Hafidz dalam monolognya tanpa pernah Elia tahu bahwa si gadis kecintaan Hafidz juga sama lara hatinya dengan dirinya.&#xA;&#xA;Malam ini, Hafidz sepuluh ribu kali lipat merasa bersalah atas rasa cintanya.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>“Maaf bu, Apis belom bisa pulang kayaknya.”</em></p>

<p><em>“Ulang tahunmu loh le, mosok dua kali ulang tahun ngga dirumah. Dua kali ulang tahun, hampir dua kali lebaran juga.”</em></p>

<p><em>“Bu, Apis juga maunya mah pulang, tapi kerjaannya padet banget, bu. Apis juga kangen sama Ibu-Bapak, Apis juga mau liat Kak Dila sama Abang, Apis juga pengen meluk Abas lagi.”</em></p></blockquote>



<blockquote><p><em>“Ya nak. Ibu bisa apa kalo gini, kerjaanmu lebih penting.”</em></p>

<p><em>“Maaf ya, Bu. Apis janji tahun depan Apis pasti balik. Ibu sehat-sehat ya sama Bapak, titip salam buat Abas, tolong bilangin Apis kangen sama Abas, jangan sampe Abas nanti lupa sama Apis.”</em></p>

<p><em>“Ya.. Abas ngga terlalu kangen kamu karena Maya sering kesini main sama Abas. Dia sering ceritain kamu ke Abas, jadi Abas ngga bakal lupa kamu.”</em></p>

<p><em>“Maya, bu?”</em></p>

<p><em>“Iya, pacarmu itu rajin loh kesini.”</em></p></blockquote>

<p>Glek, Hafidz menelan ludah.</p>

<blockquote><p><em>“Hehe, bukan pacar bu. Hafidz mau cari makan dulu ya bu, laper.”</em></p>

<p><em>“Kalo bukan pacar, dipacarin dong. Hehe, yaudah sana makan ya. Makan yang enak, yang sehat.”</em></p>

<p><em>“Wassalamualaikum, bu.”</em></p>

<p><em>“Ya, waalaikumsalam.”</em></p></blockquote>

<p>Hafidz membiarkan tubuhnya berguling ke sisi kanan kasur. Dirinya bimbang, sudah setahun lebih tidak kembali ke rumah tetapi pekerjaannya benar-benar tidak membiarkan dirinya untuk pulang ke kampung halaman. Hampir setahun juga ia membiarkan laman pesan dirinya dan gadisnya berdebu, tidak disapu bahkan jarang ia tengok.</p>

<p>Tanggungan pekerjaan untuk Hafidz sendiri memang sebenernya tidak sebanyak itu, namun dunia kerja tetaplah dunia kerja. Ada saja orang licik yang bertindak semaunya, memangkas A, menambah B, bahkan menitipkan tanggung jawabnya pada orang lain. Orang lain itu Hafidz. Senior di bagiannya yang sok berkuasa melimpahkan hampir seluruh pekerjaannya kepada Hafidz. Dengan mantra &#39;<em>lo kan bro gue&#39;</em>, tumpukan pekerjaan yang ia miliki secara cepat pindah ke tangan Hafidz.</p>

<p>“Emang kerja tuh harusnya ngga pinter akademik doang, tapi pinter liat muslihat orang juga biar ngga kayak gue.” batin Hafidz.</p>

<p>Sebaiknya malam ini ia tidur saja, perutnya sudah tiba-tiba kenyang dengan penyesalan yang banyak jenisnya,</p>

<hr/>

<p>Satu gelas kopi dengan merek berwarna hijau teronggok di atas meja kerja Hafidz. Kopi berwarna keruh tersebut masih dingin dengan efek embun-embun di sekitar gelasnya.</p>

<p><em>Have a nice day, Apis! :)</em>
Begitu tulisan di gelasnya.</p>

<p>Hafidz segera melongok ke bilik sebrangnya, bertemu pandang dengan gadis rambut sebahu berkacamata yang sedang tersenyum ke arahnya.</p>

<p>“Lo?” tanya Hafidz tanpa suara. Wanita itu mengangguk dan tersenyum. Hafidz lekas berterima kasih tanpa suara juga.</p>

<p>Elia namanya. Ia diterima di rumah sakit bersamaan dengan Hafidz, mungkin itu yang membuat mereka dekat. Namun, siapapun pasti akan bilang bahwa perasaan Elia ke Hafidz lebih dari sekadar teman dilihat dari mata Elia yang selalu berbinar-binar ketika menatap Hafidz. Hafidz dan Elia sering pergi untuk sekadar cari makan atau bahkan nonton film bersama. Tetapi bagi Hafidz, Elia sama saja posisinya dengan Tasya, teman. Berbeda dengan Maya yang sampai sekarang masih mengisi hati dan pikirannya.</p>

<p>Menurut Hafidz, apa yang ia lakukan kepada Elia masih dalam batas wajar. Ia bahkan selalu berusaha untuk tidak menaruh harapan bagi Elia. Namun hati siapa yang bisa atur, jikalau Elia memang memilih jatuh hati pada Hafidz walau tanpa harapan yang diberikan sekalipun.</p>

<p>“Pis, kerjain lagi ya. Abang mau sebat dulu sebentar.” sosor si licik tiba-tiba. Ia menyerahkan beberapa tumpuk berkas ke atas meja Hafidz tanpa kata tolong. Sungguh tidak mencerminkan seorang senior, bukan?</p>

<p>“Sebat-sebat, noh paru-paru lo lembek kayak jeli.” sungut Hafidz dalam diam.</p>

<p>Sebuah tangan mungil meraih satu tumpuk berkas di hadapannya secara tiba-tiba. Itu tangan Elia. “Eh, jangan El.”</p>

<p>“Nggapapa, kerjaan aku dikit lagi beres soalnya. Aku bantuin aja ya, kasian kamu kalo lembur terus-terusan.” bujuk Elia lembut.</p>

<p>“El, aku ngga mau ngerepotin orang. Nanti jatohnya malah jadi kayak utang. Ngga usah ngga papa.”</p>

<p>“Alah, kayak sama siapa aja sih, Pis.”</p>

<p>Elia melenggang kembali ke biliknya dengan setumpuk berkas yang ia ambil paksa dari rekan, <em>ekhm</em> rekan cintanya. Jika pepatah bilang cinta itu buta, maka bagi Elia, cinta itu mati rasa. Ia jelas berbohong kepada Hafidz mengenai pekerjaannya yang sebentar lagi selesai, padahal jelas-jelas ia belum memulai satupun pekerjaannya sedari tadi hanya karena sibuk memesan kopi untuk Hafidz.</p>

<p>Walaupun yang dia lakukan sama dengan menambah pekerjaannya, ia akan tetap mengerjakannya dengan senang hati dan senyum tiga jari. Apabila itu untuk seseorang yang ia cinta, apapun ia lakukan. Tabiat Elia ini sudah banyak diketahui orang, banyak juga yang sering menasehatinya, tetapi Elia tetaplah Elia.</p>

<p>Mendekati jam makan siang, Elia kembali menghampiri meja Hafidz untuk mengajak makan bersama. Untungnya dewi fortuna berpihak kepada Hafidz, Elia tiba-tiba diajak makan oleh saudara sepupunya sehingga tidak mungkin untuknya memboyong Hafidz.</p>

<p>“Gue liat-liat Elia udah cinta mati ama lo nih, Pis.” ledek Guntur, teman kerja Hafidz yang rajin bawa bekal.</p>

<p>“Buat lu aja, Gun. Rela gue.”</p>

<p>“Lah, gue kira lo naksir juga ama Eli?”</p>

<p>“Mana ada.” pungkas Hafidz diikuti tawa Guntur yang menggelegar sesuai namanya.</p>

<hr/>

<p>Jam menunjukkan pukul delapan malam. Ruangan kerja itu berangsur-angsur sepi. Hanya tersisa sekitar lima orang yang masih berkutat dengan komputernya masing-masing. Hafidz merasakan tulang punggungnya semakin kaku terhitung dua belas jam sudah ia duduk di depan komputer menyelesaikan pekerjaannya. Ia merasa hari ini sudah cukup ketika ia mengingat kembali pepatah Rega;</p>

<p>&#39;<em>Kerja jangan kaya orang kesetanan, yang wajar-wajar aja. Kalo lo mati mah perusahaan bisa cari karyawan baru, tapi keluarga lo ngga bisa nyari anggota baru.</em>&#39;</p>

<p>Ia bergegas merapikan barang-barangnya dan mematikan komputernya lalu pamit dengan orang yang tersisa di ruangan. Sedikit aneh ketika ia tidak melihat Elia di kursinya, padahal biasanya Elia akan pulang jika ia juga pulang.</p>

<p>“Bagus lah, bisa istirahat—ANJING!” umpat Hafidz saat melewati lobi rumah sakit. Untung saja malam itu lobi rumah sakit tidak seramai biasanya, jadi rasa malu Hafidz masih bisa ia tolerir.</p>

<p>Hafidz mengumpat bukan tanpa alasan. Kau pernah merasakan menghindar dari seseorang dan senang ketika kau berhasil lari darinya namun tiba-tiba orang itu muncul di depanmu? Jika pernah, selamat kau bisa tahu apa yang dirasakan Hafidz malam ini. Elia tidak ada di meja kerjanya sebab Elia pulang terlebih dahulu untuk kembali dengan gaya yang berbeda. Elia dengan terusan selututnya yang berwarna kuning dengan aksen bunga-bunga seakan jadi pemanis di tengah lobi rumah sakit yang dingin ini.</p>

<p>“Hai.” sapa Elia.</p>

<p>“El-Elia? Kamu ngapain di sini? Tadi bukannya udah pulang?” jawab Hafidz gelagapan.</p>

<p>Elia tidak menjawab, melainkan mengamit tangannya dan menuntun dirinya menuju taman tengah rumah sakit. Jujur, setahun lebih bekerja di sini, Hafidz belum pernah menginjakkan kakinya di taman tengah rumah sakit. Ia lebih suka pergi ke taman depan sambil melihat mobil yang lalu-lalang. Ternyata, tamah tengah lebih-lebih indahnya. Lampu yang temaram, diiringi alunan melodi samar-samar yang entah dari mana sumbernya, dan air mancur yang menambah indah suasana.</p>

<p>“Ada apa, El?” tanya Hafidz <em>to the point</em> sesaat mereka duduk di dekat air mancur. “Kamu kenapa balik lagi ke sini? Udah bagus pulang tadi kan bisa istirahat.”</p>

<p>“Aku kepikiran kamu.”</p>

<p>Alis Hafidz terangkat. Heran. “Maksudnya?”</p>

<p>“Aku udah nyoba istirahat, tapi aku terus-terusan kepikiran kamu.” tutur Elia pelan.</p>

<p>“Kok bisa?”</p>

<p>“Aku kayak punya utang sama kamu.”</p>

<p>Hafidz terkekeh. “Ada juga aku kali yang ngerasa punya utang sama kamu, tadi kan kamu bantuin aku ngerjain berkas, terus kamu beliin aku kopi juga.”</p>

<p>“Aku rasa aku harus nanya sesuatu ke kamu. Pertanyaan ini ada di otak aku udah lama banget, tapi aku ngga pernah tau jawabannya. Tiap malam aku ngga bisa tidur mikirin ini.”</p>

<p>“Mau nanya apa, El?”</p>

<p>“Kalo aku ngajak kamu pacaran, kamu mau kah?” lontar Elia lugas. Tanpa keraguan bahkan tidak sedikitpun bibirnya bergetar.</p>

<p>Hafidz menarik napasnya. Ia tahu cepat atau lambat, malam ini akan tiba. Ia diam sejenak, lagi-lagi otaknya sedang menyusun kalimat yang paling sedikit risikonya.</p>

<p>“El, maaf.”</p>

<p>Tolong beri Hafidz gelar tambahan, si hobi minta maaf.</p>

<p>“Ah, oke..” lirih Elia.</p>

<p>“Maaf banget, El. Aku cinta sama orang lain.”</p>

<p>“<em>It&#39;s okay</em>. Makasih, Hafidz udah mau ngasih jawaban yang jelas. Kalo kayak gini, aku kan bisa mundur.” ujar Elia. “Aku tipe orang yang baru mundur ketika memang udah ada <em>red sign</em>, Pis. Maaf ya kalo selama ini kamu merasa terganggu. Yakin deh, besok-besok aku ngga begitu lagi.”</p>

<p>“Bukannya itu justru nyakitin kamu ya, El?”</p>

<p>“Iya memang. Tapi aku puas aja aku pernah berjuang buat orang, walaupun ya ngga ada timbal baliknya.”</p>

<p>“El—”</p>

<p>“Aku lagi mikir, orang yang kamu taksir tuh pasti beruntung banget ya bisa dapet kasih sayang dari kamu? Pasti dia bahagia banget sekarang.” Elia berkicau bebas.</p>

<p>Hafidz terdiam sembari mendengarkan monolog Elia. Matanya kabur menatap air mancur yang terus menyemburkan airnya. Elia terus-terusan membicarakan betapa indah hidup &#39;gadis kecintaan&#39; Hafidz dalam monolognya tanpa pernah Elia tahu bahwa si gadis kecintaan Hafidz juga sama lara hatinya dengan dirinya.</p>

<p>Malam ini, Hafidz sepuluh ribu kali lipat merasa bersalah atas rasa cintanya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/rumah-sakit-di-surabaya</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Jun 2021 08:51:59 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Neocity Radio</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/neocity-radio?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Gimana, asik divisi lo?&#34; tanya Rega di sela istirahat makan siang. &#xA;&#xA;Ia dan Rega duduk di bangku panjang warung mie ayam di samping kantor. Hari pertama, ia tidak mau foya-foya. Semangkuk mie ayam dan sebotol teh kemasan menurutnya sudah cukup mengisi hari pertamanya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Asik sih, langsung cair gitu. Lo gimana?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Asik juga. Ada cewe cakep.&#34; kekeh Rega.&#xA;&#xA;Maya memicingkan matanya tajam. &#34;Inget Inas, Re.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Si Inas ngga jelas, May. Capek.&#34;&#xA;&#xA;Kalau dua mangkuk bergambar ayam jago tersebut bisa tertawa, maka pasti ia akan ikut tertawa bersama Maya di siang ini. Rega ini memang kerap dipanggil sad boy oleh teman-temannya, ketika yang lain lancar-lancar saja tentang cinta (kecuali Maya dan Apis), ia masih terjebak di cinta masa SMAnya. Naasnya lagi, Inas, si mantan Rega seperti mau tak mau dengan Rega.&#xA;&#xA;&#34;Jangan ngetawain gue ya, kisah cinta lo juga naas.&#34; cibir Rega. Ia tidak mau sedih sendirian.&#xA;&#xA;Maya tertawa pahit. Ia jadi ingat lagi kalau Hafidz menggantung pesannya (lagi) setelah ia mengabarkan berita tentang dirinya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Satu tahun pertama terlewati.&#xA;&#xA;Rasanya waktu berlalu begitu cepat bagi Maya maupun Rega. Menurut mereka, baru saja rasanya waktu itu masuk sebagai anak baru yang tidak tahu apa-apa, tetapi siang ini, mereka sudah mencapai tahapan rapat akhir penyempurnaan program baru yang akan mereka garap di Neocity Radio. &#xA;&#xA;&#34;Maya, kamu latih terus ya chemistry kamu sama Isan. Dikuatin lagi Perlu banget loh itu buat penyiar supaya nanti waktu siaran udah klop tektokannya.&#34; ujar Mas Candra, si Program Director.&#xA;&#xA;Maya dan Isan sama-sama mengangguk paham walaupun yang satunya terlihat mengangguk lebih lemas dibanding yang satunya. Di program baru yang akan disiarkan setiap jam delapan sampai jam sembilan malam setiap hari Senin-Rabu ini, Maya dipasangkan dengan seniornya, Isan sebagai penyiar, sedangkan Rega bertugas menjadi salah satu tim produksinya. &#xA;&#xA;Isan ini orangnya asik kalau kata Rega, bahkan mereka sering pergi untuk sekadar makan roti bakar bersama. Katanya, obrolan Isan asik dan menarik, seperti tidak ada celah untuk berhenti. Lain kata Rega, maka lain juga kata Maya. Menurut Maya, Isan membosankan dan pembicaraannya selalu mengarah ke hal-hal yang tidak ingin dia bicarakan.&#xA;&#xA;&#34;Contoh dia selalu nanya-nanya hal yang ngga pengen lo obrolin tuh apa sih, May? Gue ngga ngerti deh. Did he told you something inappropriate? Kalo iya biar gue tonjok aja si Isan.&#34; tanya Rega saat mengantar Maya pulang setelah rapat berakhir. Padahal, Mas Candra sudah menyuruh Maya untuk pulang bersama Isan, tetapi Maya mati-matian menolak dengan berdalih perutnya melilit.&#xA;&#xA;&#34;Bukan mesum, Re. Cuma ya pertanyaannya ngga nyaman aja buat gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Contohnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dia nanyain status terus-terusan, cita-cita gue pengen nikah kayak apa, pengen punya anak berapa, terus kalo pacaran sukanya pergi kemana aja.&#34; jelas Maya berapi-api.&#xA;&#xA;&#34;Normal ngga sih itu tuh, May? Namanya juga lagi bangun chemistry, mungkin dia lagi nyoba untuk kenal lo lebih jauh lagi.&#34; balas Rega.&#xA;&#xA;&#34;Bangun chemistry sih bangun chemistry, tapi nanyanya itu loh ngotot banget. Gue ngga suka ditanya-tanyain begitu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lah, perasaan dia kalo ngobrol sama gue asik-asik aja dah. Nyambung gitu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gatau, aneh. Gue ngga nyaman.&#34; ujar Maya gusar. Matanya sedari tadi menatap gawainya tak henti-henti, lebih tepatnya menatap satu laman pesan yang tak kunjung kembar centangnya.&#xA;&#xA;Rega yang sadar dengan perilaku Maya buru-buru memutar volume lagu di mobilnya agar Maya lebih nyaman menggerutu. Rega tahu, sahabatnya sedang menunggu balasan dari sahabat yang lainnya. Sudah hampir delapan bulan mereka berjauhan, namun si &#39;nun-jauh-disana&#39; memang minim kabar. Dari cerita Maya, dalam waktu sebulan hanya terkirim sekitar lima buah pesan dari Hafidz. Bahkan, waktu Maya memberi tahu Hafidz bahwa ia sudah dapat pekerjaan, butuh waktu seminggu lagi bagi Hafidz untuk membalasnya. Memang seperti nihil usaha dari Hafidz, tetapi perasaan Maya masih sama. Ia menunggu hari yang tak pernah ia tahu kapan tibanya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Pulang sama siapa, May?&#34; Isan tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang siaran. &#xA;&#xA;Maya yang terkejut dengan kehadiran Isan menjawab dengan gelagapan. &#34;Balik sama ehmm- Rega kayaknya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Rega lagi pergi sama Mas Candra. Ketemuan sama siapa gitu katanya.&#34; ujar Isan enteng. &#34;Balik sama aku aja, kebetulan aku mau mampir ke toko es krim yang deket rumah kamu itu.&#34;&#xA;&#xA;Maya memutar bola matanya pelaaaaan sekali agar tidak terlihat oleh Isan. Selagi membereskan tasnya, ia mengecek pesan dari Rega. Benar saja, Rega mengirim pesan bahwa ia tidak bisa pulang bersama karena harus pergi dengan Mas Candra. &#xA;&#xA;&#34;Gimana? Pulang bareng aku aja ya? Sekalian kita bonding, May. Dua minggu lagi kan acara kita mulai.&#34; tawar Isan sekali lagi.&#xA;&#xA;Maya menyerah, ia tidak punya pilihan lain selain mengiyakan, padahal jarinya sudah bersiap menekan aplikasi transportasi online. Satu, ia tidak ingin performanya debutnya sebagai penyiar kacau dan dua, ia tetap segan dengan seniornya. Isan benar-benar tersenyum lebar setelah Maya mengiyakan ajakannya. Ia berlari kecil ke ruangannya setelah meminta Maya untuk menunggu di lobi.&#xA;&#xA;TINNN TINNN&#xA;&#xA;Suara nyaring klakson milik mobil Isan menggelegar di depan lobi, meminta Maya untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Isan benar-benar sumringah sekali ketika Maya duduk di bangku penumpang. Matanya berbinar-binar, bahkan bibirnya tidak sempat untuk datar.&#xA;&#xA;&#34;Aku denger katanya toko es krim yang deket rumah kamu tuh enak, ya? Aku mau beliin buat adek aku soalnya, dia lagi ngidam es krim soalnya.&#34; kata Isan.&#xA;&#xA;&#34;Lumayan sih. Adeknya hamil, Mas?&#34; tanya Maya balik.&#xA;&#xA;&#34;Duh, udah aku bilang berapa kali sih. Ngga usah panggil aku mas, May. Panggil Isan aja ngga papa.&#34; &#xA;&#xA;Maya menelan ludahnya. Gugup. &#34;Hehe, iya Isan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Btw, iya adek aku lagi hamil. Suaminya lagi jauh soalnya, jadi dia nitip-nitip ngidamnya ke aku. Temenin ya nanti, May. Kan searah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya boleh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu kalo me-time gitu sukanya kemana, May?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Di rumah aja sih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu ngga suka jalan-jalan ke mana gitu? Gunung? Pantai?&#34; tanya Isan lagi.&#xA;&#xA;&#34;Ngga suka.&#34; Maya menjawabnya singkat. &#xA;&#xA;Sungguh, ia menghindari percakapan lebih lanjut dengan Isan. Sepanjang perjalanan, Maya menunduk menatap layar handphonenya sambil mengetik pesan untuk Rega setiap lampu merah berhenti dengan rutukan. Maya yakin ketika Rega membuka pesannya pasti Rega akan bingung setengah mati.&#xA;&#xA;&#34;May, kamu yakin ngga punya pacar? Kamu ini cantik, lho. Masa iya sih, ngga punya pacar?&#34; &#xA;&#xA;Deg. Pertanyaan itu lagi. Laki-laki ini payah sekali, seperti tidak bisa mengajukan pertanyaan lain selain status.&#xA;&#xA;&#34;Mas, maaf sebelumnya. Bukannya saya lancang atau apa, tapi mas bisa ngga sih nanya selain tentang status? Saya bingung deh, emang yang nanti dibahas ketika siaran tuh melulu tentang status saya, ya? Memangnya ada pengaruhnya ya status saya apa sama masa depan program radio sampe setiap kita pergi yang niatnya untuk bangun chemistry malah selalu ditanyain begitu. Jujur saya risih, mas. Maaf kalau misalkan perkataan saya ini terkesan ngga sopan karena bagaimanapun saya tetap lebih muda dan anak baru di kantor, tapi saya rasa saya juga punya hak untuk melindungi privasi saya.&#34; jelas Maya dengan satu tarikan napas.&#xA;&#xA;Isan terdiam. Wajahnya yang tertunduk disinari bias lampu merah. &#34;Maaf kalau aku kelewatan. Aku cuma pingin tau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya terima permintaan maaf Mas Isan, tapi tolong turunin saya di sebrang sana. Saya lanjut pulang naik taksi aja.&#34;&#xA;&#xA;Terdengar helaan napas Isan cukup kencang sembari melepaskan rem di kakinya ketika lampu berubah jadi hijau. Mobil itu bergerak ke kiri, menepi di depan toko kopi ternama yang cabangnya di mana-mana.&#xA;&#xA;&#34;Memangnya salah ya, kalau aku cuma pingin kenal lebih dalam sama orang yang aku suka?&#34; tangkas Isan sesaat sebelum Maya membuka kenop pintu mobil. &#34;Aku tertarik sama kamu dari kamu masih jadi junior banget, May. Aku sampe mohon-mohon sama Mas Candra supaya bisa disatuin di satu program sama kamu, sampe akhirnya kita dapet program bareng, kita bisa bangun chemistry bareng. Aku seneng banget, kesempatan aku kenal sama kamu jadi semakin banyak. Kesempatan untuk kita bareng-bareng tuh nyata banget. Bahkan aku udah bayangin kedepannya akan gimana. Aku selalu nyempetin untuk sekadar ngobrol sama Rega supaya tau gimana kehidupan kalian. Tapi kelihatannya aku jadi salah ya?&#34;&#xA;&#xA;Maya memicingkan matanya, tangannya semakin mantap untuk segera membuka kenop pintu mobil dan membantingnya.&#xA;&#xA;&#34;Lo, serem.&#34; hardik Maya melalui jendela mobil yang tiba-tiba diturunkan oleh Isan. &#xA;&#xA;Ia segera melambaikan tangan pada taksi berwarna biru yang lewat di depannya. Dengan hati yang penuh amarah dan gemuruh, ia menyebutkan alamat tujuannya pada supir taksi tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Neng, punten, ini radionya teh mau dinyalain atau dimatiin aja?&#34; sapa Pak Supir setelah mengintip keadaan penumpangnya lewat spion tengah. Sepertinya Pak Supir sudah khatam dengan berbagai jenis penumpang.&#xA;&#xA;&#34;Bebas, Pak.&#34; jawab Maya pelan. Ia memijat kepalanya sendiri. Pening.&#xA;&#xA;Ah, Rega benar-benar harus membayar alpanya setelah ini. &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Gimana, asik divisi lo?” tanya Rega di sela istirahat makan siang.</p>

<p>Ia dan Rega duduk di bangku panjang warung mie ayam di samping kantor. Hari pertama, ia tidak mau foya-foya. Semangkuk mie ayam dan sebotol teh kemasan menurutnya sudah cukup mengisi hari pertamanya.</p>



<p>“Asik sih, langsung cair gitu. Lo gimana?”</p>

<p>“Asik juga. Ada cewe cakep.” kekeh Rega.</p>

<p>Maya memicingkan matanya tajam. “Inget Inas, Re.”</p>

<p>“Si Inas ngga jelas, May. Capek.”</p>

<p>Kalau dua mangkuk bergambar ayam jago tersebut bisa tertawa, maka pasti ia akan ikut tertawa bersama Maya di siang ini. Rega ini memang kerap dipanggil <em>sad boy</em> oleh teman-temannya, ketika yang lain lancar-lancar saja tentang cinta (kecuali Maya dan Apis), ia masih terjebak di cinta masa SMAnya. Naasnya lagi, Inas, si mantan Rega seperti mau tak mau dengan Rega.</p>

<p>“Jangan ngetawain gue ya, kisah cinta lo juga naas.” cibir Rega. Ia tidak mau sedih sendirian.</p>

<p>Maya tertawa pahit. Ia jadi ingat lagi kalau Hafidz menggantung pesannya (lagi) setelah ia mengabarkan berita tentang dirinya.</p>

<hr/>

<p>Satu tahun pertama terlewati.</p>

<p>Rasanya waktu berlalu begitu cepat bagi Maya maupun Rega. Menurut mereka, baru saja rasanya waktu itu masuk sebagai anak baru yang tidak tahu apa-apa, tetapi siang ini, mereka sudah mencapai tahapan rapat akhir penyempurnaan program baru yang akan mereka garap di Neocity Radio.</p>

<p>“Maya, kamu latih terus ya <em>chemistry</em> kamu sama Isan. Dikuatin lagi Perlu banget loh itu buat penyiar supaya nanti waktu siaran udah klop tektokannya.” ujar Mas Candra, si <em>Program Director</em>.</p>

<p>Maya dan Isan sama-sama mengangguk paham walaupun yang satunya terlihat mengangguk lebih lemas dibanding yang satunya. Di program baru yang akan disiarkan setiap jam delapan sampai jam sembilan malam setiap hari Senin-Rabu ini, Maya dipasangkan dengan seniornya, Isan sebagai penyiar, sedangkan Rega bertugas menjadi salah satu tim produksinya.</p>

<p>Isan ini orangnya asik kalau kata Rega, bahkan mereka sering pergi untuk sekadar makan roti bakar bersama. Katanya, obrolan Isan asik dan menarik, seperti tidak ada celah untuk berhenti. Lain kata Rega, maka lain juga kata Maya. Menurut Maya, Isan membosankan dan pembicaraannya selalu mengarah ke hal-hal yang tidak ingin dia bicarakan.</p>

<p>“Contoh dia selalu nanya-nanya hal yang ngga pengen lo obrolin tuh apa sih, May? Gue ngga ngerti deh. <em>Did he told you something inappropriate</em>? Kalo iya biar gue tonjok aja si Isan.” tanya Rega saat mengantar Maya pulang setelah rapat berakhir. Padahal, Mas Candra sudah menyuruh Maya untuk pulang bersama Isan, tetapi Maya mati-matian menolak dengan berdalih perutnya melilit.</p>

<p>“Bukan mesum, Re. Cuma ya pertanyaannya ngga nyaman aja buat gue.”</p>

<p>“Contohnya?”</p>

<p>“Dia nanyain status terus-terusan, cita-cita gue pengen nikah kayak apa, pengen punya anak berapa, terus kalo pacaran sukanya pergi kemana aja.” jelas Maya berapi-api.</p>

<p>“Normal ngga sih itu tuh, May? Namanya juga lagi bangun <em>chemistry</em>, mungkin dia lagi nyoba untuk kenal lo lebih jauh lagi.” balas Rega.</p>

<p>“Bangun <em>chemistry</em> sih bangun <em>chemistry</em>, tapi nanyanya itu loh ngotot banget. Gue ngga suka ditanya-tanyain begitu.”</p>

<p>“Lah, perasaan dia kalo ngobrol sama gue asik-asik aja dah. Nyambung gitu.”</p>

<p>“Gatau, aneh. Gue ngga nyaman.” ujar Maya gusar. Matanya sedari tadi menatap gawainya tak henti-henti, lebih tepatnya menatap satu laman pesan yang tak kunjung kembar centangnya.</p>

<p>Rega yang sadar dengan perilaku Maya buru-buru memutar volume lagu di mobilnya agar Maya lebih nyaman menggerutu. Rega tahu, sahabatnya sedang menunggu balasan dari sahabat yang lainnya. Sudah hampir delapan bulan mereka berjauhan, namun si &#39;nun-jauh-disana&#39; memang minim kabar. Dari cerita Maya, dalam waktu sebulan hanya terkirim sekitar lima buah pesan dari Hafidz. Bahkan, waktu Maya memberi tahu Hafidz bahwa ia sudah dapat pekerjaan, butuh waktu seminggu lagi bagi Hafidz untuk membalasnya. Memang seperti nihil usaha dari Hafidz, tetapi perasaan Maya masih sama. Ia menunggu hari yang tak pernah ia tahu kapan tibanya.</p>

<hr/>

<p>“Pulang sama siapa, May?” Isan tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang siaran.</p>

<p>Maya yang terkejut dengan kehadiran Isan menjawab dengan gelagapan. “Balik sama ehmm- Rega kayaknya.”</p>

<p>“Rega lagi pergi sama Mas Candra. Ketemuan sama siapa gitu katanya.” ujar Isan enteng. “Balik sama aku aja, kebetulan aku mau mampir ke toko es krim yang deket rumah kamu itu.”</p>

<p>Maya memutar bola matanya pelaaaaan sekali agar tidak terlihat oleh Isan. Selagi membereskan tasnya, ia mengecek pesan dari Rega. Benar saja, Rega mengirim pesan bahwa ia tidak bisa pulang bersama karena harus pergi dengan Mas Candra.</p>

<p>“Gimana? Pulang bareng aku aja ya? Sekalian kita <em>bonding</em>, May. Dua minggu lagi kan acara kita mulai.” tawar Isan sekali lagi.</p>

<p>Maya menyerah, ia tidak punya pilihan lain selain mengiyakan, padahal jarinya sudah bersiap menekan aplikasi transportasi <em>online</em>. Satu, ia tidak ingin performanya debutnya sebagai penyiar kacau dan dua, ia tetap segan dengan seniornya. Isan benar-benar tersenyum lebar setelah Maya mengiyakan ajakannya. Ia berlari kecil ke ruangannya setelah meminta Maya untuk menunggu di lobi.</p>

<p>TINNN TINNN</p>

<p>Suara nyaring klakson milik mobil Isan menggelegar di depan lobi, meminta Maya untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Isan benar-benar sumringah sekali ketika Maya duduk di bangku penumpang. Matanya berbinar-binar, bahkan bibirnya tidak sempat untuk datar.</p>

<p>“Aku denger katanya toko es krim yang deket rumah kamu tuh enak, ya? Aku mau beliin buat adek aku soalnya, dia lagi ngidam es krim soalnya.” kata Isan.</p>

<p>“Lumayan sih. Adeknya hamil, Mas?” tanya Maya balik.</p>

<p>“Duh, udah aku bilang berapa kali sih. Ngga usah panggil aku mas, May. Panggil Isan aja ngga papa.”</p>

<p>Maya menelan ludahnya. Gugup. “Hehe, iya Isan.”</p>

<p>“<em>Btw</em>, iya adek aku lagi hamil. Suaminya lagi jauh soalnya, jadi dia nitip-nitip ngidamnya ke aku. Temenin ya nanti, May. Kan searah.”</p>

<p>“Iya boleh.”</p>

<p>“Kamu kalo <em>me-time</em> gitu sukanya kemana, May?”</p>

<p>“Di rumah aja sih.”</p>

<p>“Kamu ngga suka jalan-jalan ke mana gitu? Gunung? Pantai?” tanya Isan lagi.</p>

<p>“Ngga suka.” Maya menjawabnya singkat.</p>

<p>Sungguh, ia menghindari percakapan lebih lanjut dengan Isan. Sepanjang perjalanan, Maya menunduk menatap layar <em>handphonenya</em> sambil mengetik pesan untuk Rega setiap lampu merah berhenti dengan rutukan. Maya yakin ketika Rega membuka pesannya pasti Rega akan bingung setengah mati.</p>

<p>“May, kamu yakin ngga punya pacar? Kamu ini cantik, lho. Masa iya sih, ngga punya pacar?”</p>

<p>Deg. Pertanyaan itu lagi. Laki-laki ini payah sekali, seperti tidak bisa mengajukan pertanyaan lain selain status.</p>

<p>“Mas, maaf sebelumnya. Bukannya saya lancang atau apa, tapi mas bisa ngga sih nanya selain tentang status? Saya bingung deh, emang yang nanti dibahas ketika siaran tuh melulu tentang status saya, ya? Memangnya ada pengaruhnya ya status saya apa sama masa depan program radio sampe setiap kita pergi yang niatnya untuk bangun <em>chemistry</em> malah selalu ditanyain begitu. Jujur saya risih, mas. Maaf kalau misalkan perkataan saya ini terkesan ngga sopan karena bagaimanapun saya tetap lebih muda dan anak baru di kantor, tapi saya rasa saya juga punya hak untuk melindungi privasi saya.” jelas Maya dengan satu tarikan napas.</p>

<p>Isan terdiam. Wajahnya yang tertunduk disinari bias lampu merah. “Maaf kalau aku kelewatan. Aku cuma pingin tau.”</p>

<p>“Saya terima permintaan maaf Mas Isan, tapi tolong turunin saya di sebrang sana. Saya lanjut pulang naik taksi aja.”</p>

<p>Terdengar helaan napas Isan cukup kencang sembari melepaskan rem di kakinya ketika lampu berubah jadi hijau. Mobil itu bergerak ke kiri, menepi di depan toko kopi ternama yang cabangnya di mana-mana.</p>

<p>“Memangnya salah ya, kalau aku cuma pingin kenal lebih dalam sama orang yang aku suka?” tangkas Isan sesaat sebelum Maya membuka kenop pintu mobil. “Aku tertarik sama kamu dari kamu masih jadi <em>junior</em> banget, May. Aku sampe mohon-mohon sama Mas Candra supaya bisa disatuin di satu program sama kamu, sampe akhirnya kita dapet program bareng, kita bisa bangun <em>chemistry</em> bareng. Aku seneng banget, kesempatan aku kenal sama kamu jadi semakin banyak. Kesempatan untuk kita bareng-bareng tuh nyata banget. Bahkan aku udah bayangin kedepannya akan gimana. Aku selalu nyempetin untuk sekadar ngobrol sama Rega supaya tau gimana kehidupan kalian. Tapi kelihatannya aku jadi salah ya?”</p>

<p>Maya memicingkan matanya, tangannya semakin mantap untuk segera membuka kenop pintu mobil dan membantingnya.</p>

<p>“Lo, serem.” hardik Maya melalui jendela mobil yang tiba-tiba diturunkan oleh Isan.</p>

<p>Ia segera melambaikan tangan pada taksi berwarna biru yang lewat di depannya. Dengan hati yang penuh amarah dan gemuruh, ia menyebutkan alamat tujuannya pada supir taksi tersebut.</p>

<p>“Neng, punten, ini radionya teh mau dinyalain atau dimatiin aja?” sapa Pak Supir setelah mengintip keadaan penumpangnya lewat spion tengah. Sepertinya Pak Supir sudah khatam dengan berbagai jenis penumpang.</p>

<p>“Bebas, Pak.” jawab Maya pelan. Ia memijat kepalanya sendiri. Pening.</p>

<p>Ah, Rega benar-benar harus membayar alpanya setelah ini.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/neocity-radio</guid>
      <pubDate>Fri, 04 Jun 2021 14:58:53 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sweetest Seventeen</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/sweetest-seventeen?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Asap dari lilin ulang tahun berbentuk angka tujuh belas itu berhembus diiringi oleh tepuk tangan yang meriah. Yang meniup kini tersenyum lebar, sebesar tiga jari sambil membenahkan topi kerucut yang ia gunakan. Duh, sebenarnya ia tidak ingin menggunakannya karena ia akan terlihat konyol di hari ulang tahunnya, tapi demi menyenangkan orang-orang di hadapannya maka ia dengan senang hati mengenakannya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Potong kuenya dong buruan!!!!!!&#34; seru lelaki di bawah pohon yang sibuk sendiri dengan kereta dorong berisi bayi.&#xA;&#xA;&#34;Ngalah dulu sama yang kecil dong!&#34; protes wanita yang sedari tadi mendokumentasikan momen tiup lilin.&#xA;&#xA;Yang berulang tahun menghela napasnya panjang, &#34;Padahal kue pertama buat Ibu sama Ayah, sih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;YAH KOK GITU?!&#34; protes keduanya bersamaan. Ah, umur memang bukan halangan bagi Maya dan Rega untuk bertengkar. &#xA;&#xA;Bayangkan saja, di umur mereka yang hampir menginjak kepala empat dengan buntut lebih dari satu, mereka masih sanggup memperebutkan potongan pertama kue ulang tahun.&#xA;&#xA;&#34;Sayang, duduk aja sini sih. Itu udah ada si Nadir yang foto-foto, kamu duduk aja napa.&#34; decit Hafidz. Tangannya mengisyaratkan agar Maya segera duduk di sebelahnya.&#xA;&#xA;Maya mengalah. Ia segera menyimpan ponsel genggamnya, lalu duduk di manis di sebelah suaminya. &#34;Mas, &#39;itu&#39;nya kapan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Abis acara selesai. Ngga enak rame-rame lah.&#34; jawab Hafidz. Maya mengangguk paham.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Sini duduk dulu. Istirahat.&#34; saran Bagas. &#34;Tuh, duduk sebelah Ale.&#34;&#xA;&#xA;Yang berulang tahun kini duduk di tengah-tengah meja makan dengan raut wajah sedikit lelah, namun tersirat bahagia dari sorot matanya.&#xA;&#xA;&#34;Gimana tujuh belas tahun?&#34; tanya Hafidz.&#xA;&#xA;&#34;Belom juga ada sehari...&#34; jawabnya.&#xA;&#xA;&#34;Ngga jelas si Apis emang.&#34; cibir Tasya.&#xA;&#xA;&#34;Heh, kak lo lagi hamil. Jangan sembarangan ngomongnya.&#34; tegur Jidan. Tasya cengengesan. &#34;Nanti anak lo kayak Bang Apis loh.&#34;&#xA;&#xA;Gelak tawa menguar tanpa permisi dari satu lingkar meja makan itu. Rasanya sudah lama tidak mendengar Jidan melucu. Ralat, meledek Hafidz.&#xA;&#xA;&#34;Nih.&#34; Rega tiba-tiba meletakkan sebuah amplop di hadapan si remaja tanggung. &#xA;&#xA;&#34;Ini....apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baca aja.&#34; ujar Maya lembut. &#34;Dari Ibu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ibu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, ibu kandung kamu, Bas.&#34;&#xA;&#xA;Abas—si remaja tujuh belas tahun—perlahan meraih amplop putih yang baru saja Rega berikan. Matanya bergantian menatap orang-orang di sekelilingnya sembari membuka segel amplop.&#xA;&#xA;Ia tahu betul sedari kecil bahwa dirinya memang bukan saudara kandung dari keluarga yang mengasuhnya. Ia juga sudah mendengar cerita bagaimana ia ditemukan oleh orang-orang yang bersamanya saat ini, walau singkat, namun Hafidz pandai merangkai agar ceritanya mudah dimengerti oleh anak seumuran Abas waktu itu. Hafidz bukan tanpa maksud merahasiakan surat tersebut dari Abas, melainkan ia hanya mengikuti isi surat yang tertera. &#xA;&#xA;  &#34;...dan mungkin kamu baca saat umurmu tujuh belas tahun.&#34;&#xA;&#xA;Abas menelan ludah, lalu memejamkan mata sejenak setelah membaca tanggal pada surat. 23 April 2021, hampir tujuh belas tahun yang lalu&#xA;&#xA;Teruntuk Bastian, buah hatiku tercinta.&#xA;A blessing that happened into my life.&#xA;&#xA;Kalimat pembuka pada surat sukses menghantarkan tetes air mata pertama pada hari bahagia Abas. Ia bisa merasakan cinta kasih yang tulus hanya dari kalimat tersebut. Ia adalah sebuah anugerah bagi seseorang.&#xA;&#xA;Surat ini ibu tulis saat umurmu hampir satu tahun, dan mungkin kamu baca saat umurmu tujuh belas tahun.&#xA;Izinkan ibu meminta maaf sebelum amarah di dadamu meledak-ledak. Ibu minta maaf telah lalai dan jauh dari makna &#34;Ibu&#34; yang sesungguhnya.&#xA;Seharusnya, hari itu kita sama-sama lari dari kejaran orang-orang utusan ayahmu. Namun ibu menyerah, ibu titipkan kamu pada malaikat yang sedang merayakan ulang tahunmu di hari ini. Ibu tak tahu jumlah malaikatnya, namun ibu yakin mereka adalah rumah yang teduh untuk dirimu berlabuh dan bertumbuh.&#xA;&#xA;Air mata semakin cepat berderai. Di balik matanya yang berkaca-kaca, ia samar-samar menatap para &#39;malaikat&#39;nya. Ibu memang tidak pernah salah, ini benar rumah yang teduh dengan kasih sayang yang utuh.&#xA;&#xA;Jangan lupa ucapkan terima kasih paling tulus untuk mereka, ibu titip satu ya kalau bisa.&#xA;Nak, cintai mereka seperti kamu mencintai dot bayimu kala kecil. Peluk mereka sebagaimana kamu ingin memeluk ibu.&#xA;&#xA;Tidak. Abas tidak sekuat itu untuk memeluk para &#39;malaikat&#39;nya saat ini. Ia dan &#39;malaikat&#39;nya sama-sama sedang berlinang, larut dalam kesedihan.&#xA;&#xA;Ibu yakin, saat kau baca ini, kau jadi manusia yang kuat dan teguh hatinya. Berbuat baiklah pada setiap orang yang kau temui. Jadilah pria yang jujur dan penuh kasih sayang.&#xA;Ibu ingiiiiiin sekali memelukmu, ibu ingin menyaksikan putra ibu tumbuh dengan baik. Sayang, ibu tidak bisa.&#xA;Ibu hanya bisa menjagamu dari kejauhan, menyertakan doa agar kau selalu bahagia.&#xA;&#xA;Abas tidak karuan. Setiap kalimat yang ia baca dapat ia rasakan kepedihannya.&#xA;&#xA;Nak, terima kasih sudah jadi anak ibu. Terima kasih sudah jadi alasan ibu berjuang, walau akhirnya ibu menyerah.&#xA;Selamat ulang tahun, nak. Ibu sayang Bastian.&#xA;Tetap jadi anak ibu di kehidupan selanjutnya, ya?&#xA;&#xA;With the sincerest love ever,&#xA;Ibu.&#xA;&#xA;Abas menarik napas panjang, dadanya sesak sekali. Hafidz bergegas menghampiri Abas, mengelus punggungnya, merengkuh memberi rasa aman. Maya dengan cekatan membantu Abas meneguk air untuk membantunya tenang. Yang lainnya tidak banyak bicara, memberi ruang untuk Abas tenang.&#xA;&#xA;&#34;Kak..&#34; panggil Abas sesaat nafasnya mulai teratur. &#34;Terima kasih udah mau jaga Abas. Terima kasih untuk tetep sayangin Abas sampe Abas segede ini. Dari Abas bayi sampe sekarang, bahkan tahun depan udah masanya Abas buat kuliah, cinta dan kasih kakak ngga pernah berkurang sedikitpun. Ibu bener, I met the right angels. Abas bener-bener sayang sama kakak, semuanya. Berkat kakak, Abas bisa bertumbuh dengan baik sampe hari ini. Terima kasih, kak. Ibu juga bilang terima kasih.&#34;&#xA;&#xA;Laki-laki yang berbicara itu sudah genap tujuh belas tahun umurnya. Matanya bersinar, sama seperti pertemuan pertama di depan pintu Kontrakan Cerdas. Laki-laki itu bukan lagi anak bayi dengan dot kuningnya, ia kini beranjak dewasa dengan segala pribadi baik yang ada di dirinya. Ia tumbuh dengan mewarisi pintarnya Hafidz, sifat bijak Rega, handal memasaknya Nadir, tegasnya Bagas, jahilnya Ale, lucunya Jidan, dermawannya Tasya dan lembut hatinya Maya.&#xA;&#xA;Ah, waktu benar-benar berlalu begitu cepat.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Permisi, om, tante. Abasnya di mana ya?&#34; &#xA;&#xA;Seisi meja memandang ke sumber suara secara serentak. Gadis manis berambut lurus sebahu, si pemilik suara tersenyum simpul.&#xA;&#xA;&#34;Abasnya lagi ke kam—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh, Luna? Aku kira kamu ngga dateng.&#34; sergah Abas dari arah kamar mandi. Raut wajahnya kikuk seperti tertangkap basah atas sesuatu.&#xA;&#xA;&#34;Tadi aku harus nganter adek dulu ke tempat les, jadi baru bisa kesini deh. Maaf ya telat.&#34; sayup-sayup suara gadis itu perlahan menghilang seraya Abas membawa gadis itu menjauh dari meja kakak-kakaknya.&#xA;&#xA;Abas mengacungkan jempol tinggi-tinggi ke arah meja kakak-kakaknya, tanda ia baik-baik saja. Yang di meja tertawa dan mengangguk paham. &#xA;&#xA;Abas sudah besar.&#xA;&#xA; ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Asap dari lilin ulang tahun berbentuk angka tujuh belas itu berhembus diiringi oleh tepuk tangan yang meriah. Yang meniup kini tersenyum lebar, sebesar tiga jari sambil membenahkan topi kerucut yang ia gunakan. <em>Duh</em>, sebenarnya ia tidak ingin menggunakannya karena ia akan terlihat konyol di hari ulang tahunnya, tapi demi menyenangkan orang-orang di hadapannya maka ia dengan senang hati mengenakannya.</p>



<p>“Potong kuenya dong buruan!!!!!!” seru lelaki di bawah pohon yang sibuk sendiri dengan kereta dorong berisi bayi.</p>

<p>“Ngalah dulu sama yang kecil dong!” protes wanita yang sedari tadi mendokumentasikan momen tiup lilin.</p>

<p>Yang berulang tahun menghela napasnya panjang, “Padahal kue pertama buat Ibu sama Ayah, sih.”</p>

<p>“YAH KOK GITU?!” protes keduanya bersamaan. Ah, umur memang bukan halangan bagi Maya dan Rega untuk bertengkar.</p>

<p>Bayangkan saja, di umur mereka yang hampir menginjak kepala empat dengan buntut lebih dari satu, mereka masih sanggup memperebutkan potongan pertama kue ulang tahun.</p>

<p>“Sayang, duduk aja sini sih. Itu udah ada si Nadir yang foto-foto, kamu duduk aja napa.” decit Hafidz. Tangannya mengisyaratkan agar Maya segera duduk di sebelahnya.</p>

<p>Maya mengalah. Ia segera menyimpan ponsel genggamnya, lalu duduk di manis di sebelah suaminya. “Mas, &#39;<em>itu</em>&#39;nya kapan?”</p>

<p>“Abis acara selesai. Ngga enak rame-rame lah.” jawab Hafidz. Maya mengangguk paham.</p>

<hr/>

<p>“Sini duduk dulu. Istirahat.” saran Bagas. “Tuh, duduk sebelah Ale.”</p>

<p>Yang berulang tahun kini duduk di tengah-tengah meja makan dengan raut wajah sedikit lelah, namun tersirat bahagia dari sorot matanya.</p>

<p>“Gimana tujuh belas tahun?” tanya Hafidz.</p>

<p>“Belom juga ada sehari...” jawabnya.</p>

<p>“Ngga jelas si Apis emang.” cibir Tasya.</p>

<p>“Heh, kak lo lagi hamil. Jangan sembarangan ngomongnya.” tegur Jidan. Tasya cengengesan. “Nanti anak lo kayak Bang Apis loh.”</p>

<p>Gelak tawa menguar tanpa permisi dari satu lingkar meja makan itu. Rasanya sudah lama tidak mendengar Jidan melucu. Ralat, meledek Hafidz.</p>

<p>“Nih.” Rega tiba-tiba meletakkan sebuah amplop di hadapan si remaja tanggung.</p>

<p>“Ini....apa?”</p>

<p>“Baca aja.” ujar Maya lembut. “Dari Ibu.”</p>

<p>“Ibu?”</p>

<p>“Iya, ibu kandung kamu, Bas.”</p>

<p>Abas—si remaja tujuh belas tahun—perlahan meraih amplop putih yang baru saja Rega berikan. Matanya bergantian menatap orang-orang di sekelilingnya sembari membuka segel amplop.</p>

<p>Ia tahu betul sedari kecil bahwa dirinya memang bukan saudara kandung dari keluarga yang mengasuhnya. Ia juga sudah mendengar cerita bagaimana ia ditemukan oleh orang-orang yang bersamanya saat ini, walau singkat, namun Hafidz pandai merangkai agar ceritanya mudah dimengerti oleh anak seumuran Abas waktu itu. Hafidz bukan tanpa maksud merahasiakan surat tersebut dari Abas, melainkan ia hanya mengikuti isi surat yang tertera.</p>

<blockquote><p>”...dan mungkin kamu baca saat umurmu tujuh belas tahun.”</p></blockquote>

<p>Abas menelan ludah, lalu memejamkan mata sejenak setelah membaca tanggal pada surat. 23 April 2021, hampir tujuh belas tahun yang lalu</p>

<p><em>Teruntuk Bastian, buah hatiku tercinta.</em>
<em>A blessing that happened into my life.</em></p>

<p>Kalimat pembuka pada surat sukses menghantarkan tetes air mata pertama pada hari bahagia Abas. Ia bisa merasakan cinta kasih yang tulus hanya dari kalimat tersebut. Ia adalah sebuah anugerah bagi seseorang.</p>

<p><em>Surat ini ibu tulis saat umurmu hampir satu tahun, dan mungkin kamu baca saat umurmu tujuh belas tahun.</em>
<em>Izinkan ibu meminta maaf sebelum amarah di dadamu meledak-ledak. Ibu minta maaf telah lalai dan jauh dari makna “Ibu” yang sesungguhnya.</em>
<em>Seharusnya, hari itu kita sama-sama lari dari kejaran orang-orang utusan ayahmu. Namun ibu menyerah, ibu titipkan kamu pada malaikat yang sedang merayakan ulang tahunmu di hari ini. Ibu tak tahu jumlah malaikatnya, namun ibu yakin mereka adalah rumah yang teduh untuk dirimu berlabuh dan bertumbuh.</em></p>

<p>Air mata semakin cepat berderai. Di balik matanya yang berkaca-kaca, ia samar-samar menatap para &#39;malaikat&#39;nya. Ibu memang tidak pernah salah, ini benar rumah yang teduh dengan kasih sayang yang utuh.</p>

<p><em>Jangan lupa ucapkan terima kasih paling tulus untuk mereka, ibu titip satu ya kalau bisa.</em>
<em>Nak, cintai mereka seperti kamu mencintai dot bayimu kala kecil. Peluk mereka sebagaimana kamu ingin memeluk ibu.</em></p>

<p>Tidak. Abas tidak sekuat itu untuk memeluk para &#39;malaikat&#39;nya saat ini. Ia dan &#39;malaikat&#39;nya sama-sama sedang berlinang, larut dalam kesedihan.</p>

<p><em>Ibu yakin, saat kau baca ini, kau jadi manusia yang kuat dan teguh hatinya. Berbuat baiklah pada setiap orang yang kau temui. Jadilah pria yang jujur dan penuh kasih sayang.</em>
<em>Ibu ingiiiiiin sekali memelukmu, ibu ingin menyaksikan putra ibu tumbuh dengan baik. Sayang, ibu tidak bisa.</em>
<em>Ibu hanya bisa menjagamu dari kejauhan, menyertakan doa agar kau selalu bahagia.</em></p>

<p>Abas tidak karuan. Setiap kalimat yang ia baca dapat ia rasakan kepedihannya.</p>

<p><em>Nak, terima kasih sudah jadi anak ibu. Terima kasih sudah jadi alasan ibu berjuang, walau akhirnya ibu menyerah.</em>
<em>Selamat ulang tahun, nak. Ibu sayang Bastian.</em>
<em>Tetap jadi anak ibu di kehidupan selanjutnya, ya?</em></p>

<p><em>With the sincerest love ever,</em>
<em>Ibu.</em></p>

<p>Abas menarik napas panjang, dadanya sesak sekali. Hafidz bergegas menghampiri Abas, mengelus punggungnya, merengkuh memberi rasa aman. Maya dengan cekatan membantu Abas meneguk air untuk membantunya tenang. Yang lainnya tidak banyak bicara, memberi ruang untuk Abas tenang.</p>

<p>“Kak..” panggil Abas sesaat nafasnya mulai teratur. “Terima kasih udah mau jaga Abas. Terima kasih untuk tetep sayangin Abas sampe Abas segede ini. Dari Abas bayi sampe sekarang, bahkan tahun depan udah masanya Abas buat kuliah, cinta dan kasih kakak ngga pernah berkurang sedikitpun. Ibu bener, <em>I met the right angels</em>. Abas bener-bener sayang sama kakak, semuanya. Berkat kakak, Abas bisa bertumbuh dengan baik sampe hari ini. Terima kasih, kak. Ibu juga bilang terima kasih.”</p>

<p>Laki-laki yang berbicara itu sudah genap tujuh belas tahun umurnya. Matanya bersinar, sama seperti pertemuan pertama di depan pintu Kontrakan Cerdas. Laki-laki itu bukan lagi anak bayi dengan dot kuningnya, ia kini beranjak dewasa dengan segala pribadi baik yang ada di dirinya. Ia tumbuh dengan mewarisi pintarnya Hafidz, sifat bijak Rega, handal memasaknya Nadir, tegasnya Bagas, jahilnya Ale, lucunya Jidan, dermawannya Tasya dan lembut hatinya Maya.</p>

<p>Ah, waktu benar-benar berlalu begitu cepat.</p>

<hr/>

<p>“Permisi, om, tante. Abasnya di mana ya?”</p>

<p>Seisi meja memandang ke sumber suara secara serentak. Gadis manis berambut lurus sebahu, si pemilik suara tersenyum simpul.</p>

<p>“Abasnya lagi ke kam—”</p>

<p>“Eh, Luna? Aku kira kamu ngga dateng.” sergah Abas dari arah kamar mandi. Raut wajahnya kikuk seperti tertangkap basah atas sesuatu.</p>

<p>“Tadi aku harus nganter adek dulu ke tempat les, jadi baru bisa kesini deh. Maaf ya telat.” sayup-sayup suara gadis itu perlahan menghilang seraya Abas membawa gadis itu menjauh dari meja kakak-kakaknya.</p>

<p>Abas mengacungkan jempol tinggi-tinggi ke arah meja kakak-kakaknya, tanda ia baik-baik saja. Yang di meja tertawa dan mengangguk paham.</p>

<p>Abas sudah besar.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/sweetest-seventeen</guid>
      <pubDate>Thu, 27 May 2021 16:03:51 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>