<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>lover</title>
    <link>https://ceritafiksi.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Thu, 28 May 2026 21:05:58 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Ahay</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/ahay?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Ayo minta maaf, Nan, Jih.&#34;&#xA;&#xA;Hainan menatap Jihan lurus, sementara Jihan jelas membuang pandangannya sejauh mungkin. &#xA;&#xA;Keadaan ruangan berukuran 3 x 4 itu cukup panas, padahal cuaca desa seminggu terakhir selalu mendung, bahkan berkabut. Sudah dua jam mereka bersepuluh duduk di ruang tengah, namun tidak kunjung muncul penyelesaian. Tidak ada yang mau kalah dan tidak ada yang mau sudah. !--more--&#xA;&#xA;&#34;Nan, Jih, kita KKN tinggal seminggu lagi. Abis itu udah, kalian mau berantem cakar-cakaran terserah deh. Syukur-syukur kalau kalian baikan beneran. Aku cuma minta itu aja, kok. Jaga kestabilan kelompok kita sampai kita selesai KKN, udah itu aja.&#34; lirih Dito si ketua kelompok diikuti anggukan anggota lainnya.&#xA;&#xA;&#34;Lah, itu Jihannya aja ngga mau dengerin gue? Gue udah minta maaf, To.&#34;&#xA;&#xA;Dito menghela napas panjang. Berani bertaruh itu tarikan napas paling panjang yang dia ambil selama mereka tinggal bersama di pinggir kota Jogjakarta. &#xA;&#xA;&#34;Jih, yuk dengerin dulu penjelasan Inan. Inan juga mau tanggung jawab kok itu. Inan udah bilang dia akan pastiin logbook kamu aman, nilai KKN kamu aman. Udah ya, Jih? Aku sebagai ketua kelompok juga akan usahain nilai sempurna untuk seluruh anggota kelompok. Kita cari solusinya bareng-bareng ya, Jih? Mau kan?&#34;&#xA;&#xA;Jihan beranjak dari sofa, memilih kembali ke kamar. &#34;Yaudah. Demi kelompok.&#39;&#39;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Jiiih, hari ini nggak lupa kan reuni KKN? Dateng yaa jam tujuh, jangan telat.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya ini gue lagi absen pulang, bentar lagi gue ke sana yaa. Daah.&#34;&#xA;&#xA;Sudah dua tahun pasca kelulusan, baru kali ini mereka memutuskan untuk bertemu kembali dengan formasi lengkap. Lebih tepatnya, dipaksa lengkap. Dito mohon-mohon sekali kepada Faris dan Sandra si super sibuk untuk meluangkan waktunya demi acara reuni kali ini. Dito tidak ingin kehilangan momen untuk mengulang kembali hari-hari mereka sebelum ia menikah. &#xA;&#xA;&#34;GILAAA, pecah telor juga KKN Sleman ini. Congrats ya, To.&#34; seru Natya saat Dito mengeluarkan undangan dari tas.&#xA;&#xA;Yang disebut namanya tergelak. &#34;Doain doain, tapi dateng ya lu semua. Awas gak dateng sih.&#34;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Gue kebutin To dari Bekasi, demi lu doang.&#39;&#39; timpal Bayu. &#39;&#39;Eh, si Inan belom dateng?&#34;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Macet katanya. Kantornya di Rasuna Said kan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lah sama kayak lu, Jih?&#39;&#39; sahut Jefrian.&#xA;&#xA;Jihan mengangkat bahu secepat mungkin. Peduli amat. &#xA;&#xA;Nilai Kuliah Kerja Nyata-nya memang keluar sempurna. A bulat, sesuai janji Dito. Hainan juga berusaha membantunya mengisi logbook. Maaf-maafan juga sudah dilakukan di hari terakhir KKN, namun entah mengapa rasa kesal itu masih betah di diri Jihan. &#xA;&#xA;Ia meminimalisir hal-hal yang dapat membuatnya mengetahui kabar Hainan agar ia tak perlu susah payah menahan rasa kesal. Semua media sosial Hainan dibisukan oleh Jihan, ia juga hanya mau datang ke acara nongkrong teman KKN jika Hainan sedang tidak bisa hadir. Namun hari ini, ia mengikhlaskan dirinya untuk melihat Hainan lagi menggunakan mata kepalanya sendiri setelah tiga tahun lamanya. &#xA;&#xA;&#39;&#39;Sorry-sorry, tadi mobil gue ketutupan orang di parkiran kantor, gak bisa keluar. Jadi ngaret kan.&#39;&#39; &#xA;&#xA;Itu dia. &#xA;&#xA;Lelaki dengan kemeja hitamnya itu menyalami satu persatu manusia yang hadir dengan gayanya yang tengil, masih sama seperti 2 tahun lalu. Jihan mati-matian berusaha tidak terlihat canggung. Sayang seribu sayang, Alina menyadari hal itu. Tangannya pelan mengelus lengan Jihan seraya berbisik bahwa semua akan baik-baik saja. &#xA;&#xA;&#39;&#39;Jih, udah lama.&#39;&#39; Tangan itu berada di depan wajah Jihan, menunggu disambut oleh yang punya.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Eh. Iya.&#39;&#39; Jihan menyambut tangannya. Dingin.&#xA;&#xA;Laki-laki itu duduk di serong kanan Jihan. Entah apa yang ada di kepala Jihan, namun ada sesuatu yang membuat dirinya ingin melihat laki-laki itu lagi dan lagi. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#39;&#39;Dateng ya jangan lupa. Dateng. D A T E N G.&#34; seru Dito dari balik jendela mobil. Tangannya menunjuk teman-temannya satu-persatu.&#xA;&#xA;Sisanya tertawa-tawa, menyanggupi permintaan teman yang pernah memimpin segala kegiatan mereka selama 45 hari lamanya. Acara reuni kecil-kecilan itu berakhir di jam 11 malam, mungkin bisa berlanjut hingga tengah malam jika Sarah tidak ditelfon oleh pacarnya yang ekstra posesif. Ah, teman yang satu itu sungguh malang.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Balik... sama siapa?&#34; sebuah suara memecah keheningan saat Jihan berjibaku dengan aplikasi ojek onlinenya.&#xA;&#xA;&#34;G-gocar, sih.&#34; wanita itu menjawab lugas.&#xA;&#xA;&#34;Gue anter aja. Gimana?&#34;&#xA;&#xA;Jihan mengangkat kepalanya, menengok ke kanan kiri. Hanya tersisa Sandra, Bayu, dan tentu saja Hainan di parkiran kafe itu. Ia mati gaya. Jelas ia tidak bisa berbohong untuk pulang bersama Sandra maupun Bayu, dua orang itu mutlak berlawanan arah pulang dengan Jihan.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Gapapa, Nan. Naik gocar aja.&#39;&#39; jawab Jihan lagi.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Udah malem. Lagian searah juga. Ya nggak, Bay, San?&#34; Hainan meminta dukungan Bayu dan Sandra. Yang ditanya tentunya mengangguk mengiyakan.&#xA;&#xA;&#34;Jih, balik sama Inan aja. Udah jam segini juga ngeri kalo lu sendirian naik taksi online.&#39;&#39; bujuk Sandra. &#xA;&#xA;Dalam hati Jihan pun ia setuju dengan perkataan Sandra, toh jika tawaran ini datang dari siapapun-selain Hainan, ia pasti tanpa babibu menyetujuinya. &#xA;&#xA;&#34;Mau kan?&#39;&#39; tanya Hainan lagi. Jihan mengangguk.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Duluan ya, San, Bay. Hati-hati loh.&#39;&#39; &#xA;&#xA;Jihan membuka pintu penumpang dengan penuh keraguan. Apakah ini keputusan yang tepat?&#xA;&#xA;&#39;&#39;Nan, ini gue taro belakang atau gue dudukin aja?&#39;&#39; tanya Jihan sesaat membuka pintu penumpang. Berantakan dengan barang, khas anak laki-laki yang hidupnya diburu waktu.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Eh, bentar gue beresin.&#39;&#39; Hainan meletakkan—lebih tepatnya melempar barang-barang ke jok belakang. &#39;&#39;Dah, boleh duduk sekarang.&#39;&#39;&#xA;&#xA;&#34;Makasih.&#39;&#39;&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;Satu menit.&#xA;&#xA;Dua menit. &#xA;&#xA;Ini bukan tahun 2021 di sebuah rumah di Sleman, ini bukan hari di mana Hainan tidak sengaja menghapus seluruh dokumentasi proker Jihan, bukan juga hari di mana mereka duduk bersebrangan dan saling membuang muka ketika pelepasan tiba, namun entah mengapa masih berat rasanya bagi mereka berdua untuk berbicara lagi. &#xA;&#xA;Hainan akui kesalahan Hainan fatal. Proker gagasan Jihan yang sudah dirancang berminggu-minggu, sudah digagas sedemikian rupa, hilang bukti-buktinya dalam hitungan detik. Hainan panik bukan main saat itu, segala cara sudah ia lakukan, namun hasilnya semakin buruk. Foto tersebut corrupt saat berusaha direcover. &#xA;&#xA;&#34;Masih lucu aja lu, Jih.&#39;&#39;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Hah?&#39;&#39;&#xA;&#xA;Dari sekian banyak kalimat yang bisa Hainan ucapkan, entah mengapa yang keluar dari mulutnya adalah sebuah pujian.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Itu, anu, bercandaan lu masih lucu aja.&#39;&#39;&#xA;&#xA;Haduh, batin Hainan. Salah langkah.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Iya lah. Mana pernah gue garing.&#39;&#39;&#xA;&#xA;Hening lagi.&#xA;&#xA;Tangan Hainan bergegas menekan lagu secara acak di handphonenya. Entah lagu apa yang terpilih, Hainan harap keheningan ini pecah meledak hingga ke dasar-dasarnya.&#xA;&#xA;Yang di kursi penumpang tentu tidak kalah canggungnya, berpura-pura mencari sesuatu yang tidak terlalu ia butuhkan di tasnya. Tidak. Tidak mungkin gincu. Itu membutuhkan cahaya yang cukup terang. Minyak angin? Jihan sedang tidak berada di Puncak Pass. &#xA;&#xA;Ah, gumam Jihan. Sebuah pelembab tangan. Benar-benar gimmick yang cocok untuk suasana senyap di mobil suhunya lebih mirip kulkas swalayan.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Masih belum bisa dimaafin ya gue, Jih?&#34; tanya Hainan tiba-tiba setelah memberhentikan mobilnya di lampu merah.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Hah?&#34;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Diomongin yuk, Jih? Udah dua tahun. Masa iya kita masih diem-dieman gini?&#34;&#xA;&#xA;Jihan menelan ludah. Ia sudah tahu cepat atau lambat pasti percakapan ini akan tiba. Jihan tahu lelaki di sebelahnya pasti setengah mati berusaha mengucapkan kalimat di ujung lidahnya.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Sekarang kan udah bisa diomongin pake kepala dingin, dingin banget malah, boleh dong tolong jelasin seberapa bencinya lu ke gue?&#34; laki-laki itu bersuara kembali.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Ng-ngga gitu, Nan.&#39;&#39;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Terus, gimana? Jelasin aja nggak apa-apa. Gue nggak akan nurunin lu kok, kalo lu masih kesel sama gue.&#39;&#39; &#xA;&#xA;&#39;&#39;Hmmm..&#39;&#39;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Gimana, Jihan?&#39;&#39; &#xA;&#xA;Perempuan itu dapat melihat bagaimana si laki-laki memiringkan kepalanya ke sebelah kanan agar dapat melihat wajah si perempuan lebih jelas. Semburat merah dari pantulan lampu lalu lintas jatuh di wajah si laki-laki dengan amat indah, membuat perempuan itu semakin gelagapan.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Gue nggak pernah benci, Inan. Gue cuma hmm.. apa ya? Malu mungkin karena udah sengambek itu sama lu, udah ngerepotin satu kelompok juga. Padahal mah habis itu lu tetep bantuin ngisi logbook, nilai gue juga tetep A, tapi gue udah kepalang malu.&#39;&#39; jelas Jihan cepat.&#xA;&#xA;&#39;&#39;Padahal nggak apa-apa, Jih. Itu emang salah gue, kok.&#39;&#39; lelaki itu menekan pedal gas perlahan. &#39;&#39;Toh, kalo semisal kejadian itu terjadi pada gue, gue juga akan punya reaksi yang sama dengan lu. Valid kok perasaan lu.&#39;&#39;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Ya, kan? Pasti lu marah juga, kan, Nan?&#34;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Iya marah, tapi nggak akan sampe dua tahun.&#39;&#39;&#xA;&#xA;&#34;Maaf, Nan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue yang minta maaf.&#34;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Ya gue juga, lah?&#34;&#xA;&#xA;&#39;&#39;Berarti kalo KKN ngumpul lagi terus ada gue, lu mau ikut, nih?&#39;&#39;&#xA;&#xA;Gelak tawa pertama terlepas sudah di kulkas swalayan berjalan itu. Sudah tidak begitu dingin, sudah pecah sampai dasar-dasarnya. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;~Hainan&#xA;Gue udah sampe&#xA;&#xA;                                                        Salsabila Jihan&#xA;                                                         kok ngabarin&#xA;&#xA;~Hainan&#xA;Fyi aja&#xA;&#xA;                                                        Salsabila Jihan&#xA;                                                         ok, good&#xA;                                                         makasih udah ditebengin sampe &#xA;                                                         rumah&#xA;&#xA;~Hainan&#xA;Yaya&#xA;Unmute gue dong jih&#xA;&#xA;                                                        Salsabila Jihan&#xA;                                                         iya&#xA;                                                         &#xA;~Hainan&#xA;Nomor gue disave jg&#xA;&#xA;                                                        Salsabila Jihan&#xA;                                                         iya nan&#xA;                                                         /send a picture&#xA;                                                         udah&#xA;Hainan Rese&#xA;Kok hainan rese sih&#xA;Hainan satya&#xA;Segitunya lu lupa sama gue&#xA;&#xA;                                                        Salsabila Jihan&#xA;                                                        tidur nan&#xA;                                                         &#xA;Hainan Rese&#xA;Wkwkwk ok&#xA;&#xA;Lampu kamar Jihan sudah benar-benar gelap. Mungkin di hitungan ke dua puluh ia sudah masuk ke alam mimpi. Hari ini cukup melelahkan baginya.&#xA;&#xA;Hainan Rese&#xA;Bsk berangkat bareng mau gak&#xA;Kita satu gedung kantor&#xA;Wkwk&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Asik, ada yang berangkat sama cowo nih.&#34; seru Arfael sembari menaruh tasnya di kubikelnya. Suara besarnya membuat seisi ruangan bertanya-tanya sambil melirik ke kubikel-kubikel lain, memeriksa siapa saja yang sudah datang.&#xA;&#xA;&#34;Siapa, El?&#34; sahut Ruri.&#xA;&#xA;&#34;Coba tanya sama yang lagi pake baju merah.&#34;&#xA;&#xA;Ruri dan enam orang lainnya serentak menengok ke arah Jihan yang sedang mengisi air minum. &#xA;&#xA;haechan jihan satu kelompok kkn terus dua-duanya tuh awalnya deket waktu kkn, tapi suatu hari haechan sama jihan miskom yang menyebabkan proker jihan ancur. sampe selesai kkn mereka marahan, bahkan sampe lulus. cuma mereka ketemu lagi di kerjaan yang mengharuskan mereka akur, terus yaudah ciuman&#xA;&#xA;Jihan / Salsabila Jihan&#xA;Hainan / Hainan Satya R&#xA;Dito / Pandito Prabu Kusuma&#xA;Faris / Febrian Alfarisy&#xA;Sandra / Sandra Rosea&#xA;Bayu / Bayu Aprilio &#xA;Jefrian / Jefrian Hanendra&#xA;Natya / Anatya Amarani&#xA;Alina / Faulina Nadya &#xA;10. Sarah / Sarah Sagitantri]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Ayo minta maaf, Nan, Jih.”</p>

<p>Hainan menatap Jihan lurus, sementara Jihan jelas membuang pandangannya sejauh mungkin.</p>

<p>Keadaan ruangan berukuran 3 x 4 itu cukup panas, padahal cuaca desa seminggu terakhir selalu mendung, bahkan berkabut. Sudah dua jam mereka bersepuluh duduk di ruang tengah, namun tidak kunjung muncul penyelesaian. Tidak ada yang mau kalah dan tidak ada yang mau sudah. </p>

<p>“Nan, Jih, kita KKN tinggal seminggu lagi. Abis itu udah, kalian mau berantem cakar-cakaran terserah deh. Syukur-syukur kalau kalian baikan beneran. Aku cuma minta itu aja, kok. Jaga kestabilan kelompok kita sampai kita selesai KKN, udah itu aja.” lirih Dito si ketua kelompok diikuti anggukan anggota lainnya.</p>

<p>“Lah, itu Jihannya aja ngga mau dengerin gue? Gue udah minta maaf, To.”</p>

<p>Dito menghela napas panjang. Berani bertaruh itu tarikan napas paling panjang yang dia ambil selama mereka tinggal bersama di pinggir kota Jogjakarta.</p>

<p>“Jih, yuk dengerin dulu penjelasan Inan. Inan juga mau tanggung jawab kok itu. Inan udah bilang dia akan pastiin <em>logbook</em> kamu aman, nilai KKN kamu aman. Udah ya, Jih? Aku sebagai ketua kelompok juga akan usahain nilai sempurna untuk seluruh anggota kelompok. Kita cari solusinya bareng-bareng ya, Jih? Mau kan?”</p>

<p>Jihan beranjak dari sofa, memilih kembali ke kamar. “Yaudah. Demi kelompok.&#39;&#39;</p>

<hr/>

<p>“Jiiih, hari ini nggak lupa kan reuni KKN? Dateng yaa jam tujuh, jangan telat.”</p>

<p>“Iya ini gue lagi absen pulang, bentar lagi gue ke sana yaa. Daah.”</p>

<p>Sudah dua tahun pasca kelulusan, baru kali ini mereka memutuskan untuk bertemu kembali dengan formasi lengkap. Lebih tepatnya, dipaksa lengkap. Dito mohon-mohon sekali kepada Faris dan Sandra si super sibuk untuk meluangkan waktunya demi acara reuni kali ini. Dito tidak ingin kehilangan momen untuk mengulang kembali hari-hari mereka sebelum ia menikah.</p>

<p>“GILAAA, pecah telor juga KKN Sleman ini. <em>Congrats</em> ya, To.” seru Natya saat Dito mengeluarkan undangan dari tas.</p>

<p>Yang disebut namanya tergelak. “Doain doain, tapi dateng ya lu semua. Awas gak dateng sih.”</p>

<p>&#39;&#39;Gue kebutin To dari Bekasi, demi lu doang.&#39;&#39; timpal Bayu. &#39;&#39;Eh, si Inan belom dateng?”</p>

<p>&#39;&#39;Macet katanya. Kantornya di Rasuna Said kan.”</p>

<p>“Lah sama kayak lu, Jih?&#39;&#39; sahut Jefrian.</p>

<p>Jihan mengangkat bahu secepat mungkin. Peduli amat.</p>

<p>Nilai Kuliah Kerja Nyata-nya memang keluar sempurna. A bulat, sesuai janji Dito. Hainan juga berusaha membantunya mengisi logbook. Maaf-maafan juga sudah dilakukan di hari terakhir KKN, namun entah mengapa rasa kesal itu masih betah di diri Jihan.</p>

<p>Ia meminimalisir hal-hal yang dapat membuatnya mengetahui kabar Hainan agar ia tak perlu susah payah menahan rasa kesal. Semua media sosial Hainan dibisukan oleh Jihan, ia juga hanya mau datang ke acara nongkrong teman KKN jika Hainan sedang tidak bisa hadir. Namun hari ini, ia mengikhlaskan dirinya untuk melihat Hainan lagi menggunakan mata kepalanya sendiri setelah tiga tahun lamanya.</p>

<p>&#39;&#39;<em>Sorry-sorry</em>, tadi mobil gue ketutupan orang di parkiran kantor, gak bisa keluar. Jadi ngaret kan.&#39;&#39;</p>

<p>Itu dia.</p>

<p>Lelaki dengan kemeja hitamnya itu menyalami satu persatu manusia yang hadir dengan gayanya yang tengil, masih sama seperti 2 tahun lalu. Jihan mati-matian berusaha tidak terlihat canggung. Sayang seribu sayang, Alina menyadari hal itu. Tangannya pelan mengelus lengan Jihan seraya berbisik bahwa semua akan baik-baik saja.</p>

<p>&#39;&#39;Jih, udah lama.&#39;&#39; Tangan itu berada di depan wajah Jihan, menunggu disambut oleh yang punya.</p>

<p>&#39;&#39;Eh. Iya.&#39;&#39; Jihan menyambut tangannya. Dingin.</p>

<p>Laki-laki itu duduk di serong kanan Jihan. Entah apa yang ada di kepala Jihan, namun ada sesuatu yang membuat dirinya ingin melihat laki-laki itu lagi dan lagi.</p>

<hr/>

<p>&#39;&#39;Dateng ya jangan lupa. Dateng. D A T E N G.” seru Dito dari balik jendela mobil. Tangannya menunjuk teman-temannya satu-persatu.</p>

<p>Sisanya tertawa-tawa, menyanggupi permintaan teman yang pernah memimpin segala kegiatan mereka selama 45 hari lamanya. Acara reuni kecil-kecilan itu berakhir di jam 11 malam, mungkin bisa berlanjut hingga tengah malam jika Sarah tidak ditelfon oleh pacarnya yang ekstra posesif. Ah, teman yang satu itu sungguh malang.</p>

<p>&#39;&#39;Balik... sama siapa?” sebuah suara memecah keheningan saat Jihan berjibaku dengan aplikasi ojek <em>online</em>nya.</p>

<p>“G-<em>gocar</em>, sih.” wanita itu menjawab lugas.</p>

<p>“Gue anter aja. Gimana?”</p>

<p>Jihan mengangkat kepalanya, menengok ke kanan kiri. Hanya tersisa Sandra, Bayu, dan tentu saja Hainan di parkiran kafe itu. Ia mati gaya. Jelas ia tidak bisa berbohong untuk pulang bersama Sandra maupun Bayu, dua orang itu mutlak berlawanan arah pulang dengan Jihan.</p>

<p>&#39;&#39;Gapapa, Nan. Naik <em>gocar</em> aja.&#39;&#39; jawab Jihan lagi.</p>

<p>&#39;&#39;Udah malem. Lagian searah juga. Ya nggak, Bay, San?” Hainan meminta dukungan Bayu dan Sandra. Yang ditanya tentunya mengangguk mengiyakan.</p>

<p>“Jih, balik sama Inan aja. Udah jam segini juga ngeri kalo lu sendirian naik taksi <em>online</em>.&#39;&#39; bujuk Sandra.</p>

<p>Dalam hati Jihan pun ia setuju dengan perkataan Sandra, toh jika tawaran ini datang dari siapapun-selain Hainan, ia pasti tanpa babibu menyetujuinya.</p>

<p>“Mau kan?&#39;&#39; tanya Hainan lagi. Jihan mengangguk.</p>

<p>&#39;&#39;Duluan ya, San, Bay. Hati-hati loh.&#39;&#39;</p>

<p>Jihan membuka pintu penumpang dengan penuh keraguan. Apakah ini keputusan yang tepat?</p>

<p>&#39;&#39;Nan, ini gue taro belakang atau gue dudukin aja?&#39;&#39; tanya Jihan sesaat membuka pintu penumpang. Berantakan dengan barang, khas anak laki-laki yang hidupnya diburu waktu.</p>

<p>&#39;&#39;Eh, bentar gue beresin.&#39;&#39; Hainan meletakkan—lebih tepatnya melempar barang-barang ke jok belakang. &#39;&#39;Dah, boleh duduk sekarang.&#39;&#39;</p>

<p>“Makasih.&#39;&#39;</p>

<p>Hening.</p>

<p>Satu menit.</p>

<p>Dua menit.</p>

<p>Ini bukan tahun 2021 di sebuah rumah di Sleman, ini bukan hari di mana Hainan tidak sengaja menghapus seluruh dokumentasi proker Jihan, bukan juga hari di mana mereka duduk bersebrangan dan saling membuang muka ketika pelepasan tiba, namun entah mengapa masih berat rasanya bagi mereka berdua untuk berbicara lagi.</p>

<p>Hainan akui kesalahan Hainan fatal. Proker gagasan Jihan yang sudah dirancang berminggu-minggu, sudah digagas sedemikian rupa, hilang bukti-buktinya dalam hitungan detik. Hainan panik bukan main saat itu, segala cara sudah ia lakukan, namun hasilnya semakin buruk. Foto tersebut <em>corrupt</em> saat berusaha di<em>recover</em>.</p>

<p>“Masih lucu aja lu, Jih.&#39;&#39;</p>

<p>&#39;&#39;Hah?&#39;&#39;</p>

<p>Dari sekian banyak kalimat yang bisa Hainan ucapkan, entah mengapa yang keluar dari mulutnya adalah sebuah pujian.</p>

<p>&#39;&#39;Itu, anu, bercandaan lu masih lucu aja.&#39;&#39;</p>

<p><em>Haduh</em>, batin Hainan. Salah langkah.</p>

<p>&#39;&#39;Iya lah. Mana pernah gue garing.&#39;&#39;</p>

<p>Hening lagi.</p>

<p>Tangan Hainan bergegas menekan lagu secara acak di <em>handphone</em>nya. Entah lagu apa yang terpilih, Hainan harap keheningan ini pecah meledak hingga ke dasar-dasarnya.</p>

<p>Yang di kursi penumpang tentu tidak kalah canggungnya, berpura-pura mencari sesuatu yang tidak terlalu ia butuhkan di tasnya. Tidak. Tidak mungkin gincu. Itu membutuhkan cahaya yang cukup terang. Minyak angin? Jihan sedang tidak berada di Puncak Pass.</p>

<p><em>Ah</em>, gumam Jihan. Sebuah pelembab tangan. Benar-benar <em>gimmick</em> yang cocok untuk suasana senyap di mobil suhunya lebih mirip kulkas swalayan.</p>

<p>&#39;&#39;Masih belum bisa dimaafin ya gue, Jih?” tanya Hainan tiba-tiba setelah memberhentikan mobilnya di lampu merah.</p>

<p>&#39;&#39;Hah?”</p>

<p>&#39;&#39;Diomongin yuk, Jih? Udah dua tahun. Masa iya kita masih diem-dieman gini?”</p>

<p>Jihan menelan ludah. Ia sudah tahu cepat atau lambat pasti percakapan ini akan tiba. Jihan tahu lelaki di sebelahnya pasti setengah mati berusaha mengucapkan kalimat di ujung lidahnya.</p>

<p>&#39;&#39;Sekarang kan udah bisa diomongin pake kepala dingin, dingin banget malah, boleh dong tolong jelasin seberapa bencinya lu ke gue?” laki-laki itu bersuara kembali.</p>

<p>&#39;&#39;Ng-ngga gitu, Nan.&#39;&#39;</p>

<p>&#39;&#39;Terus, gimana? Jelasin aja nggak apa-apa. Gue nggak akan nurunin lu kok, kalo lu masih kesel sama gue.&#39;&#39;</p>

<p>&#39;&#39;Hmmm..&#39;&#39;</p>

<p>&#39;&#39;Gimana, Jihan?&#39;&#39;</p>

<p>Perempuan itu dapat melihat bagaimana si laki-laki memiringkan kepalanya ke sebelah kanan agar dapat melihat wajah si perempuan lebih jelas. Semburat merah dari pantulan lampu lalu lintas jatuh di wajah si laki-laki dengan amat indah, membuat perempuan itu semakin gelagapan.</p>

<p>&#39;&#39;Gue nggak pernah benci, Inan. Gue cuma hmm.. apa ya? Malu mungkin karena udah sengambek itu sama lu, udah ngerepotin satu kelompok juga. Padahal mah habis itu lu tetep bantuin ngisi <em>logbook</em>, nilai gue juga tetep A, tapi gue udah kepalang malu.&#39;&#39; jelas Jihan cepat.</p>

<p>&#39;&#39;Padahal nggak apa-apa, Jih. Itu emang salah gue, kok.&#39;&#39; lelaki itu menekan pedal gas perlahan. &#39;&#39;Toh, kalo semisal kejadian itu terjadi pada gue, gue juga akan punya reaksi yang sama dengan lu. Valid kok perasaan lu.&#39;&#39;</p>

<p>&#39;&#39;Ya, kan? Pasti lu marah juga, kan, Nan?”</p>

<p>&#39;&#39;Iya marah, tapi nggak akan sampe dua tahun.&#39;&#39;</p>

<p>“Maaf, Nan.”</p>

<p>“Gue yang minta maaf.”</p>

<p>&#39;&#39;Ya gue juga, lah?”</p>

<p>&#39;&#39;Berarti kalo KKN ngumpul lagi terus ada gue, lu mau ikut, nih?&#39;&#39;</p>

<p>Gelak tawa pertama terlepas sudah di kulkas swalayan berjalan itu. Sudah tidak begitu dingin, sudah pecah sampai dasar-dasarnya.</p>

<hr/>

<p><strong>~Hainan</strong>
Gue udah sampe</p>

<p>                                                        <strong>Salsabila Jihan</strong>
                                                         kok ngabarin</p>

<p><strong>~Hainan</strong>
Fyi aja</p>

<p>                                                        <strong>Salsabila Jihan</strong>
                                                         ok, good
                                                         makasih udah ditebengin sampe
                                                         rumah</p>

<p><strong>~Hainan</strong>
Yaya
Unmute gue dong jih</p>

<p>                                                        <strong>Salsabila Jihan</strong>
                                                         iya</p>

<p><strong>~Hainan</strong>
Nomor gue di<em>save</em> jg</p>

<p>                                                        <strong>Salsabila Jihan</strong>
                                                         iya nan
                                                         /<em>send a picture</em>
                                                         udah
<strong>Hainan Rese</strong>
Kok hainan rese sih
Hainan satya
Segitunya lu lupa sama gue</p>

<p>                                                        <strong>Salsabila Jihan</strong>
                                                        tidur nan</p>

<p><strong>Hainan Rese</strong>
Wkwkwk ok</p>

<p>Lampu kamar Jihan sudah benar-benar gelap. Mungkin di hitungan ke dua puluh ia sudah masuk ke alam mimpi. Hari ini cukup melelahkan baginya.</p>

<p><strong>Hainan Rese</strong>
Bsk berangkat bareng mau gak
Kita satu gedung kantor
Wkwk</p>

<hr/>

<p>“Asik, ada yang berangkat sama cowo nih.” seru Arfael sembari menaruh tasnya di kubikelnya. Suara besarnya membuat seisi ruangan bertanya-tanya sambil melirik ke kubikel-kubikel lain, memeriksa siapa saja yang sudah datang.</p>

<p>“Siapa, El?” sahut Ruri.</p>

<p>“Coba tanya sama yang lagi pake baju merah.”</p>

<p>Ruri dan enam orang lainnya serentak menengok ke arah Jihan yang sedang mengisi air minum.</p>

<p>haechan jihan satu kelompok kkn terus dua-duanya tuh awalnya deket waktu kkn, tapi suatu hari haechan sama jihan miskom yang menyebabkan proker jihan ancur. sampe selesai kkn mereka marahan, bahkan sampe lulus. cuma mereka ketemu lagi di kerjaan yang mengharuskan mereka akur, terus yaudah ciuman</p>
<ol><li>Jihan / Salsabila Jihan</li>
<li>Hainan / Hainan Satya R</li>
<li>Dito / Pandito Prabu Kusuma</li>
<li>Faris / Febrian Alfarisy</li>
<li>Sandra / Sandra Rosea</li>
<li>Bayu / Bayu Aprilio</li>
<li>Jefrian / Jefrian Hanendra</li>
<li>Natya / Anatya Amarani</li>
<li>Alina / Faulina Nadya</li>
<li>Sarah / Sarah Sagitantri</li></ol>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/ahay</guid>
      <pubDate>Mon, 17 Jul 2023 18:14:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Anak SMA</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/anak-sma?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Ngga bisa gitu, El. Agenda marah-marah di ospek kita tuh bukan agenda utama. Jujur gue sendiri kurang suka sama adanya sesi marah-marah di ospek, yang tanpa sebab ya. Kesannya jadi kayak bales dendam doang karena kita dulu juga digituin sama kakak kelas kita.&#34; &#xA;&#xA;Suara Abas menggema di rapat besar OSIS diikuti dengan beberapa anggukan anggota OSIS. Matanya tajam menatap ke arah Arfael yang tampaknya mulai emosi. Perdebatan antara ketua OSIS dan ketua pelaksana ospek ini bukanlah kali pertama, namun bukan juga yang paling fantastis. Beberapa anggota meyakini bahwa Abas dan Arfael masih bisa berdebat lebih fantastis lagi di kemudian hari.&#xA;!--more--&#xA;&#34;Adek kelas kita bisa aja jadi ngga sopan Bas kalo ngga dikerasin.&#34; sahut Arfael. &#34;Lo liat lah sekolah sebelah, tahun kemaren ospeknya ngga diomelin, eh utasnya malah nyolot.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apa bedanya sama senioritas kalo kayak gitu?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Jelas beda lah. Senioritas kan emang pengen nindas aja, kalo ospek kan emang agendanya membentuk karakter murid-murid baru. Lagian abis ospek juga biasanya kita maaf-maafan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Membentuk karakter ngga harus dengan marah-marah, El.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ya apa terus? Lo mau ngisi acara lo cuma pake sambutan-sambutan dari guru? Materi-materi? Basi, Bas. Acara lo bakal jadi acara ospek paling basi!&#34;&#xA;&#xA;Arfael kini berada di puncak emosi, sementara Abas masih bersikap datar dengan kepala dinginnya. Ia benar-benar pandai mengatur emosinya, tidak melulu meledak-ledak namun mampu mempermainkan emosi lawannya.&#xA;&#xA;&#34;Voting aja, El. Tanya anggota lain maunya kayak gimana.&#34; kata Abas. &#34;Gue yakin sih yang lain udah baca proposal, ngga kayak lo, sampe bisa bilang acara ospek gue basi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Deal.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Kamu hari ini jadi konsul matematika?&#34; &#xA;&#xA;Abas menggeleng. &#34;Ngga ah, pusing. Besok aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yaudah langsung pulang aja kalo gitu ya.&#34; &#xA;&#xA;Lagi-lagi Abas menggeleng, kali ini dibarengi dengan tangannya yang mengamit tangan gadisnya agar berada di sisi kirinya. &#34;Makan es campur, yuk? Mau ngga?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo pusing mah pulang, Bas..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jadi ngga mau nih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh, mau.&#34; ujar si gadis pelan.&#xA;&#xA;&#34;Nah gitu dong.&#34; &#xA;&#xA;Si lelaki anak-baru-gede memberhentikan angkot dengan tangan kanannya, lalu mempersilakan gadisnya untuk naik terlebih dahulu, tidak lupa menyuruh gadisnya agar tidak duduk terlalu dekat dengan pintu. &#xA;&#xA;Ah, iya. Dua sejoli ini memang masih naik angkutan umum kemana-mana. Si lelaki belum genap tujuh belas tahun, belum punya surat izin mengemudi. Yaaa, walau kadang Abas kabita, membayangkan rasanya menyusuri jalanan kota sambil berboncengan, ia harus tetap sabar. Lagipula, ia masih belum memiliki kendaraan. Ia hanya pernah beberapa kali menggunakan motor Hafidz jika Maya meminta bantuan untuk membelikan sesuatu di warung dekat komplek. &#xA;&#xA;Walau kesannya terasa cupu karena sudah kelas dua belas dan tidak membawa kendaraan, Abas tetap bangga (bahkan sedikit jumawa), sebab:&#xA;Dirinya mengikuti aturan bahwa seseorang hanya boleh mengemudikan kendaraan apabila sudah memiliki Surat Izin Mengemudi yang sesuai dengan jenis kendaraannya.&#xA;Hanya dirinya yang dapat membawa gadisnya (yang sangat cantik) makan es campur sepulang sekolah.&#xA;&#xA;Abas bukan sekali-dua kali membawa gadisnya ke kedai es campur langganannya, bahkan bisa dibilang hal ini rutin ia lakukan tiap minggunya. Si gadis juga tak pernah protes atau menolak jika mereka berakhir menyantap es campur dengan berbagai gorengan, atau lebih tepatnya, si gadis akan selalu bahagia kemanapun perginya selama masih bersama Abas. &#xA;&#xA;&#34;Jalannya ke es campur mulu, ngga punya duit ye lu?&#34;&#xA;&#xA;Pernah suatu kali ia mendengar celetukan itu dari temannya. Abas hanya tertawa, ia anggap itu bercanda walaupun memang benar adanya, Abas tidak punya uang. Lah bener, aku kan belom kerja jadi ngga punya uang. Ini mah uang kakak-kakak aku, begitu kata Abas ketika gadisnya bertanya mengapa respon Abas hanya tertawa.&#xA;&#xA;Kedai es campur itu punya cerita, punya andil besar dalam kisah cinta Abas. &#xA;&#xA;Hmm, tebakan kalian salah jika kalian menebak Abas dan gadisnya pertama kali bertemu di kedai es campur. Pasalnya, hari itu adalah entah pertemuan keberapa dengan gadisnya. Toh, pada kala itu mereka sehari-hari selalu bertemu di rapat kepanitiaan atau sekadar berpapasan di koridor sekolah. Namun, pertemuan hari itu benar-benar membuat Abas penasaran setengah mati dengan gadis yang ia lihat sedang mengeluh mengenai betapa ruwetnya kepanitiaan yang ia jalani kepada bude penjual es campur. Abas yang saat itu masih berdiri di ambang pintu kedai memilih untuk duduk dan mendengarkan racauan gadisnya dari kejauhan. Samar-samar ia dengar gadisnya menyebut nama divisinya, lalu nama si koordinator, kadang ia juga menyebutkan nama-nama anggota divisinya. Tidak ada yang sangka bahwa keinginan Maya malam itu untuk menyantap es campur membawa Abas kepada rasa penasaran yang tak berujung. Abas diam-diam menaruh hati pada teman satu kepanitiaannya, gadisnya, Luna. &#xA;&#xA;&#34;Aku pesenin ya. Kamu mau es campur atau es oyen?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Es oyen aja&#34; jawab Luna. Selagi Abas memesan, ia beralih ke meja gorengan, mengambil dua potong mendoan dan satu potong lapis legit kesukaan Abas. &#xA;&#xA;&#34;Segitu aja gorengan kamu, Lun?&#34; tanya Abas. &#34;Dikit banget.&#34;&#xA;&#xA;Luna mengangguk seraya menggigit mendoannya. &#34;Masih kenyang, lagian takut bunda masak juga di rumah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmmm, Kak Maya masak ngga ya?&#34; Abas bergumam.&#xA;&#xA;&#34;Eh-&#34;&#xA;&#xA;Ekspresi Luna seketika berubah. Ia takut perkataannya menyinggung hati Abas, padahal ia sama sekali tidak bermaksud. Luna tahu betul cerita hidup Abas, maka itu sebisa mungkin Luna menghindari percakapan tentang keluarga, walau sebenarnya Abas tidak pernah merasa tersinggung maupun terpojok dengan bahasan seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;Aku gapapa, Lun.&#34; kata Abas tiba-tiba. Luna yakin pasti Abas membaca gerak-geriknya, maka itu Abas segera menangkupkan tangannya di atas tangan Luna. &#xA;&#xA;Kata &#39;jahil&#39; memang lekat dengan image Abas, namun dirinya juga tumbuh menjadi lelaki yang amat peka dengan sekelilingnya. Ia pandai membaca situasi dan ekspresi sehingga kebanyakan orang merasa baik-baik saja di dekat Abas. &#xA;&#xA;Seperti yang pernah ditulis pada bagian sebelumnya, Abas memang cetakan anak Kontrakan Cerdas. Ia seakan mewarisi satu-persatu watak warga kontrakan tersebut. Kalau dijabarkan, maka kemungkinan ia dapat sifat pekanya dari Rega dan Jidan, walaupun rasa peka keduanya juga berbeda. Rega yang peka dan langsung bergerak menyelesaikan apa yang tidak semestinya, sementara Jidan yang peka nan menenangkan. Lalu, Abas peka yang seperti apa? Jawabannya, keduanya. &#xA;&#xA;&#34;Kamu kalo mau ngomongin bunda, ayah atau mba tuh ngga apa-apa banget, Lun. Aku seneng malah dengernya.&#34; lanjut Abas. &#xA;&#xA;&#34;Aku tuh masih takut kamu sedih, Bas. Tau sendiri kamu kalo sedih ngga pernah bilang-bilang.&#34;&#xA;&#xA;Yang dituduh terkekeh. &#34;Lah kalo sedih bilang-bilang tuh terus gimana? Aku harus bikin pengumuman kalo aku lagi sedih kah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iiiih, ngga gitu. Ya cerita aja sama aku, kan aku bisa bikin kamu ngga sedih lagi.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gimana tuh caranya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya.... Aku hibur?&#34; Luna tampak kebingungan dengan kalimatnya sendiri.&#xA;&#xA;Lagi-lagi Abas tertawa. Gadisnya ini memang lucu dengan sendirinya. &#34;Aku selalu seneng tau, Lun. Keluarga aku gedeeeee banget, banyak banget orangnya, semua juga sayang aku, jadi ngga mungkin aku sedih. Aku bersyukur banget punya mereka, mereka mau ngurusin aku dari mereka masih jadi mahasiswa sampe sekarang mereka udah punya anak sendiri-sendiri aja tuh udah lebih dari cukup untuk bikin aku bahagia, Lun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Glad to know that you&#39;re always happy, Bas. You really deserved it.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kamu. Kamu juga lebih dari cukup, Lun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maksudnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udaaah, ayo cepet diabisin, nanti keburu ujan. Aku anter kamu pulang dulu, kamu bawa payung kan?&#34; &#xA;&#xA;Terima kasih langit mendung, Abas jadi tidak perlu mengulang kalimat romantis yang ia sebutkan. Ah, ini benar-benar cuaca yang tepat untuk mengantar pujaan hati pulang ke rumahnya.&#xA;&#xA; &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Ngga bisa gitu, El. Agenda marah-marah di ospek kita tuh bukan agenda utama. Jujur gue sendiri kurang suka sama adanya sesi marah-marah di ospek, yang tanpa sebab ya. Kesannya jadi kayak bales dendam doang karena kita dulu juga digituin sama kakak kelas kita.”</p>

<p>Suara Abas menggema di rapat besar OSIS diikuti dengan beberapa anggukan anggota OSIS. Matanya tajam menatap ke arah Arfael yang tampaknya mulai emosi. Perdebatan antara ketua OSIS dan ketua pelaksana ospek ini bukanlah kali pertama, namun bukan juga yang paling fantastis. Beberapa anggota meyakini bahwa Abas dan Arfael masih bisa berdebat lebih fantastis lagi di kemudian hari.

“Adek kelas kita bisa aja jadi ngga sopan Bas kalo ngga dikerasin.” sahut Arfael. “Lo liat lah sekolah sebelah, tahun kemaren ospeknya ngga diomelin, eh utasnya malah nyolot.”</p>

<p>“Apa bedanya sama senioritas kalo kayak gitu?”</p>

<p>“Jelas beda lah. Senioritas kan emang pengen nindas aja, kalo ospek kan emang agendanya membentuk karakter murid-murid baru. Lagian abis ospek juga biasanya kita maaf-maafan.”</p>

<p>“Membentuk karakter ngga harus dengan marah-marah, El.”</p>

<p>“Ya apa terus? Lo mau ngisi acara lo cuma pake sambutan-sambutan dari guru? Materi-materi? Basi, Bas. Acara lo bakal jadi acara ospek paling basi!”</p>

<p>Arfael kini berada di puncak emosi, sementara Abas masih bersikap datar dengan kepala dinginnya. Ia benar-benar pandai mengatur emosinya, tidak melulu meledak-ledak namun mampu mempermainkan emosi lawannya.</p>

<p>“<em>Voting</em> aja, El. Tanya anggota lain maunya kayak gimana.” kata Abas. “Gue yakin sih yang lain udah baca proposal, ngga kayak lo, sampe bisa bilang acara ospek gue basi.”</p>

<p>“<em>Deal</em>.”</p>

<hr/>

<p>“Kamu hari ini jadi konsul matematika?”</p>

<p>Abas menggeleng. “Ngga ah, pusing. Besok aja.”</p>

<p>“Yaudah langsung pulang aja kalo gitu ya.”</p>

<p>Lagi-lagi Abas menggeleng, kali ini dibarengi dengan tangannya yang mengamit tangan gadisnya agar berada di sisi kirinya. “Makan es campur, yuk? Mau ngga?”</p>

<p>“Kalo pusing mah pulang, Bas..”</p>

<p>“Jadi ngga mau nih?”</p>

<p>“Eh, mau.” ujar si gadis pelan.</p>

<p>“Nah gitu dong.”</p>

<p>Si lelaki <em>anak-baru-gede</em> memberhentikan angkot dengan tangan kanannya, lalu mempersilakan gadisnya untuk naik terlebih dahulu, tidak lupa menyuruh gadisnya agar tidak duduk terlalu dekat dengan pintu.</p>

<p>Ah, iya. Dua sejoli ini memang masih naik angkutan umum kemana-mana. Si lelaki belum genap tujuh belas tahun, belum punya surat izin mengemudi. Yaaa, walau kadang Abas <em>kabita</em>, membayangkan rasanya menyusuri jalanan kota sambil berboncengan, ia harus tetap sabar. Lagipula, ia masih belum memiliki kendaraan. Ia hanya pernah beberapa kali menggunakan motor Hafidz jika Maya meminta bantuan untuk membelikan sesuatu di warung dekat komplek.</p>

<p>Walau kesannya terasa cupu karena sudah kelas dua belas dan tidak membawa kendaraan, Abas tetap bangga (bahkan sedikit jumawa), sebab:
1. Dirinya mengikuti aturan bahwa seseorang hanya boleh mengemudikan kendaraan apabila sudah memiliki Surat Izin Mengemudi yang sesuai dengan jenis kendaraannya.
2. Hanya dirinya yang dapat membawa gadisnya (yang sangat cantik) makan es campur sepulang sekolah.</p>

<p>Abas bukan sekali-dua kali membawa gadisnya ke kedai es campur langganannya, bahkan bisa dibilang hal ini rutin ia lakukan tiap minggunya. Si gadis juga tak pernah protes atau menolak jika mereka berakhir menyantap es campur dengan berbagai gorengan, atau lebih tepatnya, si gadis akan selalu bahagia kemanapun perginya selama masih bersama Abas.</p>

<p><em>“Jalannya ke es campur mulu, ngga punya duit ye lu?”</em></p>

<p>Pernah suatu kali ia mendengar celetukan itu dari temannya. Abas hanya tertawa, ia anggap itu bercanda walaupun memang benar adanya, Abas tidak punya uang. <em>Lah bener, aku kan belom kerja jadi ngga punya uang. Ini mah uang kakak-kakak aku</em>, begitu kata Abas ketika gadisnya bertanya mengapa respon Abas hanya tertawa.</p>

<p>Kedai es campur itu punya cerita, punya andil besar dalam kisah cinta Abas.</p>

<p>Hmm, tebakan kalian salah jika kalian menebak Abas dan gadisnya pertama kali bertemu di kedai es campur. Pasalnya, hari itu adalah entah pertemuan keberapa dengan gadisnya. Toh, pada kala itu mereka sehari-hari selalu bertemu di rapat kepanitiaan atau sekadar berpapasan di koridor sekolah. Namun, pertemuan hari itu benar-benar membuat Abas penasaran setengah mati dengan gadis yang ia lihat sedang mengeluh mengenai betapa ruwetnya kepanitiaan yang ia jalani kepada bude penjual es campur. Abas yang saat itu masih berdiri di ambang pintu kedai memilih untuk duduk dan mendengarkan racauan gadisnya dari kejauhan. Samar-samar ia dengar gadisnya menyebut nama divisinya, lalu nama si koordinator, kadang ia juga menyebutkan nama-nama anggota divisinya. Tidak ada yang sangka bahwa keinginan Maya malam itu untuk menyantap es campur membawa Abas kepada rasa penasaran yang tak berujung. Abas diam-diam menaruh hati pada teman satu kepanitiaannya, gadisnya, Luna.</p>

<p>“Aku pesenin ya. Kamu mau es campur atau es oyen?”</p>

<p>“Es oyen aja” jawab Luna. Selagi Abas memesan, ia beralih ke meja gorengan, mengambil dua potong mendoan dan satu potong lapis legit kesukaan Abas.</p>

<p>“Segitu aja gorengan kamu, Lun?” tanya Abas. “Dikit banget.”</p>

<p>Luna mengangguk seraya menggigit mendoannya. “Masih kenyang, lagian takut bunda masak juga di rumah.”</p>

<p>“Hmmm, Kak Maya masak ngga ya?” Abas bergumam.</p>

<p>“Eh-”</p>

<p>Ekspresi Luna seketika berubah. Ia takut perkataannya menyinggung hati Abas, padahal ia sama sekali tidak bermaksud. Luna tahu betul cerita hidup Abas, maka itu sebisa mungkin Luna menghindari percakapan tentang keluarga, walau sebenarnya Abas tidak pernah merasa tersinggung maupun terpojok dengan bahasan seperti itu.</p>

<p>“Aku gapapa, Lun.” kata Abas tiba-tiba. Luna yakin pasti Abas membaca gerak-geriknya, maka itu Abas segera menangkupkan tangannya di atas tangan Luna.</p>

<p>Kata &#39;jahil&#39; memang lekat dengan <em>image</em> Abas, namun dirinya juga tumbuh menjadi lelaki yang amat peka dengan sekelilingnya. Ia pandai membaca situasi dan ekspresi sehingga kebanyakan orang merasa baik-baik saja di dekat Abas.</p>

<p>Seperti yang pernah ditulis pada bagian sebelumnya, Abas memang cetakan anak Kontrakan Cerdas. Ia seakan mewarisi satu-persatu watak warga kontrakan tersebut. Kalau dijabarkan, maka kemungkinan ia dapat sifat pekanya dari Rega dan Jidan, walaupun rasa peka keduanya juga berbeda. Rega yang peka dan langsung bergerak menyelesaikan apa yang tidak semestinya, sementara Jidan yang peka nan menenangkan. Lalu, Abas peka yang seperti apa? Jawabannya, keduanya.</p>

<p>“Kamu kalo mau ngomongin bunda, ayah atau mba tuh ngga apa-apa banget, Lun. Aku seneng malah dengernya.” lanjut Abas.</p>

<p>“Aku tuh masih takut kamu sedih, Bas. Tau sendiri kamu kalo sedih ngga pernah bilang-bilang.”</p>

<p>Yang dituduh terkekeh. “Lah kalo sedih bilang-bilang tuh terus gimana? Aku harus bikin pengumuman kalo aku lagi sedih kah?”</p>

<p>“Iiiih, ngga gitu. Ya cerita aja sama aku, kan aku bisa bikin kamu ngga sedih lagi.”</p>

<p>“Gimana tuh caranya?”</p>

<p>“Ya.... Aku hibur?” Luna tampak kebingungan dengan kalimatnya sendiri.</p>

<p>Lagi-lagi Abas tertawa. Gadisnya ini memang lucu dengan sendirinya. “Aku selalu seneng tau, Lun. Keluarga aku gedeeeee banget, banyak banget orangnya, semua juga sayang aku, jadi ngga mungkin aku sedih. Aku bersyukur banget punya mereka, mereka mau ngurusin aku dari mereka masih jadi mahasiswa sampe sekarang mereka udah punya anak sendiri-sendiri aja tuh udah lebih dari cukup untuk bikin aku bahagia, Lun.”</p>

<p>“<em>Glad to know that you&#39;re always happy</em>, Bas. <em>You really deserved it</em>.”</p>

<p>“Kamu. Kamu juga lebih dari cukup, Lun.”</p>

<p>“Maksudnya?”</p>

<p>“Udaaah, ayo cepet diabisin, nanti keburu ujan. Aku anter kamu pulang dulu, kamu bawa payung kan?”</p>

<p>Terima kasih langit mendung, Abas jadi tidak perlu mengulang kalimat romantis yang ia sebutkan. Ah, ini benar-benar cuaca yang tepat untuk mengantar pujaan hati pulang ke rumahnya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/anak-sma</guid>
      <pubDate>Fri, 10 Jun 2022 09:03:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sudirman dan Hal yang Tidak Kusukai Darinya</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/sudirman-dan-hal-yang-tidak-kusukai-darinya?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Aku tadi bagus ngga?&#34; tanya Sunghoon tiba-tiba. Ia memalingkan wajahnya dari setir mobil, menunggu jawaban dariku.&#xA;&#xA;&#34;Kamu selalu bagus. Dari dulu kan aku selalu bilang—ralat, semua orang selalu bilang penampilan kamu paling bagus.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon menekan pedal gas perlahan, namun wajahnya tak lepas menatapku. &#34;Are you okay?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ada masalah apa emangnya?&#34; tanyaku balik. Aku memilih untuk melihat ke jalan raya dibanding harus balik menatapnya. &#xA;&#xA;&#34;Maaf maaf, aku ngelantur.&#34;&#xA;&#xA;Aku menghela nafas panjang selagi Sunghoon menatap jalanan di depan. Entah mengapa aku selalu benci ketika ia mengkhawatirkan hal itu, walau hanya sekadar bertanya apakah diriku baik-baik saja, aku tetap tidak suka. Mungkin juga itu satu-satunya hal yang tidak kusuka dari dirinya. &#xA;&#xA;Sepuluh tahun—mungkin, bisa kurang atau lebih—tidak lantas membuatku lupa begitu saja, aku masih ingat jelas bagaimana kaki perempuan itu menyandung kakiku saat latihan hingga cedera berat. Mulai hari itu, aku resmi pensiun menjadi ice skater, bahkan ketika aku belum memulai seutuhnya. &#xA;&#xA;Aku murung luar biasa. Bagaimana tidak? Berlenggang di arena, menari-nari di atas hamparan es dengan baju cantik dan sepatu menawan benar-benar impianku saat itu. Aku turut menghempaskan cita-cita terbesarku, menjadi satu dari puluhan pemain pertunjukan ice skating kartun populer, Disney on Ice. &#xA;&#xA;Sejak hari itu, Sunghoon selalu bilang bahwa ia akan jadi yang terbaik di arena. Namaku juga selalu ia sebut saat pidato kemenangan, bahkan tak jarang Sunghoon menginapkan tropi dan medalinya di rumahku untuk beberapa hari. &#xA;&#xA;&#34;Besok jadi nonton aku perform kan? Aku jemput jam dua, ya.&#34; katanya lagi. &#xA;&#xA;&#34;Cepet banget. Bukannya kamu tampil jam tujuh?&#34;&#xA;&#xA;Sunghoon tertawa kecil, &#34;Kamu dijemput duluan ngga apa-apa kan? Nanti aku drop kamu dulu. Abis itu aku jemput Mawar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aah, Mawar.&#34; Aku mengangguk paham lantas menggigit bibir bawahku. Katanya itu mampu menahan air matamu agar tidak jatuh.&#xA;&#xA;&#34;Ngga apa-apa kan?&#34;&#xA;&#xA;Aku enggan menjawab, bibirku punya tugas yang lebih penting dibanding menjawab pertanyaan yang tak pernah aku sukai. &#xA;&#xA;&#34;Lah? Kok nangis]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Aku tadi bagus ngga?” tanya Sunghoon tiba-tiba. Ia memalingkan wajahnya dari setir mobil, menunggu jawaban dariku.</p>

<p>“Kamu selalu bagus. Dari dulu kan aku selalu bilang—ralat, semua orang selalu bilang penampilan kamu paling bagus.”</p>

<p>Sunghoon menekan pedal gas perlahan, namun wajahnya tak lepas menatapku. “<em>Are you okay</em>?”</p>

<p>“Ada masalah apa emangnya?” tanyaku balik. Aku memilih untuk melihat ke jalan raya dibanding harus balik menatapnya.</p>

<p>“Maaf maaf, aku ngelantur.”</p>

<p>Aku menghela nafas panjang selagi Sunghoon menatap jalanan di depan. Entah mengapa aku selalu benci ketika ia mengkhawatirkan hal itu, walau hanya sekadar bertanya apakah diriku baik-baik saja, aku tetap tidak suka. Mungkin juga itu satu-satunya hal yang tidak kusuka dari dirinya.</p>

<p>Sepuluh tahun—mungkin, bisa kurang atau lebih—tidak lantas membuatku lupa begitu saja, aku masih ingat jelas bagaimana kaki perempuan itu menyandung kakiku saat latihan hingga cedera berat. Mulai hari itu, aku resmi pensiun menjadi <em>ice skater</em>, bahkan ketika aku belum memulai seutuhnya.</p>

<p>Aku murung luar biasa. Bagaimana tidak? Berlenggang di arena, menari-nari di atas hamparan es dengan baju cantik dan sepatu menawan benar-benar impianku saat itu. Aku turut menghempaskan cita-cita terbesarku, menjadi satu dari puluhan pemain pertunjukan <em>ice skating</em> kartun populer, <em>Disney on Ice</em>.</p>

<p>Sejak hari itu, Sunghoon selalu bilang bahwa ia akan jadi yang terbaik di arena. Namaku juga selalu ia sebut saat pidato kemenangan, bahkan tak jarang Sunghoon menginapkan tropi dan medalinya di rumahku untuk beberapa hari.</p>

<p>“Besok jadi nonton aku <em>perform</em> kan? Aku jemput jam dua, ya.” katanya lagi.</p>

<p>“Cepet banget. Bukannya kamu tampil jam tujuh?”</p>

<p>Sunghoon tertawa kecil, “Kamu dijemput duluan ngga apa-apa kan? Nanti aku <em>drop</em> kamu dulu. Abis itu aku jemput Mawar.”</p>

<p>“Aah, Mawar.” Aku mengangguk paham lantas menggigit bibir bawahku. Katanya itu mampu menahan air matamu agar tidak jatuh.</p>

<p>“Ngga apa-apa kan?”</p>

<p>Aku enggan menjawab, bibirku punya tugas yang lebih penting dibanding menjawab pertanyaan yang tak pernah aku sukai.</p>

<p>“Lah? Kok nangis</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/sudirman-dan-hal-yang-tidak-kusukai-darinya</guid>
      <pubDate>Fri, 24 Sep 2021 15:50:37 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Pertama</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/pertama?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Sini.&#34; tutur Hafidz pelan sembari menepuk bagian kasur di sampingnya. &#xA;&#xA;Maya menggeleng.&#xA;&#xA;&#34;Yaudah, nanti ada setan di situ. Di pojok, di belakang lo persis.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apis jangan gitu ih.&#34; protes Maya.&#xA;&#xA;&#34;Makanya sini, sayaaang.&#34; &#xA;&#xA;Mengalah, Maya beringsut dari sofa di pojok ruangan ke sebelah Hafidz. Hafidz mengubah posisinya, mempersilakan Maya untuk meletakkan kepala di pangkuannya.&#xA;&#xA;&#34;Kita harus ngapain ya?&#34; tanya Maya bingung. &#34;Lo udah nanya Mahes?&#34;&#xA;&#xA;Hafidz menggeleng. &#xA;&#xA;&#34;Ngitung amplop aja yuk. Gabut.&#34; &#xA;&#xA;&#34;May, udahan yuk &#39;lo-gue&#39;nya?&#34; Hafidz bertanya selagi membelai rambut Almaya pelan. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa gitu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngga papa sih, cuma kan kita udah nikah. Kalo pake &#39;lo-gue&#39; terus-terusan takutnya ntar orang ngiranya kita kumpul kebo.&#34;&#xA;&#xA;Maya terkekeh. &#34;Asal banget dah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bercanda sih hehe, tapi mau kan?&#34; ajak Hafidz.&#xA;&#xA;&#34;Yaaaa mau-mau aja sih, tapi udah kebiasa gitu, Pis. Kayak udah keseringan pake &#39;lo-gue&#39; terus tiba-tiba pake aku-kamu, aneh ngga sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngga papa, gue—eh aku juga belom kebiasa. Kita belajar sama-sama aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke, deal.&#34;&#xA;&#xA;Berapa belas detik kemudian, kamar itu hening kembali. Keduanya ini benar-benar tidak tahu harus apa kecuali Hafidz yang sedari tadi tidak berhenti mengelus rambut Maya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu ngga nanya Tasya emang?&#34; Hafidz membuka pembicaraan.&#xA;&#xA;&#34;Nanya apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Waktu kelar nikahan sama Mas Bulan ngapain aja.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku ngga se-kepo itu juga sih..&#34; kilah Maya. &#xA;&#xA;&#34;Tasya juga ngga ngasih wejangan apa-apa gitu?&#34;&#xA;&#xA;Maya menggeleng lagi. &#34;Ngga, dia bilang istirahat aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yaudah, mau tidur?&#34; tukas Hafidz.&#xA;&#xA;&#34;Belom ngantuk sih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku matiin lampunya aja ya? Biar kamu tidur. Capek kan bangun dari jam tiga subuh?&#34;&#xA;&#xA;Glek, Maya menelan ludah cemas. &#34;Ngga usah dimatiin ngga papa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lah? Kamu kan ngga bisa tidur kalo lampunya nyala?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya-yaudah matiin aja deh. Aku nyoba tidur.&#34; kilah Maya pasrah.&#xA;&#xA;Hafidz bergegas menuju saklar dekat kamar mandi, lalu mematikan lampu utama. &#34;Eh, gelap banget ya ternyata. Hehe.&#34;&#xA;&#xA;Entah mengapa tiba-tiba Maya berkeringat dingin, bahkan detak jantungnya semakin cepat seraya Hafidz naik ke atas kasur, berbaring di sebelahnya. Ditambah lampu yang sama sekali tidak temaram, ia memilih untuk menutup matanya.&#xA;&#xA;&#34;AAAAAH!&#34;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#34;APIS JANGAN NINDIHIN RAMBUT GUEEEE, SAKITTTTTT. MINGGIRRRRR!!!!!&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Sini.” tutur Hafidz pelan sembari menepuk bagian kasur di sampingnya.</p>

<p>Maya menggeleng.</p>

<p>“Yaudah, nanti ada setan di situ. Di pojok, di belakang lo persis.”</p>

<p>“Apis jangan gitu ih.” protes Maya.</p>

<p>“Makanya sini, sayaaang.”</p>

<p>Mengalah, Maya beringsut dari sofa di pojok ruangan ke sebelah Hafidz. Hafidz mengubah posisinya, mempersilakan Maya untuk meletakkan kepala di pangkuannya.</p>

<p>“Kita harus ngapain ya?” tanya Maya bingung. “Lo udah nanya Mahes?”</p>

<p>Hafidz menggeleng.</p>

<p>“Ngitung amplop aja yuk. Gabut.”</p>

<p>“May, udahan yuk &#39;lo-gue&#39;nya?” Hafidz bertanya selagi membelai rambut Almaya pelan.</p>

<p>“Kenapa gitu?”</p>

<p>“Ngga papa sih, cuma kan kita udah nikah. Kalo pake &#39;lo-gue&#39; terus-terusan takutnya ntar orang ngiranya kita kumpul kebo.”</p>

<p>Maya terkekeh. “Asal banget dah.”</p>

<p>“Bercanda sih hehe, tapi mau kan?” ajak Hafidz.</p>

<p>“Yaaaa mau-mau aja sih, tapi udah kebiasa gitu, Pis. Kayak udah keseringan pake &#39;lo-gue&#39; terus tiba-tiba pake aku-kamu, aneh ngga sih?”</p>

<p>“Ngga papa, gue—eh aku juga belom kebiasa. Kita belajar sama-sama aja.”</p>

<p>“Oke, deal.”</p>

<p>Berapa belas detik kemudian, kamar itu hening kembali. Keduanya ini benar-benar tidak tahu harus apa kecuali Hafidz yang sedari tadi tidak berhenti mengelus rambut Maya.</p>

<p>“Kamu ngga nanya Tasya emang?” Hafidz membuka pembicaraan.</p>

<p>“Nanya apa?”</p>

<p>“Waktu kelar nikahan sama Mas Bulan ngapain aja.”</p>

<p>“Aku ngga se-kepo itu juga sih..” kilah Maya.</p>

<p>“Tasya juga ngga ngasih wejangan apa-apa gitu?”</p>

<p>Maya menggeleng lagi. “Ngga, dia bilang istirahat aja.”</p>

<p>“Yaudah, mau tidur?” tukas Hafidz.</p>

<p>“Belom ngantuk sih.”</p>

<p>“Aku matiin lampunya aja ya? Biar kamu tidur. Capek kan bangun dari jam tiga subuh?”</p>

<p><em>Glek</em>, Maya menelan ludah cemas. “Ngga usah dimatiin ngga papa.”</p>

<p>“Lah? Kamu kan ngga bisa tidur kalo lampunya nyala?”</p>

<p>“Ya-yaudah matiin aja deh. Aku nyoba tidur.” kilah Maya pasrah.</p>

<p>Hafidz bergegas menuju saklar dekat kamar mandi, lalu mematikan lampu utama. “Eh, gelap banget ya ternyata. Hehe.”</p>

<p>Entah mengapa tiba-tiba Maya berkeringat dingin, bahkan detak jantungnya semakin cepat seraya Hafidz naik ke atas kasur, berbaring di sebelahnya. Ditambah lampu yang sama sekali tidak temaram, ia memilih untuk menutup matanya.</p>

<p>“AAAAAH!”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“APIS JANGAN NINDIHIN RAMBUT GUEEEE, SAKITTTTTT. MINGGIRRRRR!!!!!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/pertama</guid>
      <pubDate>Tue, 31 Aug 2021 11:53:15 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Dari Mata Seorang Ibu</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/dari-mata-seorang-ibu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sarah tidak lekas mandi setelah diantar Rega menuju kamarnya. Wajah sembabnya pun tak kunjung ia basuh. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana ia dapat menghubungi mantan suaminya segera. &#xA;&#xA;&#34;Gimana? Dapet nomernya?&#34; sambut Sarah.&#xA;&#xA;&#34;Dapet, bu. Katanya ini nomor paling barunya, semoga aja bisa dihubungi ya, bu.&#34; seru seseorang di ujung telepon.&#xA;&#xA;&#34;Tolong kirimin ke saya ya, sekarang juga. Makasih, kamu boleh istirahat.&#34;&#xA;!--more--&#xA;Sarah menutup telepon dari asistennya, lalu memandang pantulan dirinya di cermin hotel. Wajahnya yang berkerut di beberapa bagian, ditambah maskara yang setengah luntur setelah menangis tadi, Sarah sadar ia tak lagi muda. Sarah sudah melalui banyak hal dengan banyak rasa.&#xA;&#xA;Dua puluh lima tahun yang lalu cukup berat bagi Sarah. Belum sempurna kering jahitan pasca melahirkan, ia harus kembali berjuang seorang diri mengurus buah hatinya. Suaminya pergi tanpa pamit, meninggalkan dua perempuan yang saat itu kebingungan harus berbuat apa. Kala itu, dirinya berjanji akan menjadi Sarah yang seribu kali lebih baik dari hari itu demi berliannya, Almaya. &#xA;&#xA;Terkadang, Ayah dan Ibu Sarah datang ke rumah untuk membantu menjaga Almaya. Namun, ada masanya orang tua Sarah tak lagi mampu bepergian karena usia. Sejak itu, Sarah memutuskan untuk menggunakan jasa Asisten Rumah Tangga untuk menjaga Almaya selagi dirinya bekerja. Hari-hari ia lalui dengan atau tanpa bertemu anak semata wayangnya. Karier benar-benar mendominasi hidup Sarah sejak hari itu, hingga tanpa ia sadari Almaya bukan lagi anak berumur tiga tahun yang masih menangis jika boneka kesayangannya tidak ada di tempat tidurnya. &#xA;&#xA;Tersadar dari lamunannya, Sarah segera menyeka air mata di kedua pipinya. Lagi-lagi tangannya kini sibuk menekan layar gawainya hingga terdengar nada tunggu. Sarah menelfon seseorang.&#xA;&#xA;&#34;Halo, ini siapa ya?&#34;&#xA;&#xA;Suara itu.&#xA;&#xA;&#34;Haris, ini saya, Sarah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sarah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, Sarah Ratnadia. Atau kamu lupa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya ngga mungkin lupa, Sarah.&#34; ujarnya diikuti gelak tawa kecil. &#34;Sudah lama kamu ngga hubungin saya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya ngga punya waktu untuk bahas itu, Haris.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, iya. Sarah Ratnadia, wanita karier super mega sibuk yang masuk jajaran 10 orang berpengaruh di bid—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Besok Almaya nikah.&#34; potong Sarah.&#xA;&#xA;&#34;Almaya?&#34; &#xA;&#xA;Sarah berdecak, ia sama sekali tak heran. &#34;Anak kamu, kalau kamu lupa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Menikah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Besok pagi. Jam 7 di Hotel Mulia. Almaya minta kamu jadi wali nikah.&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada jawaban.&#xA;&#xA;&#34;Saya harap kamu bisa datang, Haris. Ini terakhir kali saya akan minta tolong, berharap dan memohon ke kamu. Tolong, demi Almaya.&#34;&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;&#34;Saya pikir cukup kejadian itu menyakiti Almaya sepanjang hidupnya. Ini permintaan dia, saya mohon bantu saya penuhi permintaan Almaya.&#34; rintih Sarah. &#34;Anak itu masih dan akan selalu ingat ayahnya bahkan ketika ia menikah. Bahkan ketika ayahnya lupa siapa namanya.&#34;&#xA;&#xA;Haris benar-benar tidak menjawab.&#xA;&#xA;&#34;Saya tunggu kamu, Haris. Terima kasih.&#34;&#xA;&#xA;Sarah menutup sambungannya segera, lalu beralih menuliskan pesan pada seseorang yang lain.&#xA;&#xA;  Tasya, mayanya sudah tidur kah?&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Makasih ya Tasya udah nemenin Maya. Tasya boleh istirahat kok, gantian tante yang nemenin Maya.&#34; ujar Sarah.&#xA;&#xA;Tasya mengangguk. &#34;Sama-sama tante, ini tanggung jawab Tasya juga buat jagain Maya. Tante juga jangan lupa istirahat ya. Duluan, tante.&#34;&#xA;&#xA;Dari sudut matanya, Sarah melihat Maya sudah meringkuk di ranjang. Sarah tertawa kecil, Maya benar-benar persis saat seperti masih bayi. Dibelainya rambut semata wayangnya itu, lekat-lekat ia pandangi wajahnya.&#xA;&#xA;&#34;Ya.. Geulis.. Kamu cepet banget gedenya, nak. Mama inget dulu Maya suka main sama boneka-boneka Maya karena Maya sendirian di rumah, Maya juga suka nyanyi-nyanyi di ayunan, kadang juga iseng manggilin tukang roti keliling, terus kamu beli bola-bola cokelatnya.  Kayaknya baru kemarin mama ngelahirin kamu, eh, sekarang kamunya udah mau nikah, May. Cepet banget. Kalo bisa, mama teh mau balik lagi ngurusin Maya kecil.&#34; gumam Sarah. Setengah menangis setengah tertawa.&#xA;&#xA;&#34;Nak, maafin mama ya. Maaf mama terlalu sibuk, sampe kadang ngga bisa nemenin Maya. Padahal harusnya Maya paling butuh ditemenin, ya kan? Maaf, nak.. Mama pingiiiiiin banget ngulang waktu, ngurusin Maya lagi, nemenin Maya, ngajarin Maya, liat tumbuh kembang Maya dengan detail. Mama tuh kayak ngga sadar, May, tiba-tiba kamu udah segede ini. Kamu udah jadi wanita cantik, pintar, berpendidikan, baik hati, kuat pula. &#xA;&#xA;Maaf mama egois, nak. Mama sadar mama salah, mama melewatkan waktu-waktu terbaik mama, mama melewatkan waktu-waktu bertumbuh bersama anak mama satu-satunya, berlian mama, cinta hati mama, hidup mama. Mama kehilangan itu semua, nak. Hal yang ngga akan pernah dan mampu tergantikan oleh apa pun. Mama rela bayar berapapun jumlahnya kalau itu bisa mengulang waktu kita berdua, nak..&#xA;&#xA;Jujur nak, berat sekali melepas kamu menikah. Tapi mama percaya, Hafidz lelaki baik yang bisa bikin anak mama bahagia, mama percaya Hafidz bisa jaga Maya lebih baik dari yang mama lakukan. Mama yakin Hafidz ngga akan bikin kamu merasakan apa yang mama rasakan dulu. &#xA;&#xA;Maya, selamanya kamu akan jadi gadis kecil mama. Selamanya kamu akan jadi hidup mama, nak. Terima kasih sudah jadi anak mama, terima kasih kamu tidak pernah membenci mama, terima kasih sudah tumbuh jadi anak baik, terima kasih sudah memberi kesempatan untuk mama membesarkan seorang putri, mama beruntung sekali punya Maya di hidup mama. Terima kasih ya, sayang. Kelak kamu akan jadi ibu yang baik, ibu yang hebat, ibu yang pintar, ibu yang dicintai anak-anaknya, ya nak.&#34;&#xA;&#xA;Sarah menyeka pilu yang berjatuhan dengan lega, seperti tak ada lagi yang mengganjal di sudut hatinya. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan di sunyinya malam, hanya berdua dengan gadis kecilnya. &#xA;&#xA;Sarah boleh gagal, namun tidak bagi permatanya.&#xA;&#xA;Sarah boleh tak punya apa-apa, namun dunia dan seisinya bagi gadis kecilnya.&#xA;&#xA;Sarah boleh menangis, namun tak lagi bagi buah hatinya.&#xA;&#xA;Cukup. Almaya harus bahagia sebagaimana mestinya.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Sarah tidak lekas mandi setelah diantar Rega menuju kamarnya. Wajah sembabnya pun tak kunjung ia basuh. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana ia dapat menghubungi mantan suaminya segera.</p>

<p>“Gimana? Dapet nomernya?” sambut Sarah.</p>

<p>“<em>Dapet, bu. Katanya ini nomor paling barunya, semoga aja bisa dihubungi ya, bu</em>.” seru seseorang di ujung telepon.</p>

<p>“Tolong kirimin ke saya ya, sekarang juga. Makasih, kamu boleh istirahat.”

Sarah menutup telepon dari asistennya, lalu memandang pantulan dirinya di cermin hotel. Wajahnya yang berkerut di beberapa bagian, ditambah maskara yang setengah luntur setelah menangis tadi, Sarah sadar ia tak lagi muda. Sarah sudah melalui banyak hal dengan banyak rasa.</p>

<p>Dua puluh lima tahun yang lalu cukup berat bagi Sarah. Belum sempurna kering jahitan pasca melahirkan, ia harus kembali berjuang seorang diri mengurus buah hatinya. Suaminya pergi tanpa pamit, meninggalkan dua perempuan yang saat itu kebingungan harus berbuat apa. Kala itu, dirinya berjanji akan menjadi Sarah yang seribu kali lebih baik dari hari itu demi berliannya, Almaya.</p>

<p>Terkadang, Ayah dan Ibu Sarah datang ke rumah untuk membantu menjaga Almaya. Namun, ada masanya orang tua Sarah tak lagi mampu bepergian karena usia. Sejak itu, Sarah memutuskan untuk menggunakan jasa Asisten Rumah Tangga untuk menjaga Almaya selagi dirinya bekerja. Hari-hari ia lalui dengan atau tanpa bertemu anak semata wayangnya. Karier benar-benar mendominasi hidup Sarah sejak hari itu, hingga tanpa ia sadari Almaya bukan lagi anak berumur tiga tahun yang masih menangis jika boneka kesayangannya tidak ada di tempat tidurnya.</p>

<p>Tersadar dari lamunannya, Sarah segera menyeka air mata di kedua pipinya. Lagi-lagi tangannya kini sibuk menekan layar gawainya hingga terdengar nada tunggu. Sarah menelfon seseorang.</p>

<p>“<em>Halo, ini siapa ya?</em>“</p>

<p>Suara itu.</p>

<p>“Haris, ini saya, Sarah.”</p>

<p>“<em>Sarah?</em>“</p>

<p>“Iya, Sarah Ratnadia. Atau kamu lupa?”</p>

<p>“<em>Saya ngga mungkin lupa, Sarah.</em>” ujarnya diikuti gelak tawa kecil. “<em>Sudah lama kamu ngga hubungin saya.</em>“</p>

<p>“Saya ngga punya waktu untuk bahas itu, Haris.”</p>

<p>“<em>Ah, iya. Sarah Ratnadia, wanita karier super mega sibuk yang masuk jajaran 10 orang berpengaruh di bid—</em>“</p>

<p>“Besok Almaya nikah.” potong Sarah.</p>

<p>“<em>Almaya?</em>“</p>

<p>Sarah berdecak, ia sama sekali tak heran. “Anak kamu, kalau kamu lupa.”</p>

<p>“<em>Menikah?</em>“</p>

<p>“Besok pagi. Jam 7 di Hotel Mulia. Almaya minta kamu jadi wali nikah.”</p>

<p>Tidak ada jawaban.</p>

<p>“Saya harap kamu bisa datang, Haris. Ini terakhir kali saya akan minta tolong, berharap dan memohon ke kamu. Tolong, demi Almaya.”</p>

<p>Hening.</p>

<p>“Saya pikir cukup kejadian itu menyakiti Almaya sepanjang hidupnya. Ini permintaan dia, saya mohon bantu saya penuhi permintaan Almaya.” rintih Sarah. “Anak itu masih dan akan selalu ingat ayahnya bahkan ketika ia menikah. Bahkan ketika ayahnya lupa siapa namanya.”</p>

<p>Haris benar-benar tidak menjawab.</p>

<p>“Saya tunggu kamu, Haris. Terima kasih.”</p>

<p>Sarah menutup sambungannya segera, lalu beralih menuliskan pesan pada seseorang yang lain.</p>

<blockquote><p>Tasya, mayanya sudah tidur kah?</p></blockquote>

<hr/>

<p>“Makasih ya Tasya udah nemenin Maya. Tasya boleh istirahat kok, gantian tante yang nemenin Maya.” ujar Sarah.</p>

<p>Tasya mengangguk. “Sama-sama tante, ini tanggung jawab Tasya juga buat jagain Maya. Tante juga jangan lupa istirahat ya. Duluan, tante.”</p>

<p>Dari sudut matanya, Sarah melihat Maya sudah meringkuk di ranjang. Sarah tertawa kecil, Maya benar-benar persis saat seperti masih bayi. Dibelainya rambut semata wayangnya itu, lekat-lekat ia pandangi wajahnya.</p>

<p>“Ya.. Geulis.. Kamu cepet banget gedenya, nak. Mama inget dulu Maya suka main sama boneka-boneka Maya karena Maya sendirian di rumah, Maya juga suka nyanyi-nyanyi di ayunan, kadang juga iseng manggilin tukang roti keliling, terus kamu beli bola-bola cokelatnya.  Kayaknya baru kemarin mama ngelahirin kamu, eh, sekarang kamunya udah mau nikah, May. Cepet banget. Kalo bisa, mama <em>teh</em> mau balik lagi ngurusin Maya kecil.” gumam Sarah. Setengah menangis setengah tertawa.</p>

<p>“Nak, maafin mama ya. Maaf mama terlalu sibuk, sampe kadang ngga bisa nemenin Maya. Padahal harusnya Maya paling butuh ditemenin, ya kan? Maaf, nak.. Mama pingiiiiiin banget ngulang waktu, ngurusin Maya lagi, nemenin Maya, ngajarin Maya, liat tumbuh kembang Maya dengan detail. Mama tuh kayak ngga sadar, May, tiba-tiba kamu udah segede ini. Kamu udah jadi wanita cantik, pintar, berpendidikan, baik hati, kuat pula.</p>

<p>Maaf mama egois, nak. Mama sadar mama salah, mama melewatkan waktu-waktu terbaik mama, mama melewatkan waktu-waktu bertumbuh bersama anak mama satu-satunya, berlian mama, cinta hati mama, hidup mama. Mama kehilangan itu semua, nak. Hal yang ngga akan pernah dan mampu tergantikan oleh apa pun. Mama rela bayar berapapun jumlahnya kalau itu bisa mengulang waktu kita berdua, nak..</p>

<p>Jujur nak, berat sekali melepas kamu menikah. Tapi mama percaya, Hafidz lelaki baik yang bisa bikin anak mama bahagia, mama percaya Hafidz bisa jaga Maya lebih baik dari yang mama lakukan. Mama yakin Hafidz ngga akan bikin kamu merasakan apa yang mama rasakan dulu.</p>

<p>Maya, selamanya kamu akan jadi gadis kecil mama. Selamanya kamu akan jadi hidup mama, nak. Terima kasih sudah jadi anak mama, terima kasih kamu tidak pernah membenci mama, terima kasih sudah tumbuh jadi anak baik, terima kasih sudah memberi kesempatan untuk mama membesarkan seorang putri, mama beruntung sekali punya Maya di hidup mama. Terima kasih ya, sayang. Kelak kamu akan jadi ibu yang baik, ibu yang hebat, ibu yang pintar, ibu yang dicintai anak-anaknya, ya nak.”</p>

<p>Sarah menyeka pilu yang berjatuhan dengan lega, seperti tak ada lagi yang mengganjal di sudut hatinya. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan di sunyinya malam, hanya berdua dengan gadis kecilnya.</p>

<p>Sarah boleh gagal, namun tidak bagi permatanya.</p>

<p>Sarah boleh tak punya apa-apa, namun dunia dan seisinya bagi gadis kecilnya.</p>

<p>Sarah boleh menangis, namun tak lagi bagi buah hatinya.</p>

<p>Cukup. Almaya harus bahagia sebagaimana mestinya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ceritafiksi.writeas.com/dari-mata-seorang-ibu</guid>
      <pubDate>Sun, 29 Aug 2021 10:14:40 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Aku Mau Satu</title>
      <link>https://ceritafiksi.writeas.com/aku-mau-satu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Maya terduduk di pinggir ranjang. Ritme napasnya tidak beraturan, tubuhnya jelas menunjukkan bahwa ia gelisah. Sudah sebulan lebih ia berusaha mencari informasi tentang keberadaan ayahnya. Sayang, hasilnya nihil, bahkan hingga malam sebelum ijab kabul dilaksanakan.&#xA;&#xA;“May, makan dulu plis.” pinta Inas yang sedari tadi menyodorkan kotak makan.&#xA;&#xA;“Iya ih, makan dulu. Lo boleh sedih, tapi harus tetep makan lah.” imbuh Tasya. Wajahnya tampak cemas.&#xA;!--more--&#xA;Kedua teman sebaya Maya itu berdiri di depannya dengan khawatir, sementara Dila, istri Mahesa, membelai punggung Maya pelan.&#xA;&#xA;“Gue ngga mau makan sebelum papa bales chat gue.”&#xA;&#xA;Dila menghela napas panjang. “Ngga ada salahnya makan dulu, May. Kamu butuh energi.”&#xA;&#xA;“Aku cukup energinya dari emosi kok.” bantah Maya.&#xA;&#xA;Kali ini bukan hanya Dila yang menghela napas panjang, melainkan Tasya dan Inas juga menghela napas super panjang. Tabiat buruk Maya—keras kepala—ini cukup membahayakan di situasi genting. Acara akad nikah benar-benar dilaksanakan besok pagi, namun belum ada satupun makanan yang masuk ke perutnya sejak tadi pagi.&#xA;&#xA;“Kak, gimana? Ini anaknya bisa pingsan kalo gini terus.” bisik Inas ke Dila.&#xA;&#xA;